Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 23- Ikhlas


__ADS_3

Kaleb masih terdiam mendengar perkataan Tania. Rasanya sakit. Belum pernah Kaleb merasakan sakit hati hingga seperti ini, dengan Lita pun tidak saat Lita menolak cintanya. Kaleb tidak ingin Tania melupakannya.


"Tania, apakah aku boleh berbicara?" tanya Kaleb menatap wajah Tania dengan memelas.


"Silahkan." saut Tania yang masih bersedekap .


"Tania, setelah aku pulang dari Singapore kemarin aku berpikir bila aku tidak bisa berpura-pura mencintai Lita." tutur Kaleb.


"Kenapa?" tukas Tania. "Kita saja bisa pura-pura pacaran beberapa bulan belakangan ini." imbuh Tania.


"Karena dulu aku tidak memiliki perasaan pada siapapun. Tapi sekarang, aku memiliki perasaan pada seseorang. Aku memiliki perasaan padamu." tutur Kaleb. "Aku akan memperjuangkan perasaan ini." imbuh Kaleb.


Dada Tania serasa sesak mendengar perkataan Kaleb. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin Kaleb bisa memilih Tania. Tania juga tidak tega terhadap Lita. Walau bagaimana pun juga mereka adalah sesama perempuan. Tania juga tidak bisa membayangkan, bila saat ini dia lah yang ada di posisi Lita. Tania menggelengkan kepalanya membayangkan semuanya itu. Rasanya lebih baik Tania yang mengalah. Tania masih memiliki kesempatan untuk mencintai sedangkan Lita hanya memiliki sedikit waktu merasakan cinta.


"Kaleb." panggil Tania dengan suara yang merendah. Rasanya amarah yang tadi meluap-luap berhasil reda. Kaleb menatap Tania yang saat ini terlihat menahan air mata, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Jangan tinggalkan Lita." pinta Tania dengan suaranya yang serak. "Lita layak mendapatkan kebahagiaan bersamamu. Sayangilah dan cintailah Lita. Aku akan berusaha ikhlas melepasmu." tutur Tania dengan air matanya yang sudah bisa terbendung.


Saat ini Kaleb menatap Tania dan mendekatinya, membawa Tania agar mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya. Tania menangis sesegukan, air matanya sudah tumpah. Kaleb mencoba menenangkan Tania dengan mengelus-elus lengan Tania dan sesekali mencium puncuk kepala Tania.


"Tania, kumohon jangan menangis lagi. Aku tidak mau melihatmu bersedih." ucap Kaleb, kali ini sambil memeluk Tania. "Tania, aku berjanji akan berusaha sebisa mungkin untuk memperjuangkan cinta kita."


Tania menggelengkan kepalanya dan masih sesegukan sambil mengeratkan pelukannya pada Kaleb.


"Jangan Kaleb, lebih baik aku yang mundur. Bahagiakanlah Lita. Dia layak untuk mendapatkan kebahagiaan bersamamu." tutur Tania yang saat ini sudah lebih tenang. Tangisannya mulai mereda, walaupun masih ada setetes dua tetes air mata. Kaleb tak henti-hentinya memberikan pelukan dan kecupan pada puncuk kepala Tania.


"Tania, berikan aku waktu. Aku mohon selama satu bulan ini jangan dekat-dekat dengan pria lain." pinta Kaleb. "Lita sudah mengetahui bila aku memang tidak memiliki perasaan apapun padanya. Hal itu memang berpengaruh pada kesehatannya tapi tidak banyak dan saat ini kondisinya sudah lebih baik lagi." tutur Kaleb.


***


Epilog


Dua Hari Lalu di Singapore


Pagi yang cerah, seperti biasa Kaleb akan mengajak Lita berjalan-jalan menggunakan kursi rodanya. Sebenarnya Lita ingin berjalan biasa namun, Kaleb tidak mengizinkan. Sambil santai menikmati udara pagi yang segar dan mendengar kicauan burung Kaleb dan Lita berjalan ke taman rumah sakit. Lita menghirup udara dalam-dalam.


"Kaleb, Mamaku bilang minggu depan aku sudah bisa pulang, apakah benar?" tanya Lita.

__ADS_1


"Iya, Lita. Kamu harus cepat sehat agar bisa pulang." pinta Kaleb.


"Dan kita bisa segera melaksanakan resepsi pernikahan kita." ucap Lita tersenyum. Kaleb tidak menjawab ucapan Lita. Dia hanya terdiam dan sejenak berhenti mendorong kursi roda yang ditumpangi Lita.


"Kaleb?" Lita mendongakan kepalanya ke kanan untuk melihat raut wajah Kaleb.


"Iya?" saut Kaleb.


"Kaleb, sepertinya kamu belum bisa menerima rencana pernikahan kita?" tanya Lita.


"Aku tidak pernah berkata seperti itu." saut Kaleb.


"Kaleb, aku ingin menikahi pria yang mencintaiku." tutur Lita dengan suaranya yang merendah, seperti mengukirkan kesedihan di balik suaranya itu.


Kaleb langsung berjalan dan berjongkok di depan Lita dan memegang pegangan tangan di kursi roda Lita.


"Lita jangan berpikir seperti itu, aku akan berusaha mencintaimu." ucap Kaleb sambil menatap Lita, namun dari tatapan matanya Lita tahu bila Kaleb sedang berbohong.


"Kaleb, tidak perlu menghiburku seperti itu." tutur Lita sambil menangkup pipi Kaleb. "Lebih baik kita kembali ke kamar rawatku. Aku ingin sendiri sekarang." tutur Lita sambil tersenyum.


"Baiklah, tapi kamu jangan bersedih Lit. Kumohon. Itu tidak baik untuk proses kesembuhanmu." tutur Kaleb.


"Iya, ada manajer baru selain itu ada pekerjaan yang harus kuselesaikan." saut Kaleb.


Saat ini Kaleb sudah berposisi mendorong kursi roda Lita kembali menuju ke kamarnya.


Lita dan Kaleb sudah berada di kamar rawat tempat Lita. Lita membaringkan tubuhnya dan Kaleb mendudukan tubuhnya di samping Lita. Papa Lita saat ini sedang ke Indonesia untuk mengurus beberapa pekerjaan selama beberapa hari, sedangkan Mama Lita sedang menemui saudaranya yang tinggal disini. Jadi, untuk sementara waktu Kaleb harus mendampingi Lita.


"Kaleb, aku ingin sendiri." tutur Lita, Kaleb mengiyakan permintaan Lita dan beranjak meninggalkan ruang rawat. "Kaleb." panggil Lita, seketika itu langkah kaki Kaleb terhenti dan Kaleb menoleh ke arah Lita.


"Iya." saut Kaleb.


"Bila memang bukan aku kebahagiaanmu, kejarlah kebahagiaanmu." pinta Lita sambil tersenyum. Kaleb membalas senyuman Lita dan beranjak keluar dari kamar itu.


Kaleb mendudukan tubuhnya di kursi ruang tunggu dan mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Arrrgh." umpat Kaleb. "Apakah maksud dari perkataan Lita tadi, dia mau bila kita tidak jadi menikah?" gumam Kaleb. "Tapi bagaimana dengan Om dan Tante?" imbuh Kaleb. "Tapi, benar ucapan Lita. Aku harus mengejar kebahagiaanku." tutur Kaleb.

__ADS_1


Seketika itu juga, Kaleb langsung terpikirkan Tania. Saat dijakarta, mereka harus bertemu. Itu yang dipikirkan Kaleb saat ini.


***


Sekarang


"Maksudmu, Kaleb?" tanya Tania yang sekarang memaksa melepaskan pelukan Kaleb.


"Lita bilang padaku bila dia ingin aku bahagia dengan pilihanku." tutur Kaleb. "Tapi..." ucapan Kaleb terputus.


"Kenapa?"


"Aku belum bicarakan ini pada Orangtua Lita." tutur Kaleb. "Aku tidak akan pergi ke Singapore lagi, Tan. Minggu depan Lita akan kembali ke Jakarta." imbuh Kaleb.


"Lalu?" tanya Tania lagi.


"Aku akan bicarakan ini pada Orangtua Lita." pinta Kaleb.


"Tapi aku tidak tega, Kaleb." Tania menatap Kaleb dengan wajahnya yang cemas.


"Tania, tenang saja. Aku sudah mengenal Lita sangat lama, dia adalah gadis yang baik dan tidak suka memaksakan kehendak." tutur Kaleb.


"Tapi apakah bijak bila dia harus terus berkorban? Dia sudah sakit dan sekarang satu-satunya yang bisa membahagiakannya pun meninggalkan dia." ucap Tania yang sudah berhenti menangis.


Tania bimbang, antara dia harus memilih Kaleb atau tidak. Walaupun Lita sudah memberikan lampu hijau, tapi dia sadar bila Lita juga berhak bahagia.


"Tania, kumohon padamu. Percayalah padaku, Lita akan baik-baik saja. Aku juga tidak meninggalkannya. Aku tetap mendampinginya di saat apapun." tutur Kaleb. "Sebagai seorang Kakak." imbuh Kaleb.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


^ Jangan Lupa vote, like, komen ya. Terimakasih ^


__ADS_2