
Pagi-pagi Shaka bangun tidur dengan aura yang awur-awuran. Bagaimana tidak, tadi malam dia gagal ganti oli gara-gara ada drama minta makan es krim. Setelah di turuti, Jihan tetap tidak mau melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda itu. Alhasil Shaka hanya bisa gigit jari, menahan hasrat yang menggebu tanpa bisa disalurkan. Pria itu akhirnya memilih tidur setelah menemani Jihan menghabiskan es krim.
"Anak itu benar-benar sadis.!" Shaka sudah menggerutu saja, padahal belum ada semenit membuka mata. Itu karna dia tidak melihat Jihan ada di ranjang atupun di kamar.
Shaka kemudian beranjak ke kamar mandi. Pagi ini ada rapat bulanan, jadi harus berangkat lebih awal. Tak peduli meski hatinya menahan kekesalan pada Jihan. Kesal karna tidak di sambut saat bangun tidur. Padahal Shaka berharap Jihan ada di sampingnya, lalu minta maaf atas kejadian semalam. Lebih bagus lagi kalau Jihan bersedia dengan senang hati untuk melakukan tugasnya yang semalam tertunda. Tapi realitanya Jihan malah tidak ada di dalam kamar.
Sementara itu, Jihan malah asik duduk di meja makan. Tadinya cuma berniat ambil minum, tapi iseng buka freezer malah melihat banyak es krim di dalamnya. Liurnya serasa akan menetes, sampai tergoda untuk mengambil ek krim strawberry itu. Walaupun semalam menghabiskan dua cup es krim ukuran sedang, tapi masih tergoda ketika melihat es krim. Sepertinya tipe kehamilan Jihan termasuk hamil kebo. Kata Orang-orang, hamil seperti itu tidak mengalami mabok. Cenderung suka makan, masih sanggup melakukan beraktivitas apapun yang tidak memberikan dampak buruk bagi kehamilan. Intinya tidak seperti orang hamil yang kebanyakan mengalami mabok alias muntah-muntah.
"Loh,, Non Jihan pagi-pagi kok sudah makan es krim. Memangnya nggak bikin sakit perut.?" Bik Susi masuk ke area dapur bersih dengan ekspresi wajahnya bengongnya karna melihat Jihan makan es krim jam setengah 7. Sarapan saja belum. malah Bikin susi masih memasak di dapur kotor. Dia ingin mengambil stok susu full cream yang memang di simpan di ruangan dapur bersih.
Jihan menyengir kuda, kemudian menggeleng.
"Seger Bik." Jawabnya santai.
"Bik Susi mau.? Ambil saja di freezer, es krimnya masih banyak." Ujarnya menawari, lalu sibuk lagi menyantap es krim dengan lahap. Bik Susi sampai keheranan melihat menantu majikannya itu. Rasa-rasanya ada yang aneh dan keanehan itu tidak terlihat secara kasat mata.
"Non Jihan seperti orang hamil saja. Nggak masuk akal."
Gumamnya dalam hati. Sebab cara makan Jihan kelihatan lahap sekali, mirip seperti orang yang sudah lama tidak makan es krim, dan makannya pun di waktu sepagi ini. Jelas menimbulkan keanehan. Namun Bik Susi hanya membatin saja tanpa mau menduga-duga lebih jauh.
Bik Susi sempat mengintip isi freezer setelah mengambil susu full cream. Dia terkejut melihat freezer penuh dengan es krim rasa strawberry. Alih-alih bertanya karna penasaran, Bik Susi malah memilih kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya.
...******...
Jihan kembali ke kamar setelah menghabiskan satu cup es krim. Rencananya dia akan membangunkan Shaka untuk bersiap ke kantor. Tapi begitu masuk ke kamar, Shaka malah sudah rapi dengan setelan jasnya. Jihan jadi tersenyum kikuk, terlebih ketika di tatap tajam oleh Shaka.
"Kamu darimana saja.?" Nada bicara Shaka terdengar sebal. Pagi-pagi bukannya di layani istri, malah menyiapkan semuanya sendiri. Sekarang baru muncul setelah dia sudah rapi. Jelas Shaka sebal.
"Makan es krim di dapur." Jawab Jihan.
"Tumben sudah rapi jam segini. Mas Shaka mau rapat ya.?" Jihan bertanya dengan santainya tanpa berfikir kalau Shaka sedang kesal padanya.
"Hari ini minta Bik Susi dan yang lain mengemasi barang-barangku ke koper. Nanti sore kita pindah rumah.!" Tegas Shaka memerintah, alih-alih menjawab pertanyaan Jihan. Mungkin karna terlanjur kesal.
"Tapi pagi ini aku mau menemui Mama dan Juna dulu. Aku berangkat setelah sarapan." Ujar Jihan.
__ADS_1
"Terserah kamu saja." Jawab Shaka cuek.
Pria ikut kemudian berlutut, membuat Jihan terkejut karna berlutut di depannya.
Tanpa di duga, Shaka mengusap perut rata Jihan dan mendaratkan kecupan di sana.
"Daddy berangkat dulu." Lirihnya, namun masih bisa di dengar oleh Jihan.
Setelah ritual berpamitan pada calon anaknya, Shaka menegapkan tubuhnya lagi dan keluar dari kamar.
"Mas,, kamu nggak sarapan dulu.?" Seru Jihan yang mengejak sampai ambang pintu.
Shaka menoleh sekilas.
"Saya makan di luar saja." Jawabnya dengan wajah datar, lalu melebgos pergi.
Jihan memaku di tempat, dia jelas heran melihat sikap aneh Shaka.
"Dia kenapa jadi begitu lagi.?" Jihan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya Jihan memang tidak sadar kalau dia sudah melakukan kesalahan. Kesalahan yang mengakibatkan Shaka uring-uringan karna sakit kepala atas bawah.
...******...
"Non,, Non Jihan.?!!" Teriakan Pak Kardi menghentikan langkah Jihan.
"Non Jihan mau ke rumah rafless.?" Tanyanya.
Rumah rafless adalah rumah milik Mama Sonia yang sekarang di tempati Mama Dewi.
Jihan mengangguk.
"Ayo saya antar Non. Tadi Den Shaka sudah pesan sama saya, katanya harus mengantar Non Jihan ke rumah rafless." Tutur Pak Kardi.
"Tunggu sebentar Non, saya keluarin mobilnya dulu." Pak Kardi langsung pergi sebelum Jihan mengiyakan.
Akhirnya Jihan terpaksa membatalkan pesanan, walaupun tetap memberikan uang pada supir taksi sesuai argo yang tertera di aplikasi.
__ADS_1
...******...
Setelah menempuh perjalanan melalui tol sekitar 40 menit, Jihan akhirnya sampai di rumah itu. Pak Kardi juga langsung pulang, sebab sudah ada yang mau menjemput Jihan kalau Jihan ingin kembali.
Jihan mengeluarkan ponselnya ketika sudah masuk ke dalam rumah. Dia mengetikkan pesan yang di kirimkan ke nomor Shaka.
Aku sudah sampai. Makasih sudah minta Pak Kardi untuk mengantar.
Pesan itu langsung terkirim, ceklis dua. Jihan masih berdiri ditempat sambil memperhatikan layar ponselnya. Dia seolah mengharapkan balasan dari Shaka detik itu juga.
Sudut bibir Jihan terangkat ketika pesannya di baca oleh Shaka. Namun sampai beberapa menit, Shaka tidak terlihat mengetik sesuatu.
"Jihan, kamu datang sama siapa.?Nak Shaka.?"
Jihan buru-buru memasukkan ponsel kedalam tas ketika mendengar suara Mama Dewi. Wanita itu lantas memeluk Mamanya dengan senyum lebar.
"Jihan di anter supir, Mas Shakanya ada rapat di perusahaan." Kata Jihan.
Keduanya melepaskan pelukan dan pindah ke ruang keluarga untuk mengobrol. Mama Dewi juga punya banyak pertanyaan pada putrinya itu.
"Bagaimana.? Kamu dan Shaka sudah meluruskan masalahnya.?" Tanyanya.
Jihan mengangguk cepat.
"Sudah Mah. Kami sudah baik-baik saja sekarang, Mama juga nggak perlu khawatir lagi."
"Sore nanti Mas Shaka mengajakku pindah ke rumah barunya. Dia nggak mau tinggal satu rumah lagi dengan Mama Sonia. Khawatir banyak campur tangan lagi." Tutur Jihan.
Mama Dewi mengangguk setuju. Dia bahkan sangat mendukung keputusan menantunya. Memang lebih baik Jihan dan Shaka pisah rumah agar privasi lebih terjaga. Sekaligus untuk belajar mandiri, bahwa yang nemanya orang berumah tangga harus bisa menyelesaikan masalah berdua tanpa ada campur tangan siapapun. Kecuali jika sudah tidak menemukan solusi, maka boleh meminta saran orang lain.
Setelah mengobrol panjang lebar dan Mama Dewi pamit ke dapur, Jihan iseng mengecek ponselnya. Siapa tau Shaka sudah membalas chatnya. Sayangnya Jihan harus menelan kekesalan karna pesannya hanya di baca tanpa di balas oleh Shaka.
"Dia itu sebenarnya kenapa.!" Jihan geram sendiri. Shaka berlagak sok perhatian dengan menyuruh Pak Kardi mengantarnya, tapi begitu di kirimi pesan malah tidak di balas.
Kalau sudah seperti ini, Shaka yang aneh atau Jihan yang tidak peka.?
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir, mereka pasangan serasi. Serasi dalam hal membuat keributan-keributan kecil dalam rumah tangga.