
1 tahun kemudian.
Sabtu pagi, Pk. 07.00 WIB
*alarm berbunyi*
Tania bangun dari tidurnya dan terkejut karena dia sudah kesiangan.
"Padahal aku sudah memasang alarm Pk 06.00 WIB tapi aku snooze terus sih. Malasnya aku" Guman tania.
Secepat kilat Tania mandi, sarapan dan berangkat menggunakan mobilnya. Hari Sabtu biasanya dia tidak ke coffe shop namun karena manager di "Tania Garden Kopi" izin harus menemani istrinya yang melahirkan semalam, Tania terpaksa kesana untuk mengawasi pekerjaan pegawainya dan menyelesaikan beberapa pekerjaan.
TANIA GARDEN KOPI
Terpampang jelas di depan sebuah toko kopi di daerah Kemang, Jakarta Selatan.
Sebuah tempat yang nyaman, sesuai dengan namanya garden . Di belakang tempat ini ada taman yang lumayan luas. Para pengunjung juga bisa menyewa tempat ini untuk acara ulang tahun, pertunangan, reuni dan lain sebagainya. Tidak terasa sudah hampir 11 bulan Tania menjalani bisnis kopi ini. Walaupun di tahun pertama memang belum menunjukkan hasil yang signifikan, namun omset yang dihasilkan per bulan cukup untuk menyicil biaya modal yang sudah dikeluarkan di awal, termasuk gaji pegawai dan operasional toko.
"Selamat pagi Mbak Tania." sapa salah satu pegawai Tania yang bernama Jihan.
"Selamat pagi, maaf ya aku kesiangan. Seharusnya aku datang setengah jam lebih awal." jawab Tania.
"Padahal ini tokonya, kenapa harus dia yang meminta maaf" gumam Jihan dalam hati.
Tania langsung menuju ruang kantor di toko kopi tersebut, memeriksa laporan keuangan, pembayaran ke supplier, biaya operasional kantor dan lainnya.
Pk. 13.00 WIB
"Aduh perutku lapar, tadi pagi hanya sarapan roti saja yang dibuatkan bibi. Terlalu asik bekerja sampai lupa sudah jam segini." keluh Tania.
Tania keluar dari ruangan kantor dan menuju keluar. Saat itu dia melihat seorang pelanggan laki-laki sedang duduk sambil menikmati kopi ditemani seorang wanita cantik.
"Bukankah itu Joshua? Kenapa dia harus kesini sih? Rumahnya kan jauh dari sini. Membawa buntut juga." gumam Tania. "Sudahlah biarkan saja, aku keluar dan mencari makan siang saja." Tania berusaha menutupi wajahnya dengan sebuah map.
__ADS_1
Tania keluar dengan terburu-buru menuju mobilnya dan mencari makan siang. Dia berniat untuk tidak kembali ke coffee shop nya tapi pekerjaannya masih banyak. Dia sangat malas bertemu dengan Joshua, bertemu dengannya mengingatkannya tentang kejadian menyakitkan saat itu.
Flashback 1,5 tahun lalu
"Sayang, weekend ini kita ketemu ya. Aku kangen kamu" ucap Tania di telepon.
"Iya. Nanti aku jemput" jawab Joshua.
"Oke sayang. Love you." Ucap Tania di akhir telepon.
"Iya." jawab Joshua sambil menutup teleponnya.
"Kenapa dia tidak membalas ucapanku? Biasanya dia selalu bilang, i love you too sweetheart. Hem, biarkan saja, mungkin dia lelah." gumam Tania.
Tiiin....tiiiin
"Iya sayang sebentar." ucap Tania sambil berlari keluar rumahnya. "Halo sayang, i miss you." ucap Tania manja.
"Kamu kenapa sih? Ga pernah jawab i love you ku, miss you ku? Kamu marah? Aku salah apa?" gerutu Tania kesal.
"Engga kok sayang, i love you." jawab Joshua sambil mencubit pipi Tania.
"Oke sayang." jawab Tania tersenyum.
Kenapa ya dia tiba-tiba berubah? Memang sudah lama kita tidak bertemu, karena mungkin dia juga sudah sibuk dengan pekerjaannya dan aku sibuk mengurus skripsiku. Lusa pun aku harus kembali ke Jogjakarta untuk sidang.
KAFE ABG
"aku mau pesan cappucino es dan spageti aglio olio ya mba." jawab Tania pada pelayan. "Kamu pesan apa sayang?" tanya Tania sambil mencolek tangan Joshua.
"Hemmm, aku pesan hazelnut choco es dan nasi teriyaki aja mba." jawab Joshua seraya tersenyum.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan kedua sejoli itu. Mereka pun melanjutkan obrolan.
__ADS_1
"Sayang, kamu gimana kerjaannya? Lagi sibuk banget ya?" tanya Tania dengan antusias. "Tapi kamu betah kan disana? Nanti kalau aku udh lulus, aku mau kerja disana juga ya. Jadi setiap hari kita bisa berangkat dan pulang kerja bareng." celoteh Tania tanpa berhenti.
"Iya, aku lagi sibuk banget banyak proyek. Kamu semangat ya sidangnya 2 hari lagi." ucap Joshua sambil mengelus punggung tangan Tania. "Oh iya, sebenarnya ada hal lain lagi yang mau aku bicarain." sambung Joshua.
"Apa sayang?" jawab tania semangat.
"Jangan-jangan dia mau ajak aku tunangan setelah aku wisuda nanti." gumam Tania dalam hati.
"Tania, kita kan sudah menjalin hubungan hampir 6 ta..." ucap Joshua, tiba-tiba pelayan datang memberikan minuman. Joshua pun terhenti dengan kata-katanya.
"Makasih mbak." ucap Tania tersenyum pada pelayan itu. "Iyaa sayang, terus lanjutin dong." ucap Tania antusias.
"Hem, kayanya kita nunggu makanannya datang aja dulu ya." jawab Joshua datar.
"Kenapa sih, mau ngajak aku tunangan aja lama banget. sabar Tania." batin Tania.
15 menit kemudian makanan datang
"Sayang, makanannya udah dateng nih. Ayuk kita makan sambil kamu lanjutin yang mau kamu bicarain." ucap Tania manja.
"Tania, selama hampir 6 tahun kita pacaran ini. Sebenarnya ada yang mengganjal pikiran aku. Kamu tahu kan, kalau ada sesuatu dari kita yang berbeda? Kakak-kakakku sudah menikah dengan orang yang berbeda juga. Keluarga besarku menginginkan aku menikah dengan persamaan. Aku minta maaf Tania. Sepertinya kita harus menyudahi hubungan ini. Aku takut, semakin lama kita berpacaran tapi ternyata pada akhirnya kita tidak akan bisa bersama. Itu akan membuang waktumu." jelas Joshua sambil menahan rasa sedihnya.
"Apa yang dia bicarakan, kenapa dia seperti ini. Kupikir dia serius selama ini padaku." gumam Tania dalam hati.
"Bukannya Papa dan Mama kamu setuju dengan hubungan kita?" jawab Tania lirih berusaha menahan tangis.
"Memang, tapi keluarga besarku. Om dan tanteku, sepupuku, mereka berharap aku bisa menikah dengan persamaan. Aku minta maaf Tania." jawab Joshua dengan nada sedih.
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku sudah percaya sama kamu, Orangtua ku juga sudah menyayangi kamu seperti anaknya sendiri. Aku tidak percaya kamu mengatakan ini." jawab Tania dan butiran-butiran air dari matanya mulai membasahi pipi. "Seharusnya dulu aku lebih memilih Reno daripada kamu." tutur Tania lirih.
Joshua berusaha mengusap pipi Tania dengan tissue. Berusaha menenangkannya namun tak berhasil. Tania tetap menangis dan meminta untuk pulang.
Bersambung...
__ADS_1