Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 22 - Egois


__ADS_3

Pagi ini cuaca mendung, awan gelap, petir menggelegar. Hujan yang sangat deras mengguyur ibukota. Sepertinya cuaca sedang tidak baik, sama dengan suasana hati Tania saat ini. Tadi pagi saat sedang bersiap-siap, Kaleb menerornya melalui telepon dan pesan memaksa bertemu hari ini. Tania masih sakit hati dengan amarah Kaleb kemarin yang meledak-ledak. Bila mengingat kejadian kemarin, rasanya ingin pergi sejauh mungkin dan berteriak. Begitu pikiran Tania saat itu.


"Mbak Tania, ngelamun aja." Tasya mengagetkan lamunan Tania yang sedang menyeruput es kopinya. "Kenapa sih Mbak, Tasya perhatiin dari kemarin sedih terus." tanya Tasya yang saat ini sedang mengelus-elus punggung tangan Tania.


"Biasalah Tas, masalah cinta. Rumit." tutur Tania.


Tania dan Tasya saling bercerita mengenai masalah percintaan mereka, Tania hanya sedikit bercerita mengenai hubungannya saat ini dengan Kaleb dan Donny dan bagaimana dia dan Kaleb saat ini sedang bertengkar.


"Ya ampun Mbak, aku kira Mbak Tania masih sama Mas Kaleb. Ternyata sudah putus tus tus." tutur Tasya.


"Ya gitulah Tas, namanya juga jodoh ga ada yang tahu." tutur Tania.


"Tapi aku belum lihat nih yang namanya Mas Donny kaya gimana, pasti ga kalah ganteng kaya Mas Kaleb." ucap Tasya sambil terkekeh.


"Kamu ini. Eh Tas ada customer tuh." ucap Tania, lalu Tasya kembali ke meja kasir. Tania pun berlalu dan kembali ke ruang kerjanya. Dia merindukan orang-orang yang dicintainya, Mamah, Papah.


***


Kantor PT. Tirtania Jaya


"Nama kamu Donny?" tanya Kaleb pada Donny. Donny saat ini sedang berada di ruang kerja Kaleb dan mendudukan tubuhnya di seberang Kaleb. Donny sangat terkejut ketika dia mendapat sambungan interkom dari Dirga asisten pribadi Tuan Kaleb bila dia dipanggil.


***


Epilog


"Dirga, tolong panggilkan Manajer baru itu, Donny." pinta Kaleb pada Dirga melalui sambungan interkom.


"Baik Tuan." saut Dirga dan diakhiri dengan ditutupnya panggilan telepon itu.


Kurang lebih sepuluh menit, Donny sudah sampai di ruang kerja Kaleb. Dengan perasaan yang masih was-was, Donny mengetuk pintu ruang kerja Kaleb.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Masuk" perintah Kaleb.


***


"I-iya Tuan." jawab Donny gugup.


"Sudah berapa lama kamu kerja di anak perusahan Tirtania Jaya yang di Jogja?" tanya Kaleb lagi.


"Hampir dua tahun Tuan." jawab Donny kali ini dia bisa menghilangkan sedikit rasa gugupnya.


"Hem, saya baca Daftar Riwayat Hidup kamu. Kamu lulusan salah satu universitas terbaik di Jogja dan mengambil jurusan bisnis? Kenapa kamu tidak membuka bisnis?" tanya Kaleb lagi menginterogasi.


"Saya memang mengambil jurusan bisnis, tetapi passion saya tidak ke arah sana Tuan. Saya lebih suka bekerja kantoran dan mengelola marketing perusahaan." jawab Donny.


Kaleb melakukan interogasi pada Donny seputar pekerjaan dan kuliahnya selama kurang lebih setengah jam. Kaleb ingin tahu seberapa pintar Donny hingga bisa menjadi manajer di usia nya yang masih muda. Ternyata melalui obrolan yang dilakukan terlihat memang Donny benar-benar pintar. Dia juga pintar bisa membuat Tania berpaling dari Kaleb.


Donny keluar dari ruangan Kaleb dengan menghembuskan nafasnya kasar dan keringat yang mengucur di kepalanya. Rasanya seperti sidang skripsi berada di ruangan sana bersama pemilik PT. Tirtania Jaya.


"Untung saja aku bisa menjawab semua pertanyaan Tuan Kaleb." Donny mengelus dadanya. "Tapi kenapa pertanyaannya kebanyakan saat aku sedang kuliah?" Donny menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berjalan menuju ke lift untuk kembali ke ruangannya.


***


Kaleb dan Dirga sudah berada di halaman parkir Tania Garden Kopi. Kaleb meminta tolong asisten pribadinya itu untuk mengantarkannya karena, dia takut bila Tania sudah berpesan pada security atau karyawan Tania Garden Kopi bila melihat mobilnya jangan diperbolehkan masuk mengingat sikap Tania yang mengacuhkan pesan dan teleponnya dari semalam hingga tadi pagi.


Kaleb turun dari mobil Dirga mengenakan kacamata hitam dan masuk ke Tania Garden Kopi. Tasya terkejut saat melihat Kaleb, ia ingin berlari memberitahukan Tania bila Kaleb datang namun, Kaleb dengan cepat menarik tangan Tasya dan mengkodekan dengan telunjuknya yang menyentuh bibir Kaleb agar diam.


Kaleb berjalan masuk ke ruangan kantor Tania. Dirga menunggu di ruang kafe sambil meneguk es kopinya. Kaleb berjalan dengan langkah perlahan hingga suara pantofelnya tidak terdengar, lalu dengan perlahan Kaleb membuka pintu ruangan Tania namun, kosong....


"Kemana Tania?" Kaleb menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pintu ruangan Tania kembali tertutup. Kaleb menunggu di ruangan kerja Tania sambil memeriksa ruangan yang mungil itu. Tiba tiba pintu ruangan Tania terbuka.


Ceklek


Kaleb dan Tania saling bertatapan selama beberapa detik. Tania langsung membuang mukanya dan berlalu dari ruangannnya namun, langkah kakinya berhasil disusul oleh Kaleb.


"Tania, tunggu!" seru Kaleb sambil menahan tangan Tania membuatnya terkunci diposisinya.


Tania segera membalikan tubuhnya, Kaleb mulai mendekati Tania. Saat ini wajah mereka sangat dekat, Kaleb menatap wajah Tania lebih dekat. Tania menarik nafasnya dalam-dalam dan memejamkan matanya, seketika itu Kaleb mengecup kening Tania dan memeluknya. Wajah Tania seketika merona merah.

__ADS_1


"Tania, jangan marah lagi ya. Aku takut kalau kamu marah." tutur Kaleb yang semakin mengeraskan pelukannya.


Tania hanya mematung, tangannya tidak bergerak sedikitpun. Tania menelan salivanya, rasanya berdebar-debar. Jantungnya berdetak tidak karuan. Kaleb saat ini mengelus puncuk kepala Tania.


"Kaleb, sudah." Tania berusaha melonggarkan pelukan Kaleb namun, usahanya sia-sia. Kaleb berhasil mengunci posisinya.


"Berjanji dulu, kamu jangan marah lagi." pinta Kaleb.


"I-iya Kaleb." tutur Tania.


Kaleb mulai mengendurkan pelukannya dan melepaskan pelukan itu. Kaleb kembali mengelus puncuk kepala Tania dan menyelipkan rambut di belakang daun telinga Tania.


"Tania, aku ingin berbicara." pinta Kaleb. Tania mengiyakan dan mereka berdua berjalan masuk ke kantor Tania.


Kaleb dan Tania sudah mendudukan tubuhnya di kursi yang berada di ruang kerja Tania.


"Kaleb, aku banyak pekerjaan. Jadi lekaslah katakan." pinta Tania.


"Tania, aku hanya ingin minta maaf kemarin aku terlalu emosi." tutur Kaleb. "A-aku." perkataan Kaleb tiba-tiba terputus, rasanya tenggorokkannya berat untuk mengeluarkan kata-kata.


Tania mengerutkan dahinya dan tangannya bersedekap di atas perutnya.


"Kenapa Kaleb?" tanya Tania dengan ketus.


"Aku tidak rela kamu dekat dengan laki-laki lain." tutur Kaleb yang saat ini sedang menundukan kepalanya.


Mendengar perkataan Kaleb, Tania menghembuskan nafasnya berat dan memutar bola matanya. Tania bingung menanggapi Kaleb saat ini. Tania tidak boleh dekat dengan laki-laki lain, sedangkan Kaleb akan segera menikah.


"Kamu sangat egois Kaleb!" seru Tania sambil bersedekap tangannya di atas perut. "Aku tidak boleh dekat dengan laki-laki lain, sedangkan kamu sendiri akan menikah?" tutur Tania.


Kaleb menatap Tania dengan raut wajah yang sedih.


"Bukan begitu Tan-"


"Kaleb sudahlah, aku akan benar-benar mencoba melupakanmu!" tukas Tania yang masih bersedekap sambil menatap ke sebelah kirinya. Mengacuhkan pandangannya pada Kaleb yang berada di depannya.


*Bersambung...

__ADS_1


lagi seru, tiba-tiba bersambung. Sabar ya, besok dilanjut lagi. Jangan lupa vote, komen dan like ya biar semangat Update. Terimakasih*. ^^


__ADS_2