
Shaka menyusul Jihan masuk ke dalam kamar belakang. Kamar ketiga di rumah Mama Dewi yang sesekali di tempati mereka jika menginap di sana. Beberapa bulan lalu ketika membelikan rumah untuk Mama Dewi dan Juna, Jihan menerima sedikit bantuan dari Shaka hingga bisa membeli rumah dengan 3 kamar tidur.
Shaka menutup pintu kamar tanpa menguncinya, dia menghampiri Jihan yang duduk di tepi ranjang.
"Mas Shaka nggak berniat memanjakan Juna lagi dengan menjanjikan sesuatu padanya kan.?" Ujar Jihan dengan tatapan curiga. Sepertinya Jihan masih memikirkan obrolan apa yang terjadi antara Shaka dan Juna di taman depan rumah.
"Jujur aku nggak suka Mas Shaka terlalu baik sama Juna. Kalau sama Mama it's oke, justru aku senang."
"Aku khawatir lama kelamaan Juna akan punya pikiran untuk memanfaatkan. Dia belum terlalu dewasa untuk menyikapi kebaikan Mas Shaka."
"Sekarang aku tanya, berapa uang yang Mas Shaka kirim untuk Juna setiap bulannya.? Aku bahkan nggak di kasih tau nominalnya. Mas Shaka hanya bilang uang itu cuma cukup untuk jajan Juna. Tapi ukuran uang jajan Mas Shaka pasti nggak sedikit kan.?"
Jihan terus bicara panjang lebar tanpa memberikan kesempatan Shaka untuk menjawab satu persatu pertanyaannya. Dia mengungkapkan kekhawatiran dan unek-uneknya yang belum sempat diungkapkan semuanya di depan Shaka.
"Aku nggak menjanjikan apapun pada Juan, obrolan tadi hanya urusan laki-laki, nggak ada hubungannya dengan uang atau apapun. Kamu jangan salah paham." Ujar Shaka menyangkal kecurigaan Jihan terhadapnya.
Shaka kemudian menyodorkan ponselnya pada Jihan setelah membuka aplikasi Banking.
"Kamu bisa cek sendiri, aku hanya memberi Juna uang jajan." Shaka membiarkan Jihan mengecek mutasi rekeningnya beberapa bulan kebelakang untuk melihat nominal yang di kirimkan pada Juna setiap bulannya.
Jihan tidak melihat sesuatu yang berlebihan, uang yang Shaka kirim ke rekening Juna memang cukup untuk jajan saja. Nominalnya masih wajar, tidak beda jauh dengan jatah yang dulu Jihan berikan pada Juna.
Sejak memutuskan serius menjalani pernikahan dengan Jihan, Shaka menawarkan diri untuk menanggung kebutuhan Juna dan Mama Dewi. Mungkin dia juga sadar bahwa Jihan satu-satunya tulang punggung di keluarganya. Setelah Jihan keluar dari pekerjaannya, otomatis tidak ada pemasukan untuk membiayai kebutuhan Juna dan Mama Dewi. Shaka cukup sadar diri dengan konsekwensinya karna menikahi Jihan yang memiliki tanggungan, jadi dia rela menanggung semuanya.
"Jangan di tambah lagi, ini sudah lebih dari cukup." Pinta Jihan sembari mengembalikan ponsel pada pemiliknya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu terlalu ketat dan perhitungan dengan Juna. Dia laki-laki yang beranjak dewasa, biarkan menjalani hidup dengan prinsipnya sendiri. Boleh mengarahkan, tapi jangan memaksa mengikuti keinginan kamu."
"Kelak dia akan menjadi pemimpin. Kalau sekarang masih menuruti keinginan orang lain, dia bisa kesulitan menjadi orang yang tegas." Shaka berucap lembut, sengaja agar tidak menyinggung perasaan Jihan.
Tapi sepertinya Jihan cukup terusik dengan perkataan Shaka.
"Aku cuma khawatir Juna salah bergaul. Dia harus fokus kuliah dan belajar saja agar kelak bisa berdiri di kaki sendiri. Aku hanya mencoba tegas, bukan memaksakan keinginanku." Ujar Jihan di akhiri dengan helaan nafas berat. Dia ingin menyangkal ucapan Shaka, namun sadar jika akhir-akhir ini Juna lebih tertutup padanya. Adiknya itu bukan Juna yang dulu selalu menceritakan apapun kejadian di kampus. Bukan Juna yang dulu sering meminta pendapatnya.
"Aku mengerti, tapi coba kamu ajak Juna bicara dari hati ke hati. Selama ini kamu belum pernah mendengar seperti apa keinginan Juna kan.?"
"Dia juga butuh orang yang bisa mendengarkan, bukan orang yang hanya menuntut." Tutur Shaka setelah membaca keadaan dan apa yang terjadi saat ini dengan Juna.
Jihan terdiam, sekilas dia merasakan dejavu. Perkataan Shaka membuatnya ingat akan kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya merasa di tuntut oleh Shaka tanpa mau didengar keinginannya.
...******...
Malam hari ketika semua orang sudah tertidur pulas di kamarnya masing-masing, Juna malah kedapatan sibuk menghubungi Vierra berulang kali di taman depan rumah. Panggilan telfonnya selalu di tolak, pesan yang dia kirim juga hanya di baca tanpa di balas oleh Vierra.
'Angkat telfonnya atau aku datang ke rumahmu besok.!'
Juna terpaksa mengirimkan pesan ancaman itu sebelum menghubungi Vierra lagi untuk kesekian kalinya.
Entah takut atau kesal karna terus di teror panggilan dan chat, Vierra akhirnya mengangkat telfon dari Juna.
"Urusan kita belum selesai, Vierra.!" Tegas Juna penuh penekanan.
__ADS_1
"Urusan kita sudah selesai sejak kemarin malam. Biarkan aku pergi dari kehidupan kamu. Percaya padaku, aku nggak akan menuntut apapun padamu di masa depan. Kelak seandainya kita di pertemukan lagi, anggap saja aku orang asing.!" Tegas Vierra penuh penekanan. Nada bicaranya memang terkesan penuh amarah, namun hanya Juna yang bisa merasakan kesedihan dalam setiap kata yang terucap dari bibir Vierra.
"Bagaimana kalau kamu hamil.?!" Lirih Juna namun menekankan kalimatnya.
"Itu urusanku, aku sendiri yang ingin tidur dengan kamu. Lagipula kamu nggak akan rugi kan hanya karna memberikan satu benih untukku.? Aku yang akan mengurusnya sendiri tanpa melibatkan kamu.!" Seru Vierra. Ucapannya cukup membuat Juna meradang. Laki-laki 21 tahun itu sampai mengepakkan sebelah tangannya dengan wajah yang sudah memerah.
"Apa kamu sudah gila.?!! Aku sedang tidak main-main, Vierra.!" Bentak Juna penuh amarah. Entah kenapa dia merasa harga dirinya sebagai laki-laki telah di injak-injak oleh Vierra. Perkataan Vierra seolah ingin menyadarkannya bahwa dia tidak berguna dan tidak ada artinya bagi wanita itu.
'Aku bahkan sudah gila sejak dua tahun yang lalu. Sejak segerombolan laki-laki bi*dab menghancurkan masa depanku.!' Seru Vierra. Suara terdengar bergetar di seberang sana.
'Jadi apa yang kamu harapkan dari orang gila sepertiku.'
Tut,, tut,,,
Juna mengumpat kesal ketika Vierra memutuskan sambungan telfonnya. Dia mencoba menghubungi Vierra lagi, tapi nomornya tidak bisa di hubungi.
"Sial.!!" Umpatan kasar kembali lolos dari bibir Juna karna sadar bahwa Vierra telah memblokir nomornya.
Juna mengusap kasar wajahnya, dia tampak frustasi memikirkan ucapan Vierra. Sebelum mengakhiri panggilan.
''Segerombolan laki-laki bi*dab. Apa maksudnya.?" Gumam Juna lirih. Di tengah-tengah pikirannya yang sedang kalut, Juna kesulitan mencerna ucapan Vierra.
Malam itu, Juna tidak bisa tidur karna terus memikirkan kata demi kata yang terucap dari bibir Vierra. Dia bekerja keras untuk mencerna perkataan ambigu tersebut.
Vierra bilang, masa depannya rusak karna segerombolan laki-laki bi*dab. Juna jadi memiliki pikiran tentang kemungkinan terburuk yang terjadi pada Vierra 2 tahun lalu, yang mengakibatkan Vierra kehilangan kesuciannya.
__ADS_1