
Pertahanan Jihan kembali runtuh untuk kesekian kalinya. Awalnya menolak, Lama-lama menikmati juga. Entah karna termakan rayuan Shaka, atau sebenarnya sudah ketagihan batang berurat yang ukurannya di atas rata-rata. Hanya Jihan saja yang tau.
Kini keduanya sedang mandi setelah melakukan ritual jungkat-jungkit. Mandi bersama juga bukan hal yang tabu lagi bagi pasangan suami istri itu. Jihan cuek saja walaupun tidak memakai apapun di depan Shaka. Karna sudah terlalu sering tubuhnya di bolak-balik dalam keadaan polos. Mau malu juga percuma, Shaka sudah melihat lekuk tubuhnya dari ujung kaki sampai kepala.
"Kenapa harus membuat tanda disini.?!Menyebalkan." Gerutu Jihan sambil menggosok tanda kepemilikan menggunakan sabun di lehernya. Berharap ruam merah di lehernya bisa hilang, tapi percuma saja.
"Saya nggak sadar. Kalau lagi enak, nggak bisa nentuin mau membuat tanda di mana. Kebetulan leher kamu paling dekat dengan bibir saya." Jawab Shaka enteng. Jihan melirik malas, lalu buru-buru menyelesaikan mandinya.
Melihat Jihan sudah selesai mandi, Shaka juga ikut-ikutan. Dia mengekori Jihan yang keluar dari kamar mandi.
"Pulangnya nanti dulu, kita belum makan siang. Makanannya sebentar lagi di antar." Ujar Shaka memberi tau. Sebenarnya sudah lewat 2 jam dari jam makan siang. Saking asiknya main jungkat-jungkit dan dokter-dokteran, mereka sampai lupa waktu.
Jihan tidak membantah. Pasti karna perutnya juga keroncongan setelah membakar ratusan kalori dan mengeluarkan banyak tenaga. Untuk mengimbangi permainan Shaka, Jihan memang diharuskan punya tenaga dalam supaya tidak kalah telak.
Saat ini dua manusia gengsian itu sedang menikmati makan siang yang kesiangan di balkon kamar hotel. Sambil menikmati pemandangan Ibu Kota dari gedung lantai 60.
Jihan makan dengan lahap. Dua menu yang dipilihkan Shaka sampai habis tanpa sisa. Termasuk minumannya. Bisa dibayangkan seperti apa lelahnya Jihan sampai terlihat kelaparan seperti itu. Cara makan Jihan tidak ada anggun-anggunnya sama sekali, melainkan bar-bar.
"Masih lapar.?" Tanya Shaka. Pria itu bukannya ilfil melihat cara makan Jihan, yang ada malah kasihan dan merasa bersalah. Sebab, Jihan sampai telat makan gara-gara dia.
"Sudah kenyang, sekarang malah ngantuk." Sahutnya sembari menyenderkan punggung ke sandaran kursi. Jihan mengusap-usap perutnya yang sedikit lebih buncit setelah menghabiskan banyak makanan.
Shaka mengamati gerakan tangan Jihan yang sedang mengusap perut. Tiba-tiba sudut bibirnya terangkat. Ada makna dibalik senyum miringnya.
Jihan mungkin lupa, atau karna terlalu menikmati permainan, jadi tidak sadar kalau Shaka membuangnya di dalam saat bercinta tadi.
__ADS_1
"Tidur di kamar saja kalau ngantuk, kita bisa pulang nanti malam. Mama sudah tau kita sedang di hotel, katanya nggak masalah kalau ke salonnya besok pagi." Tutur Shaka.
Jihan manggut-manggut saja dengan keadaan mata terpejam. Sepertinya sudah mengantuk berat, jadi malas menanggapi obrolan Shaka.
"Nanti kita cari rumah untuk di tempati Mama dan Juna. Jangan tinggal di gang sempit itu lagi. Mobil saja nggak bisa masuk, bikin orang repot saja kalau mau datang." Cerocos Shaka. Mendadak pria kaku dan dingin itu jadi banyak bicara setiap kali sedang bersama Jihan. Apa saja dibicarakan untuk membuka obrolan dengan Jihan.
"Hemm,, terserah Pak Shaka saja." Jawab Jihan setengah sadar. Tapi detik berikutnya dia membuka mata dan tampak terkejut.
"Rumah.? Rumah apa.?" Tanyanya heran.
"Beli rumah. Kamu nggak pengen Mama sama adik kamu tinggal di rumah yang lebih baik.?" Tanya Shaka.
"Uang saya belum cukup Pak,," Jawab Jihan cepat.
"Panggil Mas, Jihan.! Jangan Pak." Protes Shaka. Jihan mencebik kesal.
"Saya memang pegang uang 500 juta waktu itu, 200 juta sudah dipakai untuk operasi Mama. Sisanya saya pakai untuk melunasi biaya kuliah Juna. Uangnya nggak akan cukup kalau buat beli rumah di Ibu kota, kecuali kalau saja pindah ke kampung." Tutur Jihan menjelaskan.
Tadinya dia juga berfikir ingin membeli rumah. Tapi uang 250 juta pasti hanya dapat rumah petak, lebih kecil dari rumah yang Jihan sewa saat ini. Jadi Jihan menyimpan saja uang itu untuk keperluan lainnya yang mungkin tidak terduga.
"Saya nggak nyuruh kamu beli pakai uang itu. Saya yang mau belikan, kita cari sama-sama rumahnya." Ucap Shaka dengan ekspresi serius. Jihan sampai mengerutkan kening, menatap Shaka penuh curiga. Kalau sudah seperti ini, pasti ada udang di balik batu.
"Pasti ada maunya kan.? Kenapa sekarang jadi baik seperti ini." Tuduh Jihan yakin. Ini bukan Shaka yang Jihan kenal pertama kali. Pria itu makin lama malah sering menunjukkan kepeduliannya pada keluarga Jihan, wajar kalau Jihan curiga.
"Hemm. Kamu saja yang nggak peka." Jawab Shaka. Dia tidak menyangkal tuduhan Jihan, karna kenyataan memang seperti itu. Shaka perlahan ingin menarik hati Jihan dan keluarganya.
__ADS_1
"Ckk,, Saya harus peka bagaimana.? Mas aja nggak pernah bilang apa-apa. Memangnya ada tujuan apa.?" Cecar Jihan.
Shaka malah diam, Lagi-lagi gengsi membuat mulutnya terkunci rapat. Susah sekali mengungkapkan pada Jihan kalau dia ingin mengakhiri kontrak dan sungguh-sungguh menjalani pernikahan tanpa ada perjanjian apapun.
"Masih ada waktu, kita bisa cari rumah sekarang." Kata sambil beranjak dari duduknya setelah melihat jam. Jihan jadi cemberut karna Shaka tidak menjawab pertanyaannya.
...******...
Shaka membawa Jihan ke salah satu perumahan baru. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus Juna. Kawasan perumahan itu untuk kalangan menengah ke atas, yang pastinya dijual dengan harga diatas 2 milyar.
"Pokoknya saya nggak mau terima rumah ini sebelum Mas kasih tau tujuannya apa.!" Tegas Jihan. Dia tidak mau gegabah menerima rumah dari Shaka tanpa tau maksud yang sebenarnya.
"Nanti saya tau kalau kita sudah pulang. Sekarang kamu tanda tangani dulu surat serah terimanya. Rumah ini atas nama kamu, jadi harus kamu yang tanda tangan." Shaka kesulitan sendiri membujuk Jihan untuk tanda tangan. Coba saja kalau dia jujur, lalu mengungkapkan perasaannya dan meyakinkan Jihan. Pasti tidak akan sesulit ini untuk mendapatkan tanda tangan Jihan.
...******...
Shaka tidak bisa membujuk Jihan kali ini. Jadi keduanya pulang tanpa menandatangani surat serah terima kepemilikan rumah.
"Kalian sudah pulang.? Mama pikir kalian mau menginap di hotel." Mama Sonia menghampiri menantunya yang berjalan mendahului Shaka.
"Jihan cuma temenin Mas Shaka ketemu klien di hotel." Ujar Jihan. Mama Sonia hanya mengulum senyum simpul karna sudah di beri tau Shaka kalau dia dan Jihan sedang membuatkan cucu untuknya. Menantunya mungkin malu, jadi tidak jujur.
"Ya sudah kamu istirahat saja di kamar, kamu kelihatan sangat lelah." Mama Sonia mengusap-usap punggung Jihan. Wanita itu hanya tersenyum ramah pada Mama mertuanya.
"Jihan ke kamar dulu ya Mah,," Pamitnya. Mama Sonia membiarkan menantunya pergi ke lantai atas, tapi dia menahan putranya karna kepo.
__ADS_1
"Jadi bagaimana.? Kapan Jihan hamil.?" Tanyanya.
"Tunggu saja 2 atau 3 minggu lagi, Mama pasti akan dengar kabar baik." Jawab Shaka yakin.