
Tania, Kaleb, Kania dan Danesh sudah menyelesaikan sarapan dan segera berkemas. Rencana hari ini untuk jalan-jalan batal karena Tania harus pulang.
"Tania, jangan takut nanti aku temani." pinta Kania.
"Terimakasih, Kania." ucap Tania lembut.
Setelah itu, Tania dan Kaleb masuk ke mobil milik Kaleb sedangkan Kania dan Danesh masuk ke mobil Danesh.
"Nanti ketemu di rumah Tania ya." ucap Kaleb. Kania dan Danesh mengganggukkan kepalanya.
Di dalam mobil, Kaleb dan Tania berbincang.
"Memang, Mama kalau marah seram ya?" tanya Kaleb dengan keheranan pada Tania.
Tania mengganggukan kepalanya dan masih memasang wajah sendu.
Sebenarnya hal terbesar yang menjadi momok dalam pikiran Tania adalah Nenek Kaleb yang tidak merestui hubungan mereka, dan ada penghalang mereka Bianca. Wanita yang ingin dijodohkan dengan Kaleb, Bianca gadis yang cantik dan juga kaya raya. Jika Tania disandingkan dengannya, sungguh sangat jauh bagaikan langit dan bumi.
"Kaleb, nanti kalian semua masuk ke rumah ya." pinta Tania. "Aku takut kalau ketahuan Mama menginap tanpa izin." ucap Tania.
"Ya ampun, memang kamu nggak boleh nginap-nginap ya?" tanya Kaleb.
__ADS_1
"Sebenarnya boleh, asal izin dulu dan pergi sama siapa saja." tutur Tania. "Tapi kalau izin dulu, pasti lama dan berbelit-belit. Harus diinterogasi dulu." ucap Tania sambil tersenyum kecil.
Melihat senyuman yang terpancar dari wajah gadis yang dicintainya itu membuat hati Kaleb sedikit tenang. Semoga saja, Tania tidak terus memikirkan kejadian semalam. Kaleb takut Tania trauma dan memilih untuk tidak mau menjalani hubungan ini lagi.
Tiba-tiba Tania memegang tangan kiri Kaleb dengan erat.
"Kenapa? Kamu takut kehilangan aku ya?" tanya Kaleb sambil melirik Tania yang sedang mengerucutkan bibirnya.
Tania mengganggukan kepalanya.
"Jangan tinggalin aku ya, aku sayang kamu." ucap Tania tulus.
"Aku lebih sayang kamu." saut Kaleb sambil mengelus puncuk kepala Tania. "Kamu istirahat saja Tania." pinta Kaleb.
Setelah perjalanan yang cukup jauh hingga hari terik, mereka tiba di kediaman Asmara. Tania dan Kaleb bergegas turun, terlihat Kania dan Danesh sudah tiba lebih dulu. Mereka juga turun dari mobil dan mulai masuk ke pekarangan rumah Tania dan menuju ke pintu utama. Tania membuka pintu utama rumahnya.
Ceklek.
Tania membuka pintu ruang utama, terlihat Mama dan Papanya sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Mama, Papa." teriak Tania sambil berlari kecil memeluk Mama dan Papanya.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja? Kenapa nggak cerita sama Bibi Dini?" tanya Mamanya.
"Maaf Ma, Ma ada Kaleb, Kania dan Danesh. Kenalin Kania sama Danesh Ma. Kalau Papa kenalin semuanya ya." ucap Tania manja.
"Halo Om, Tante." sapa Kania, Kaleb dan Danesh bergantian.
"Ayo silahkan duduk." pinta Mama Tania sambil beranjak berdiri menuju ke dapur.
"Maaf ya Om, Tania kemarin habis menginap di Villa saya." tutur Kaleb membuat mata Papa Tania membulat. "Tapi tenang Om, Tania tidurnya sama Kania kok." imbuh Kaleb, membuat Papa Tania lega.
"Memang ini Tania, mentang-mentang Orangtuanya di luar negeri pergi suka seenaknya." tutur Ayah Tania kesal.
"Papa, maaf. Malu." ucap Tania lirih.
"Kebetulan ini sudah siang, kita makan siang dulu yuk!" ajak Mama Tania yang baru kembali dari dapur.
"Wah, nggak usah Tante ngerepotin." tutur Kaleb.
"Nggak apa-apa, masa nggak enak sama camer." ucap Mama Tania sambil tersenyum.
"Yuk, makan yuk." ajak Tania.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua menuju ke ruang makan untuk menikmati makan siang bersama. Mereka menikmati makan siang sambil berbincang antara Mama dan Papa Tania juga Kaleb. Dari pemandangan ini terlihat bila Mama dan Papa Tania menyukai Kaleb dan merestui hubungan mereka.
Bersambung...