Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 66


__ADS_3

Shaka menahan Jihan yang hendak keluar dari kamar. Pembicaraan mereka belum selesai, namun Jihan malah pamit ke dapur. Tidak heran kalau sekarang Shaka mengunci pintu kamar dan berdiri menghalangi Jihan.


'Kamu tau sendiri aku nggak asal melarang. Aku sudah jelaskan alasannya, harusnya kamu mengerti." Tatapan Shaka cukup tajam. Bukan kesal, hanya sedikit kecewa karna Jihan tidak mau mengerti kekhawatirannya.


"Aku juga sudah berjanji akan hati-hati. Lagipula aku nggak sejahat itu sampai mencelakakan anakku sendiri." Jihan tak mau kalah, dia juga ingin dimengerti, seperti Shaka yang ingin dimengerti.


Pikiran Jihan semakin kalut, hatinya bergemuruh di selimuti kepedihan. Dia hanya meminta waktu 2 hari untuk pergi dengan teman-temannya, setelah 2 bulan lamanya kehidupan dia hanya seputar Shaka dan Shaka.


"Aku tau kamu nggak mungkin menyakiti anak kita. Tapi siapa yang akan menjamin kalian baik-baik saja selama di sana.?" Seru Shaka penuh penekanan. Sekedar untuk membuat Jihan sadar bahwa kejadian di luar sana tidak bisa di prediksi. Apapun bisa terjadi di luar kehendak kita. Shaka hanya berusaha menecegah sesuatu yang tidak diketahui inginkan terjadi pada Jihan dan anak mereka di dalam kandungan. Tapi sepertinya Jihan tidak bisa mengerti.


Jihan tersenyum miring.


"Apa menurut Mas Shaka aku baik-baik saja disini.?" Jihan menatap getir, dia berbalik badan dan naik ke ranjang karna Shaka masih bertahan di depan pintu. Suaminya itu tak memberinya akses keluar kamar karna masih ingin bicara. Namun Jihan merasa semakin terluka dengan pembicaraan mereka, jadi memilih berbaring di ranjang sambil memejamkan mata.


Shaka terhenyak mendengar ucapan Jihan. Dia berfikir keras, berusaha mencerna maksud dari ucapan istrinya. Berusaha menepis ratapan nanar Jihan yang tampak frustasi, namun bayangan itu terus muncul. Jihan sedang tidak baik-baik saja.


"Nanti kita bicara lagi, aku mandi dulu." Shaka berlalu ke kamar mandi. Dia perlu pikiran dan tubuh yang segar untuk membicarakan masalah ini lagi dengan Jihan.


Sementara itu, Jihan malah semakin larut dalam rasa sakit. Terbiasa bersosialisasi, bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, tiba-tiba keadaan berubah 180 derajat. Selama 2 bulan terakhir, Jihan sibuk menghabiskan waktu dengan keluarga dan Shaka tentunya. Jihan mungkin stress, terlebih sempat ada masalah soal kontrak pernikahannya dengan Shaka. Dan hormon kehamilan sepertinya juga berpengaruh besar pada suasana hati Jihan.


...******...


Shaka duduk di tepi ranjang, tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah damai Jihan. Hanya di tinggal mandi selama 10 menit, Jihan ternyata tertidur pulas ketika Shaka menghampirinya untuk mengajak bicara.


Cukup lama Shaka duduk di sana sambil memandangi wajah Jihan, Kini pria itu sudah duduk di sofa sambil memgotak atik ponsel di tangannya untuk menghubungi manager divisi umum.


Manager itu di buat kalang kabut ketika di hubungi oleh Shaka. Sebab Shaka hanya sekali dua kali menghubunginya, tentunya jika ada kesalahan.

__ADS_1


"Nggak ada masalah dengan pekerjaan kamu. Ini soal liburan karyawan di divisi umum. Kirimkan nama dan alamat villanya ke nomor saya sekarang." Titah Shaka, dia kemudian mengakhiri panggilannya sepihak. Shaka merasa tidak perlu basa-basi untuk menjelaskan apa tujuannya. Menager itu pasti sudah tau kalau hal ini berkaitan dengan Jihan.


Tidak sampai 1 menit, Shaka sudah mendapatkan nama dan alamat Villa yang akan menjadi tempat liburan mereka minggu depan.


Shaka segera mencari tau melalui internet, seperti apa villa itu dan bagaimana kondisi di sekitarnya. Dia ingin memastikan jika lingkungan dan villanya aman untuk Jihan.


...******...


Mungkin memang benar bawaan hormon Ibu hamil yang membuat mood Jihan gampang berubah-ubah. Pagi ini ketika bangun tidur, dia sama sekali tidak terlihat marah pada Shaka. Tetap bersikap nomor seperti biasa. Malah bertanya pada Shaka, ingin di siapkan jas dan dasi warna apa.


Shaka sampai heran sendiri, padahal semalam Jihan mogok bicara dengannya. Ketika makan malam bersama pun, keduanya diam membisu dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tadinya Shaka ingin membicarakan soal villa, tapi memilih menundanya karna mood Jihan masih tampak buruk.


Kini keduanya tampak sedang menikmati sarapan. Shaka juga sudah rapi dengan baju kerjanya. Begitu pula dengan Jihan, dia pun tampak rapi pagi ini karna ingin pergi dengan Juna dan namanya untuk mengurus pembelian rumah. Tadi sempat ada obrolan dengan Shaka dan pria itu memberi ijin.


"Dapat rumah di daerah mana.?" Shaka membuka obrolan selesai menghabiskan sarapan.


"Dua puluh menit dari kampus Juna. Kemarin sudah ada dua foto rumah yang dikirimkan Juna. Sengaja mau pergi sama Mama, biar Mama yang pilih." Jihan menjawab panjang lebar dengan raut wajah santai. Entah sudah lupa atau pura-pura lupa soal pertengkaran kecilnya dengan Shaka tadi malam. Tapi pagi ini Jihan sama sekali tidak pernah membahas soal liburan lagi.


Jihan tampak diam sejenak, entah apa yang sedang dia pikirkan sampai terlihat berat untuk mengiyakan. akhirnya Jihan mengangguk setuju, dia mengambil ponsel dan menghubungi Juna.


...*******...


Jihan dan Shaka lebih dulu sampai di komplek perumahan sederhana. Jihan langsung berhenti di depan rumah pertama yang mau di survei. Keduanya di sambut oleh pemilik rumah yang kebetulan masih menempati rumah tersebut dan baru akan di kosongkan jika sudah ada pembeli.


"Kamu yakin mau beli di sini.? Ada rumah yang lebih luas kalau kamu mau." Ucap Shaka lirih.


Shaka sudah melihat ke dalam rumahnya dan itu sangat-sangat sempit menurutnya. Ukuran umah itu bahkan lebih kecil banding dengan luas kamar Shaka. Tidak heran kalau Shaka ingin menawarkan rumah yang lebih luas.

__ADS_1


"Ini juga sudah cukup untuk ditempati Mama dengan Juna." Kata Jihan. Walau dalam hati sebenarnya ingi memberikan lebih.


"Cuma ada dua kamar. Bagaimana kalau kamu ingin menginap disini, mau tidur dimana kamu.?" Ucap Shaka.


"Memangnya boleh.?" Jihan menatap dengan mata berkaca-kaca.


Shaka mengangguk.


"Nanti aku carikan cari rumah lebih besar." Sahutnya.


"Bukan, bukan soalnya rumahnya." Kata Jihan cepat. Rupanya ada kesalahpahaman disini. Shaka tampak salah tanggap.


"Lalu.?" Alis Shaka terangkat sebelah.


"Soal menginap di rumah Mama. Mas Shaka bakal ngijinin aku menginap.?" Katanya seraya menatap penuh harap.


Shaka mendadak membisu. Dia jadi semakin paham kenapa kemarin Jihan marah-marah dan menganggap dirinya hanya dikurung di rumah. Selama ini Shaka terlalu sibuk dengan pekerjaan dan hanya fokus pada keinginannya untuk tetap melihat Jihan ada di sampingnya setiap kali dia ada di rumah. Shaka tidak berfikir kalau Jihan juga butuh hiburan di luar, butuh me time dengan keluarga dan temannya.


Jihan menggeleng yakin. Bukan tidak mau, tapi uangnya tak akan cukup untuk membeli rumah yang lebih besar.


"Tentu saja boleh. Kamu juga boleh ikut libran di villa minggu depan, asal harus selalu hati-hati disana."


Jihan tampak melongo dan tidak bisa berkata-kata. Shaka tiba-tiba berubah pikiran secepat itu. Padahal kemarin menentang keras.


"Ini beneran.?" Tanya Jihan saking tidak percayanya.


Namun Shaka langsung mengangguk cepat, Jihan tampak tersenyum lebar dan menghambur kepelukan Shaka tanpa tau tempat. Kedua tangannya melingkar di leher Shaka seperti anak kecil yang minta doa gendong.

__ADS_1


"Ehemm,,!" Suara deheman membuat keduanya melepaskan pelukan. Rupanya disna sudah rame. Ada Juna dan Mama dewi yang baru sampai dan pasangan suami istri pemilik rumah.


Jihan segera bergeser ke belakang Shaka untuk bersembunyi di balik punggung karna merasa sangat malu.


__ADS_2