
Kedatangan Jihan di ruangan Diana membuat Ibu satu anak itu terkejut. Kemarin dia mendengar gosip kalau Jihan datang ke perusahaan, tapi katanya langsung pergi lagi bersama Shaka.
"Astaga Jihan, kamu kemana aja coba.?!" Diana menatap senang sekaligus kesal pada sahabatnya itu. Bergegas meninggalkan meja kerjanya, Diana segera memeluk Jihan yang baru masuk ke ruangannya.
Jihan menyengir kuda, dia membalas sejenak pelukan Diana.
"Sambil duduk aja Mba, nanti aku ceritain." Kata Jihan melepaskan pelukannya.
Keduanya kemudian duduk saling berhadapan di meja kerja Diana. Baru beberapa detik mendudukkan pantatnya di kursi, Diana sudah mencecar Jihan dengan beberapa pertanyaan.
"Sebenarnya apa yang terjadi.? Kamu sama Pak Shaka ada masalah.? Terus selama ini kamu tinggal dimana.? Nomor kamu dan Juna juga nggak bisa di hubungi." Cecar Diana penuh rasa penasaran.
Diana sudah lama ingin menagih penjelasan pada Jihan jika suatu saat bertemu dengannya. Jadi begitu Jihan datang, Diana tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Selain membuat Diana panik, menghilangnya Jihan juga menimbulkan dampak buruk pada kenyamanan di perusahaan. Sebab CEO mereka gampang tantrum, tidak peduli meski sedang rapat sekalipun. Bahkan kesalahan sekecil apapun bisa jadi besar di mata Shaka. Entah sudah berapa banyak orang yang jadi sasaran kemarahan Shaka belakangan ini.
"Mba Diana bisa nggak tanyanya satu-satu. Aku sampai bingung mau jawab yang mana dulu." Kata Jihan yang sempat menutup telinganya karna Diana sangat berisik.
"Oke, sekarang kamu jelaskan dulu permasalahan kamu dengan Shaka, sampai kamu memilih menghilang." Tanya Diana. Dia menatap lekat sabahatnya untuk menunggu penjelasan.
Jihan terdiam sejenak, ada beberapa hal yang sedang dia pertimbangkan. Sebab jika tidak menceritakan dari awal, pasti akan membuat Diana semakin bingung karna ceritanya tidak akan masuk akal.
Setelah mempertimbangkan baik-baik, Jihan akhirnya memutuskan untuk jujur soal pernikahan kontraknya dengan Shaka. Tentang Papa Mahesa dan Mama Sonia yang murka akibat mengetahui kontrak pernikahan itu. Sampai muncul ide untuk memisahkannya dengan Shaka selama beberapa minggu ini.
"Demi apa.?!! Jadi kamu selama ini bohongin Mba.?"
"Ya ampun Jihan,,!" Diana sampai kehabisan kata-kata. Dia mana tau kalau pada akhirnya Jihan membuat perjanjian pernikahan demi uang untuk biaya operasi Mama Dewi waktu itu.
"Maaf Mba, Saat itu aku nggak punya pilihan selain menyetujui usul Mas Shaka." Sesal Jihan. Dia menyesal karna sudah membohongi orang-orang terdekatnya. Terutama Mama Dewi dan Juna yang sampai saat ini belum tau.
"Mama Dewi dan Juna, apa mereka juga tau soal ini.?" Cecar Diana dengan tatapan rumit.
Jihan menggeleng cepat dengan raut wajah sendu.
"Aku harap mereka nggak pernah tau tentang ini." Ujarnya tanpa bisa menyembunyikan kecemasan di wajahnya.
__ADS_1
Diana menghela nafas berat. Jujur Ibu satu anak itu tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya atas sikap yang sudah di ambil Jihan. Alih-alih meminta pendapatnya saat ditawari menikah kontrak, Jihan malah mengambil keputusan sepihak tanpa memikirkan kedepannya.
"Lalu bagaimana sekarang.?" Tanya Diana.
"Bagaimana apanya.?" Jihan menatap bingung.
"Ya hubungan kamu dengan Pak Shaka, memangnya apa lagi Jihan.!" Geram Diana. Cuma Diana yang berani bicara nada tinggi dengan istri pewaris perusahaan tempatnya bekerja.
Jihan menyengir kuda.
"Sebenarnya aku sedang hamil." Lirihnya.
"Apa.?!!" Pekik Diana terkejut. Bola matanya sampai membulat sempurna. Makin tidak habis pikir dengan Jihan. Katanya nikah kontrak, tapi belum genap 3 bulan sudah hamil. Pikiran Diana jadi kemana-mana membayangkan dua sejoli itu.
Bisa-bisanya sampai hamil, sedangkan keduanya tidak saling mengenal secara pribadi. Diana jadi berfikir macam-macam, entah Shaka yang memaksa, atau Jihan yang sukarela di tiduri pria tampan itu.
"Ck,,! Aku bukan hamil di luar nikah, Mba Diana nggak perlu kaget begitu." Bibir Jihan mengerucut sebal. Ekspresi Diana seolah memiliki persepsi buruk padanya hanya karna mendengar kabar kehamilan.
"Bukan begitu Jihan, tapi kamu sendiri yang bilang kalau kalian belum saling mengenal saat memutuskan untuk menikah. Sekarang kamu malah hamil." Diana geleng-geleng tak habis pikir.
Jihan menjadi cemberut, namun wajahnya juga memerah menahan malu. Dia malu sendiri membayangkan pertama kali ber cinta dengan Shaka. Apalagi di dasari karna uang. Meski pada akhirnya uang itu di kembalikan lagi.
...******...
Hampir dua jam Jihan berada di ruangan Diana. Wanita kalau sudah curhat memang suka lupa waktu, lupa tempat dan lupa kalau ada suami yang sedang menunggu di ruangannya. Sampai mendapat telfon dari suaminya dan diminta supaya mengakhiri sesi curhatnya.
"Iya aku kesana." Kata Jihan sebelum mematikan sambungan telfonnya.
"Pak Shaka bilang apa.?" Diana jadi kepo dengan obrolan suamia istri itu melalui sambungan telfon. Tadi sudah berusaha menguping, tapi Jihan sengaja menjauh.
"Aku diminta ke ruangannya." Jawab Diana sembari beranjak dari duduknya.
"Bukan yang itu. Kamu tadi sempat melotot, Pak Shaka marahin kamu.? Apa ngancem kamu.?" Jihan benar-benar diselimuti rasa penasaran yang tinggi. Setelah mendengar keseluruhan cerita Jihan dan Shaka yang diawali nikah kontrak, dia jadi tertarik dengan kehidupan pasutri itu. Sebab baru kali ini Diana mendengar tentang nikah kontrak.
Jihan menggeleng cepat. Bukan marah, bukan mengancam juga, melaikan bicara vulgar yang tidak mungkin Jihan ceritakan pada Diana.
__ADS_1
"Bukan apa-apa. Aku pergi dulu ya Mba." Jihan memilih menghindar dengan buru-buru keluar dari ruangan Diana.
...******...
Jihan mengetuk pintu ruangan Shaka dan langsung membukanya tanpa menunggu jawaban. Dia mengulir senyuman pada pria berwajah dingin yang sedang menatap tajam ke arahnya. Tentu tatapan yang tidak bersahabat.
"Aku pikir Mas Shaka masih sibuk." Ujar Jihan menyengir kuda, lalu dengan santainya duduk di samping Shaka. Itu adalah salah satu usaha untuk meredakan emosi suaminya yang sedang tidak stabil, hanya gara-gara tidak kunjung ke ruangannya.
"Bukannya terbalik.? Sepertinya kamu yang sibuk sampai lupa waktu." Sahut Shaka acuh, tapi tangannya sibuk membuka box makanan di atas meja, lalu di segeser ke depan Jihan.
"Habiskan.! Kamu hampir telat makan siang." Titahnya ketus.
Bukannya takut, Jihan malah menahan tawa melihat sikap Shaka. Pria itu sedang matah-marah, tapi masih perhatian padanya.
Jihan menurut, selain tidak mau membantah, makanan di atas meja itu seolah memanggil untuk di makan. Keduanya menghabiskan makan siang bersama tanpa bicara apapun. Yang satu sibuk menikmati makanannya, tapi yang satunya malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada yang memiliki rencana untuk babymoon, tapi tidak tau bagaimana cara memberitaunya.
"Mas Shaka kapan bantu cari informasi tentang keberadaan Om Galih.?" Tanya Jihan selesai menghabiskan makan siangnya.
Shaka langsung menoleh, dia kelihatan tertarik dengan topik obrolan dari Jihan.
"Nggak ada yang gratis Jihan,," Ucapnya penuh penekanan.
"Mas Shaka minta bayaran.? Saya mana sanggup bayar CEO perusahaan." Jihan menjadi cemberut. Padahal Shaka sendiri yang janji akan mencari tau keberadaan Omnya. Tapi sekarang malah minta imbalan.
"Siapa bilang saya minta di bayar pakai uang." Shaka memutar bola matanya malas.Bwgitu saja Jihan tidak paham maksudnya.
"Lalu pakai apa.?" Tanya Jihan sambil berfikir.
Detik berikutnya Jihan langsung paham, bersamaan dengan tatapan mata Shaka pada bukit kembarnya.
"Dasar mesum.!!" Pekik Jihan sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya.
Shaka tersenyum miring.
"Mau di bayar di muka atau bayar belakangan setelah Om kamu ketemu.?" Tawar Shaka sengaja menggoda Jihan. Dia membuat wajah Jihan merona karna malu.
__ADS_1