
Sambil menangis, Vierra merobek foto dan membakarnya di halaman belakang rumah. Hampir semua foto kenangannya dengan Juna habis tak terisa. Dia hanya menyisakan 1 foto berukuran kecil yang dia simpan di balik case ponselnya. Foto itu di ambil sekitar 2 bulan lalu ketika pergi ke pantai.
"Kamu nggak pernah tau bagaimana sulitnya aku berdamai dengan keadaan dan menghilangkan trauma ketika melihat laki-laki di luar sana." Lirih Vierra di tengah isak tangisnya. Gadis itu bersimpuh di rerumputan, terisak tanpa suara sambil memeluk lututnya.
Lebih dari 1 tahun dia berjuang mengobati trauma. Setiap hari berurusan dengan dokter dan psikolog, hanya untuk menyembuhkan luka psikis dan menghilangkan rasa trauma terhadap laki-laki. Sebab sejak kejadian malang itu menimpanya, Vierra selalu ketakutan melihat laki-laki. Dia mengurung diri di rumah dan memilih kuliah online dengan bimbingan dosen wanita tentunya.
Vierra telah berjuang keras, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Mereka berjuang demi bisa mendapatkan hukuman yang sepadan untuk para pelaku. Pada akhirnya perjuangan kedua orang tua Vierra tidak sia-sia, sebab para pelaku sudah dijatuhi hukuman mati. Sebagai orang tua, tentu siapapun tidak akan membiarkan para pelaku pe lece han tetap hidup walaupun di dalam penjara. Hukum mati adalah hukuman yang paling pantas diberikan pada para pelaku karna telah menghancurkan masa depan seseorang.
Perlahan Vierra beranjak dari halaman belakang rumahnya. Tempat pembakaran foto-foto sudah paham, bersamaan perasaannya terhadap Juna yang berusaha keras ikut dipadamkan. Dia telah kehilangan sosok laki-laki yang menurutnya baik setelah Papanya sendiri. Disaat semua laki-laki terlihat jahat di mata Vierra, hanya Juna yang mampu mengubah pandangan buruk itu. Hanya dengan Juna, Vierra melupakan traumanya.
Dimata Vierra, Juna satu-satunya laki-laki yang memiliki perasaan tulus padanya. Saking tulusnya, Juna selama ini berusaha menjaganya tanpa pernah berbuat buruk padanya.
"Bagaimana bisa kamu begitu mudah melepaskanku." Vierra tersenyum kecut sembari menghapus air matanya. Setelah kejadian ini, mungkin Vierra akan trauma lagi pada laki-laki, namun dengan permasalahan yang berbeda. Trauma menjalin hubungan dengan pria karna takut ditinggalkan disaat seluruh hatinya telah dimiliki.
...******...
Satu minggu berlalu,,
Siang itu Shaka harus membatalkan meeting yang baru akan di mulai. Shaka bergegas meninggalkan ruangan setelah menerima telfon dari asisten rumah tangganya dan melaporkan kalau Jihan sedang di bawa ke rumah sakit karna akan segera melahirkan.
Sementara itu, Jihan sedari tadi meringis kesakitan sambil mencengkram kursi mobil di depannya. Sakit akibat kontraksi membuat Jihan meneteskan air mata tanpa suara. Jihan baru bisa mengerti bagaimana perjuangan seorang wanita yang akan melahirkan. Rasanya tidak sesederhana yang dia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
"Tahan ya Non, sebentar lagi sampai." Ucap Bik Susi. Wanita paruh baya itu tampak cemas melihat majikannya menahan sakit. Jihan hanya mengangguk.
Jarak rumah sakit dengan perusahaan Shaka lebih dekat di banding jarak dari rumah, Shaka sampai 5 menit lebih dulu sebelum Jihan. Pria itu dengan sigap menghampiri mobil yang membawa istrinya.
Shaka membukakan pintu, kemudian memapah Jihan keluar dari mobil dengan hati-hati. Pria itu semakin panik ketika melihat raut wajah Jihan tampak kesakitan.
Dengan sedikit membentak, Shaka menyuruh perawat mengambilkan kursi roda. Sebab beberapa perawat malah bengong memperhatikan dia dan Jihan. Salah satu di antara mereka setengah berlari mendorong kursi roda menghampiri Jihan.
"Nggak usah Mas, aku masih kuat jalan." Tolak Jihan pada Shaka.
"Menurut saja, kamu terlihat kesakitan seperti itu." Shaka mengarahkan Jihan supaya duduk di kursi roda. Jihan tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah Shaka.
"Mas Shaka yakin mau nemenin aku lahiran.? Kalau nggak kuat liat darah, mending tunggu diluar saja daripada kenapa-napa. Aku nggak masalah sendirian." Untuk kedua kalinya Jihan memastikan apakah Shaka benar-benar ingin menemaninya ketika proses melahirkan. Bukannya tidak mau di temani suami ketika melahirkan, justru Jihan berharap Shaka bisa melihat perjuangannya ketika melahirkan anak mereka. Tapi mengingat suaminya itu takut darah, Jihan jadi takut. Takut tiba-tiba Shaka pingsan. Yang ada malah mengganggu proses persalinannya.
"Aku nggak selemah itu Jihan.!" Gerutu Shaka. Padahal dia pernah pingsan ketika melihat banyak darah, tapi tidak terima ketika Jihan khawatir padanya. Jelas karna gengsi. Selain itu, Shaka merasa bahwa dia merasa punya tanggungjawab untuk menemani Jihan ketika melahirkan.
Jihan tidak mendebat lagi ketika Shaka bersikeras menemaninya.
...******...
Di luar ruangan, ada kedua orang tua Shaka, Mama Dewi dan Juna yang tampak tegang menunggu kelahiran cucu dan ponakannya. Mama Dewi terlihat beberapa kali mondar-mandir di depan pintu. Ada perasaan bahagia dan khawatir yang menyelimuti hati wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Mama jangan mondar-mandir terus, Juna jadi pusing liatnya. Ayo duduk,," Juna merangkul Mama Dewi, sedikit memaksa agar mau duduk di kursi.
"Jihan dan cucu kita pasti baik-baik saja, jangan khawatir." Kata Mama Sonia yang duduk di sebelah besannya.
Dalam suana menegangkan itu, ada hati yang sedang terluka karna sudah 1 minggu tidak bisa menghubungi Vierra. Ya, Juna kehilangan kontak, bahkan kehilangan informasi tentang gadis itu.
Rumah milik Vierra juga sudah di tinggalkan oleh semua pemiliknya sejak 1 minggu yang lalu. Ternyata bukan hanya Vierra yang pergi ke luar negeri, tapi semua keluarganya pindah entah kemana. Vierra benar-benar pergi dari kehidupan Juna, seperti janjinya pada malam itu.
Kepergian Vierra bukan hanya meninggalkan kenangan dan kecewa, tapi juga meninggalkan rasa bersalah dalam diri Juna.
...*****...
Jihan mendengus kesal. Sudah di bilang tidak usah menemaninya, tapi tetap memaksa. Sekarang Shaka malah menyusahkan para perawat karna pingsan bersamaan dengan lahirnya putri pertama mereka. Kalau sudah seperti ini, orang lain juga yang repot.
Sepertinya momen bahagia dan haru saat melahirkan anak pertama mereka tidak akan terlupakan dengan adanya tragedi itu. Para tenaga medis jadi kewalahan. Harusnya mereka mengurus bayi yang baru lahir, tapi jadi mengurus Shaka.
1 jam setelah melahirkan, Jihan dan bayinya di pindahkan ke kamar perawatan. Semua orang terlihat bahagia menyambut kedatangan anggota baru dalam keluarga mereka. Tasya dan Azura juga sudah datang 30 menit yang lalu. Kamar VVIP itu cukup ramai dan selimuti aura kebahagiaan.
"Badan saja yang gede tinggi, baru lihat darah sudah terkapar." Ejek Jihan pada Shaka.
Pria yang tengah duduk di samping ranjang pasien itu tampak pasrah ketika di ejek Jihan berkali-kali. Mungkin malu juga kalau menyangkal. Jangankan menyangkal, membayangkan saat kejadian saja sudah membuat Shaka malu setengah mati.
__ADS_1