
Flashback Off
"Kenapa aku jadi mengingatnya kembali? Sudahlah lupakan, move on Tania. Lelaki yang tidak mau berjuang seperti itu untuk apa dipikirkan?" gumam tania kesal.
Tania kembali ke coffe shop nya, sambil melihat keadaan sekeliling dia merasa aman karena Joshua sudah tidak ada. Tania berjalan kembali keruangannya.
"Siang mbak Tania, sudah kembali makan siang ya?" tanya Tasya salah satu karyawan disana.
"Iya Tas, kamu sudah makan siang belum?" tanya Tania.
"Sudah mbak." jawab Tasya.
"Tas, aku mau nanya dong. Kamu tadi lihat laki-laki disana kan? Yang pakai kemeja biru, dia bersama wanita baju merah?" tanya Tania menginterograsi.
"Oh iya, kak Joshua? Lihat mbak, dia sering datang kesini kalau weekend dan wanita itu sepertinya pacar barunya Mbak. Sebelumnya selama kesini, kak Joshua belum pernah sama wanita." jelas Tasya.
"Loh kok kamu tahu namanya Joshua? Kamu kenal dari mana?" tanya Tania semakin curiga.
"Kan dia buat kartu anggota Mbak dan setiap beli selalu pakai kartu anggota. Dan hampir setiap saya jaga sebagai kasir, kak Joshua selalu saya layani." jelas Tasya lagi. "Kenapa sih Mbak? Mbak naksir? Jangan mbak, sudah punya pacar. Jangan jadi pelakor mba." ucap Tasya terkekeh.
"Ngawur kamu. Aku mau tahu aja, soalnya dia seperti kakak kelas aku waktu SMA. Ternyata benar dia Kak Joshua. Yasudah T asya, lanjutkan kembali pekerjaan kamu. Aku juga mau kembali menyelesaikan laporan. Jangan lupa, besok gajian ya." ucap Tania sambil mengedipkan matanya yang disambut senyuman manis Tasya.
"Hebat sekali dia sudah punya pasangan baru. Cepat sekali melupakan aku. 1,5 tahun adalah waktu yang cepat untuk mendapatkan pasangan baru." gerutu Tania. "Aduh kenapa sih aku ini memikirkan Joshua lagi? Apa mungkin mereka benar pacaran?" gumam Tania. "Sudahlah, bukan urusanku. Kenapa aku memikirkannya kembali. Ya Tuhan. Fokus Tania, kamu harus fokus." ucap Tania semangat sambil mengepalkan tangan kanannya keatas.
Sambil melihat laporan, Tania melihat jadwal penyewaan coffe shopnya.
"Minggu depan akan dipakai acara tunangan adik dari pemilik PT. TIRTANIA JAYA" gumam Tania.
"Kenapa memilih tempat seperti ini? Mereka kan bisa sewa gedung yang mewah." batin Tania.
***
Di Rumah Tania
"Mbak Tania mau makan malam apa biar bibi masakin?" tanya bibi Dini di depan pintu kamar Tania.
"Iya bi, sebentar Tania keluar." jawab Tania sambil menuju pintu. "Tania bingung Bi mau makan apa, terserah Bibi aja deh asal jangan pedas seperti ucapan netizen." ucap Tania terkekeh.
Bibi Dini bingung mendengar jawaban Tania.
__ADS_1
"Ya udah bibi masak ayam goreng sama sayur sop saja ya mbak." jawab Bibi, Tania mengiyakan.
Tania kembali ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kembali membuka foto-foto lamanya bersama mantan kekasihnya Joshua. Foto-foto itu memang belum dihapus semua, karena masih ada rasa tidak tega untuk menghapusnya. Tidak terasa Tania tertidur dan handphone terjatuh di kasur.
"Mbak Tania, makan Mbak sudah jadi makanannya." ucap bibi Dini diiringi ketukan di pintu kamar Tania namun tidak ada jawaban dari kamar. "Mbak Tania, mbak tidur ya?" ucap bibi Dini kembali kali ini sambil membuka pintu kamar Tania dan masuk ke dalam. Bibi Dini melihat Tania lelap tertidur, berusaha membangunkannya dengan mengoyang-goyangkan tubuhnya. "Mbak, bangun Mbak. Makan dulu mbak, nanti maag nya mbak Tania kambuh." ucap bibi Dini kembali, berusaha membangunkan Tania.
Tania akhirnya bangun dengan wajah masih mengantuk.
"Iya Bi, Tania ngantuk. Cubit Tania Bi, biar bangun." jawab Tania dengan lemas.
Bibi Dini pun mencubit tangan Tania. Hal ini biasa Bibi Dini lakukan, karena permintaan Tania. Bibi Dini sudah hafal setiap sikap dan sifat Tania karena sudah menjaga Tania dari kecil.
"Ayo Mbak makan, nanti dingin makanannya engga enak." ucap Bibi Dini kembali.
"Iya Bi." jawab Tania lemas, sambil berusaha bangun dan turun ke ruang makan. "Bibi makan bareng Tania ya. Bibi belum makan kan?" tanya Tania sambil berjalan bersama Bibi menuju ruang makan.
"Iya Bibi temenin." jawab Bibi.
Bibi Dini dan Tania makan malam bersama, hal ini sudah biasa mereka lakukan. Bibi Dini juga tidak canggung karena Orangtua Tania juga tidak masalah dengan hal itu.
"Halo sayang." suara seorang wanita tiba-tiba mengagetkan Tania yang sedang makan membuat Bibi Dini tertawa.
"Papa masih di Tokyo sayang, Mama kesini cuma beberapa hari karena mau ketemu anak Mama yang paling cantik." ucap Mama Tania sambil menyelipkan anak rambut Tania di telinganya.
"Asik ada Mama, besok kita shopping yuk Ma." ucap Tania manja.
"Maaf ya sayang, Mama kesini sebenarnya ada urusan sama Tante Lidya. Jadi kemungkinan Mama engga bisa pergi sayang, Mama harus kembali lusa. " ucap Mama Tania sambil mengelus kepala puterinya.
"Yah kenapa buru-buru sih Ma?" ucap Tania sedih sambil memeluk Mamanya.
"Ada urusan sayang, Mama juga sudah lama engga ketemu Tante Lidya. Mudah-mudahan urusannya lancar, jadi kamu bahagia juga." jawab Mama Tania sambil mencolek hidung puterinya itu.
"Ada apa sih Ma? Bikin penasaran aja." gerutu Tania.
"Sudah, pokoknya kamu tenang aja sayang. Sudah lanjutkan makannya. Bibi ini ada oleh-oleh, tolong dibagi-bagi untuk Bibi Dini, Pak Subur, Mbak Desi. Sudah saya namakan semua." ucap Mama Tania sambil memberikan bungkusan.
"Baik Bu Dina." jawab Bibi Dini, sambil membawa bungkusan oleh-oleh.
"Ma, malam ini aku tidur sama Mama ya?" rayu Tania pada Mamanya.
__ADS_1
"Boleh sayang, sekarang Mama mandi dulu ya. Nanti kamu langsung ke kamar aja." jawab Mama Tania.
"Iya Mama." jawab Tania sambil membereskan piring dan gelas bekas makannya.
Memang Tania anak yang manja, tapi Orangtua nya selalu mengajarkan sebisa mungkin tidak boleh merepotkan orang lain terutama untuk urusan bersih-bersih atau membersihkan hal-hal kecil seperti cuci piring, selama bisa dilakukan sendiri tidak perlu dikerjakan asisten rumah tangga.
Tania dan Mamanya sudah berada di dalam kamar Mamanya. Tania merebahkan tubuhnya disamping Mamanya sambil memeluk sebuah bantal dan menatap ke langit-langit kamar.
"Ma, Tania tadi ketemu Joshua di coffee shop Tania. Dia sama perempuan, cantik Ma." cerita Tania pada Mamanya.
"Terus kamu nyapa dia? Ajak kenalan dong pacar barunya." goda Mamanya sambil tertawa.
"Mama selalu deh godain aku. Aku udah move on Ma. Cuma aku belum ketemu aja laki-laki yang cocok." jawab Tania kesal sambil memeluk bantal erat.
"Iya sayang. Nanti pasti ada laki-laki baik hati yang jadi jodoh kamu kok." ucap Mamanya sambil mengelus kepala Tania. "Ya sudah tidur yuk, sudah malam"
***
Di Rumah Tante Lidya
"Halo Dina, apa kabar?" sapa Tante Lidya pada Mama Tania.
"Baik Lid, kamu gimana? Makin cantik aja." jawab Mama Tania.
"Bisa aja kamu, kamu kan yang bintang SMA dulu." jawab Tante Lidya sambil tersenyum. "Duduk sini Din, jadi gimana rencana kita kemarin?" ucap Tante Lidya lagi.
"Jadi gini Lid, aku sudah ketemu sama supplier perhiasannya tadi sebelum kesini. Dia akan kasih kita katalog. Cuma besok aku harus kembali ke Jepang, jadi nanti kamu bisa liat-liat dulu katalog dari suppliernya ya." jelas Mama Tania.
"Oke Din, terus untuk rencana lokasi toko nya kamu sudah ada tempat? Aku ada sih di mall. Kebetulan mall nya punya ponakanku, nanti aku tanyain dulu ke dia." jawab Tante Lidya.
"Ponakanmu Kaleb atau Kania Lid?" jawab Mama Tania antusias.
"Kaleb Din, ya sebenarnya itu warisan dari Orangtua mereka. Tapi karena Orangtua mereka sudah meninggal, jadilah Kaleb yang harus mengurusnya." jelas Tante Lidya. "Ngomong-ngomong, anakmu Tania gimana Din? Sudah mau menikah?" tanya Tante Lidya kembali.
"Belum Lid, sebelum lulus kuliah dia putus sama pacarnya. Sampai sekarang belum ada yang nempel lagi. Dia juga masih sibuk urus bisnisnya sih." jawab Mama Tania.
"Gimana kalau mereka kita jodohin aja Din? Kaleb sama Tania? Siapa tau mereka cocok." ucap Tante Lidya dengan antusias.
"Boleh juga tuh Lid, tapi itu urusan nanti lah. Aku coba ngobrol dulu sama Tania. Kita jadi ngelantur nih, kita bahas toko berlian kita lagi yuk." jawab Mama Tania.
__ADS_1
Bersambung...