Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 67


__ADS_3

Pernikahan Shaka dengan Jihan sepertinya masih butuh proses penyesuaian yang panjang. Sebab sampai bulan ke 6 pernikahan, keduanya masih sering salah paham dan tidak sejalan. Hal ini cukup menjadi pelajaran bagi keduanya bahwa tak seharusnya gegabah mengambil keputusan saat akan menikah. Memang keduanya punya tujuan masing-masing ketika memutuskan untuk menikah kontrak. Tapi ketika hati tidak bisa menyangkal perasaan yang tumbuh, akhirnya mereka sendiri yang kerepotan.


Tanpa adanya pendekatan, bahkan tidak ada waktu untuk saling mengenal karakter satu sama lain sebelum menikah. Pada akhirnya pernikahan mereka berjalan cukup alot. Sering ada perselisihan, sama-sama keras dan teguh pada pendirian serta cara berfikir masing-masing. Mereka tidak sepaham dan sejalan.


Ingin dimengerti, namun sulit untuk mengerti. Keegoisan mereka sama-sama tinggi. Di tambah kondisi Jihan yang sedang berbadan dua. Semakin bertambah usia kandungannya, perasaan Jihan semakin sensitif dan tak jarang sering menangis diam-diam.


Mungkin semua itu adalah ganjaran atas perbuatan mereka yang sudah membohongi orang tua mereka di awal-awal pernikahan. Dan sampai detik ini Mama Dewi juga belum tau soal pernikahan kontrak yang dilakukan Jihan demi uang untuk biaya operasinya. Mereka terlalu banyak melakukan kebohongan.


Malam ini kembali terjadi perdebatan di kamar utama. Usia tidak menjamin seseorang bisa bersikap dewasa. Terlebih jika menghadapi segala persoalan menggunakan perasaan, bukan dengan logika. Rasanya akan sulit menemukan titik tengah.


"Mas sadar nggak sih, sepertinya dari awal kita memang nggak cocok." Jihan memalingkan wajah ke arah lain, dadanya cukup sesak untuk sekedar menatap wajah suaminya. Bukan kali ini saja Shaka mencurigainya berhubungan dengan Arda. Hanya karena sebuah foto yang di ambil sekilas oleh orang,suruhanya, Shaka langsung mengambil kesimpulan sendiri.


Terkadang Jihan tak habis pikir dengan Shaka. Shaka sudah memberinya kebebasan untuk bersosialisasi dan pergi bersama teman-temannya setiap 1 minggu sekali dengan di antar ean dijaga oleh supir. Tapi Shaka diam-diam selalu mengirim mata-mata untuk membuntuti kemanapun dia pergi.


2 bulan yang lalu, permasalahan seperti ini sudah pernah terjadi. Keduanya bisa menyelesaikan masalah meski butuh waktu 2 hari. Dengan mengambil keputusan bahwa Shaka tidak akan mengirim mata-mata lagi. Tapi hari ini terulang lagi.


"Bukan nggak cocok, tapi kamu yang nggak bisa memahami kekhawatiran ku.!" Sanggah Shaka. Emosinya sedang meluap, sulit untuk di kendalikan. Meski begitu, Shaka tidak pernah sekalipun main fisik ketika sedang bertengkar dengan Jihan. Hanya nada bicaranya saja yang tinggi dan ketus.


"Tapi tindakan Mas Shaka membuat aku merasa seperti wanita murahan yang bisa berselingkuh di luar sana.! Mas pikir, pria mana yang mau dengan wanita hamil sepertiku." Suara Jihan bergetar menahan tangis. Dia merasa tidak mendapat kepercayaan dari Shaka. Seolah-olah dirinya sangat berpotensi berhubungan dengan pria lain ketika jauh dari Shaka.


"Apa kamu menyesal mengandung anakku.?!" Shaka menatap kecewa. Logikanya susah berfikir jernih. Yang ada hanya pikiran negatif.

__ADS_1


Seketika Jihan mengalihkan tatapannya pada Shaka. Ada kekecewaan serupa dari sorot matanya ketika menatap Shaka.


"Aku hanya menyesali kebodohanku enam bulan yang lalu.!" Tegas Jihan dan berlalu keluar dari kamar untuk mengakhiri perdebatan yang semakin membuat perasannya tidak karuan. Kalau sudah berdebat seperti itu, Jihan akan tidur di kamar sebelah. Bukan untuk menghindari atau menghukum Shaka, namun sekedar untuk menenangkan diri dan mengembalikan kewarasannya.


Setelah hamil, entah sudah berapa kali Jihan menangis karna berdebat dengan Shaka. Sampai tidak terhitung berapa banyak air mata yang terbuang.


Shaka mengusap kasar wajahnya. Dia membiarkan Jihan pergi tanpa berusaha mengejar dan membujuknya. Sebab ketika sama-sama sedang diselimuti emosi seperti ini, saling menenangkan diri adalah pilihan yang tepat.


...******...


Terlepas bagaimana perdebatan tadi malam, pagi ini Jihan tetap melakukan perannya seperti biasa sebagai seorang istri. Dia tetap membuatkan sarapan untuk Shaka walau dengan suasana hati yang masih perih. Karna memasak adalah tugas wajib nomor dua setelah memenuhi kebutuhan biologis. Shaka termasuk orang yang pemilih soal makanan. Sedangkan lidahnya sudah cocok dengan masakan Jihan.


Jihan sudah selesai membuat beberapa menu makanan untuk sarapan. Dia lantas menatanya di atas meja makan. Terlalu fokus mengerjakan pekerjaannya dan sibuk dengan pikirannya, Jihan sampai tidak menyadari ada Shaka yang sudah berdiri di belakangnya. Pria itu semakin merapat ketika Jihan hampir selesai menata makanan.


"Maaf untuk semalam." Ucap Shaka. Selalu ada penyesalan setelah pertengkaran. Namun Shaka tak bisa menahan pertengkaran itu terjadi lagi dan lagi.


"Mandi dulu, sudah siang." Jihan melepaskan kedua tangan Shaka yang melingkar di perutnya. Tubuhnya semakin membengkak dengan perut membuncit.


"Ayo berdua, kamu juga belum mandi kan.?" Shaka menggandeng tangan Jihan dan membawanya ke kamar. Jihan terlihat menurut tanpa mengeluarkan sepatah kata untuk menolak.


Keduanya keluar dari kamar mandi setelah hampir 15 menit di dalam. Shaka sama sekali tidak mengambil keuntungan dalam kesempatan kali ini, niatnya memang ingin mandi bersama saja agra ada interaksi lebih intim setelah pertengkaran semalam.

__ADS_1


"Sudah lama kamu nggak main ke rumah Mama Dewi, mau aku antar ke sana.?" Tawar Shaka di tengah-tengah memakai kemejanya. Jihan juga sedang memakai baju tanpa merasa canggung, mungkin karna terlalu sering polos bersama.


"Aku di rumah saja mulai sekarang, nanti kalau kangen sama Mama dan Juna, biar mereka yang aku ajak kesini." Sahut Jihan tanpa mau menatap Shaka. Terlanjur kecewa. Shaka memang sudah memberinya ijin keluar rumah maksimal 6 kali dalam sebulan, khusus untuk pergi sendiri tanpa Shaka. Namun tidak di sertai dengan kepercayaan. Sebab diam-diam selalu mengirim kata-kata untuk mengikutinya.


"Bukannya aku sudah minta maaf. Nggak masalah kalau hari ini kamu ingin di rumah Mama. Nanti sore aku jemput."


Jihan mengukir senyum miring mendengar perkataan Shaka.


"Meminta maaf saja nggak cukup kalau akhirnya hal seperti ini terulang lagi. Harusnya nggak perlu memberi ijin kalau pada akhirnya Mas Shaka menaruh curiga setiap aku keluar rumah." Ujar Jihan geram, namun dia masih bisa mengontrol diri untuk bicara santai.


"Bukan begitu Jihan, aku hanya khawatir terjadi sesuatu dengan kamu. Hanya di temani supir saja nggak bisa membuat aku tenang. Harusnya kamu mengerti." Tutur Shaka.


"Kenapa hanya aku yang di tuntut untuk mengerti.? Kalau memang tujuannya untuk menjaga ku, kenapa harus sembunyi-sembunyi dan mengambil fotoku secara diam-diam.?" Jihan menatap tak habis pikir pada suaminya.


"Gara-gara foto itu, kita jadi lebih sering bertengkar. Foto yang di ambil sekilas hanya membuat kesalah pahaman."


"Bahkan sekedar menangkap tubuh seseorang yang hampir jatuh saja bisa terlihat sedang berpelukan jika di foto." Jihan tersenyum miris. Dia semakin merasa tidak sejalan dengan Shaka.


"Aku nggak bisa melihat kamu berinteraksi dengan pria manapun. Jihan, harus berapa kali aku bilang kalau aku cemburu." Shaka masih menyangkal dengan pemikirannya sendiri. Dia tidak menuduh Jihan macam-macam, hanya sekedar meminta penjelasan atas foto-foto yang dia dapat.


"Kalau begitu keputusan yang tepat adalah mengurung ku seumur hidup di dalam rumah." Tegas Jihan penuh penekanan.

__ADS_1


"Aku tunggu di bawah,," Jihan berlalu selesai menyisir rambutnya. Dia bahkan tidak mengeringkan rambut karna ingin buru-buru mengakhiri perdebatan.


__ADS_2