Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 34 - Restu (2)


__ADS_3

Nenek bergegas mengangkat ponselnya yang berdering, yang membuat perkataan Kaleb tiba-tiba terputus.


“Halo? Sayang masuk saja tidak apa-apa.” ucap Nenek lembut pada lawan bicaranya.


Setelah selesai menerima panggilan telepon, Nenek kembali mendudukkan tubuhnya di kursi ruang makan.


“Lanjutkan Kaleb.” pinta Nenek.


“Nenek, aku ingin menikah dengan Tania.” ucap Kaleb sambil memegang tangan Tania, membuat Tania terkesiap.


“Menikah? dengan gadis biasa?” ucap Nenek dengan nada suara tidak suka.


“Apakah salah bila aku menikah dengannya?” tanya Kaleb.


Bel pintu rumah berbunyi, dua orang gadis masuk ke dalam rumah itu. Nenek segera menyambut kedua gadis itu dengan pelukan hangat. Tania memperhatikan dari kejauhan.


“Astaga, itu kan Jessica.” gumam Tania di telinga Kaleb.


“Jessica, Bianca ikut bergabung makan malam sama kita yuk.” ajak Nenek.


Pandangan Jessica berubah saat melihat Tania yang berada di kursi ruang makan itu.


“Nenek, kenapa ada gadis centil itu disini?” ucap Jessica sambil menunjuk ke arah Tania.

__ADS_1


“Tidak tahu, dia temannya Kania.” ucap Nenek ketus.


Tania hanya menundukkan kepalanya, walaupun keluarganya memang tidak memliki perusahaan apapun tapi keluarganya bisa dibilang berkecukupan, tetapi entah kenapa hati Tania rasanya sangat sedih mendengar ucapan Nenek Kaleb tadi. Namun, Tania berusaha tegar dan tetap memberikan senyuman terbaiknya. Apalagi saat ini ada Jessica, Tania tidak boleh terlihat lemah.


“Aku calon isteri Kaleb, cucunya Nenek jadi wajar bila aku ada disini.” tutur Tania.


“Isteri? Jangan mimpi!” seru Jessica. “Yang akan menjadi calon isteri dan isteri Kaleb adalah Bianca Rasdianto, calon penerus Perusahaan RA Group.” imbuh Jesscia.


Kaleb lekas berdiri setelah mendengar perkataan Jessica.


“Maksud Nenek apa? Nenek mau menjodohkanku?” tutur Kaleb kesal.


“Tentu saja Kaleb, Nenek akan menjodohkanmu dengan anak seorang pengusaha.” tutur Nenek.


Tania yang mendengar hal itu sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi dan lekas meninggalkan ruang makan, diikuti oleh Kaleb, Kania dan Danesh.


Saat berada di luar rumah, Tania berhenti dan menangis sambil memeluk Kania.


“Tania sudah, maafkan Nenekku ya.” ucap Kania sambil memeluk dan mengelus kepala Tania.


Kaleb yang baru saja datang segera memeluk Tania.


“Tania, maaf ya. Aku berjanji, Nenek akan memberikan restu pada hubungan kita.” ucap Kaleb.

__ADS_1


“Aku hanya ingin pulang.” ucap Tania sambil menangis.


“Iya, kita pulang.” ujar Kaleb, sambil merogoh kunci yang ada di kantongnya dan melemparkannya pada Danesh. Namun sialnya kunci yang dilempar Kaleb tidak berhasil ditangkap oleh Danesh dan malah jatuh ke kolam yang berada di teras.


“Sial.” gumam Kaleb.


Danesh segera melipat celananya dan masuk ke dalam kolam berusaha mencari kunci itu dibantu oleh Kania menggunakan penerangan dari ponsel milik Kania.


“Ada-ada saja sih kamu sayang. Nangkep kunci saja tidak bisa.” keluh Kania pada Danesh.


“Ya Kakakmu tiba-tiba saja lempar kuncinya, tentu saja aku belum siap menangkapnya.” ujar Danesh berusaha membela diri.


Kaleb yang masih memeluk Tania memeggangi kepalanya karena adik dan adik iparnya itu malah bertengkar perihal kunci.


“Sudah jangan bertengkar, lekas cari kuncinya.” perintah Kaleb.


Kania dan Danesh hanya bisa mendengus kesal. Kaleb mengajak Tania berjalan pelan menuju ke mobil sambil menunggu Danesh menemukan kuncinya.


“Ini dia ketemu!” seru Danesh sambil memegang kunci mobil itu dengan tangan yang basah.


“Ya sudah kita lekas ke mobil.” perintah Kania.


 

__ADS_1


 


Bersambung…. 


__ADS_2