Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 9 - Maaf


__ADS_3

"Pak, tolong keruangan saya." Kaleb memanggil Joshua melalui telepon.


Tidak berapa lama, Joshua datang keruangannya. Joshua bermaksud menjelaskan kejadian yang menimpa Tania kemarin. Kejadian itu benar adalah perbuatan Jessica, Joshua bermaksud meminta maaf atas perilaku calon istrinya itu.


"Pak Joshua, saya tahu bila Bapak adalah mantan kekasih Tania. Mohon maaf juga bila untuk kedua kalinya saya memanggil Bapak di ruangan kantor ini untuk membahas masalah Tania. Tapi tolong Bapak bisa menasehati dan mengajarkan lebih baik lagi calon istri Bapak. Bila memang calon istri Bapak tidak bisa diberitahu dengan baik, saya bisa melakukan dengan cara saya!" Kaleb tersenyum tipis.


"Sekali lagi saya mohon maaf Pak, siang ini saat jam makan siang saya akan mengajak Jessica bertemu dengan Tania untuk meminta maaf." jelas Joshua.


"Saya harap tidak hanya permintaan maaf yang calon istri Bapak dapatkan, tapi juga teguran." imbuh Kaleb, Joshua mengganggukan kepalanya.


"Baiklah. Bapak boleh meninggalkan ruangan ini." Kaleb mempersilahkan Joshua keluar dengan mengangkat tangannya menuju pintu ruangannya.


"Terimakasih Pak, saya permisi." pamit Joshua.


"Bikin malu saja kau Jessica!" gumam Joshua sambil mengepal-ngepal tangannya.


Ponsel Joshua berdering.


"Halo?" ucap Joshua.


"Halo kak Joshua, ini Tasya. Kak, jadi mau ketemu Mbak Tania hari ini?" tanya Tasya.


"Iya Mbak, apa Tanianya ada? Boleh aku bicara?"


"Sebentar ya kak."


Tasya menutup speaker teleponnya dan berbicara dengan Tania dengan suara pelan.


"Mbak, dia mau ngomong sama Mbak?" Tasya menyodorkan ponselnya dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Tania. Tania mengkodekan agar Tasya bilang bila dia sedang rapat.


"Kak Joshua maaf, Mbak Tanianya sedang rapat. Tadi Mbak Tania yang minta tolong aku untuk telepon Kakak." jelas Tasya, Tania menganggukan kepala dan memberikan ibu jarinya pada Tasya.


"Ya sudah, sampaikan pada Tania nanti istirahat makan siang aku kesana. Terimakasih Tasya." panggilan telepon itu pun di akhiri, Tasya mengelus dadanya dengan satu tangannya menandakan kelegaan setelah telepon itu dan menyampaikan pesan Joshua pada Tania.


Pk.12.30 WIB


Joshua dan Jessica datang ke TANIA GARDEN KOPI. Mereka berdua langsung menemui Tasya dan mencari Tania.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan diruangan Tania.


"Mbak Tania, Kak Joshua sama kekasihnya sudah datang." ucap Tasya dari balik pintu ruangan Tania.


"Iya Tas sebentar, lima menit lagi aku keluar." Tania yang sedang menikmati makan siangnya bergegas membersihkan mulutnya dan membereskan meja kerja. Dia memoles wajahnya dengan make up tipis.


"Aku tidak boleh terlihat kumal di depan Joshua." gumam Tania.


Setelah memoleskan lipstick, Tania berjalan menemui Joshua dan Jessica.

__ADS_1


Tania mendudukan tubuhnya di seberang Joshua dan Jessica.


"Halo Tania." Joshua mengulurkan tangannya, namun tidak dihiraukan Tania. Tania hanya tersenyum. "Jessica cepat jelaskan!" seru Joshua dengan pandangan sinis pada Jessica.


Jessica memasang wajah cemberut dan tidak suka dan berkata "Maaf." sambil mengulurkan tangannya.


"Maaf? Untuk apa?" Tania terlihat kebingungan.


"Jessica, berbicaralah yang benar! Atau..."


"Atau apa? Membatalkan pernikahan kita? Batalkan saja dan biarkan perusahaan Papamu akan bangkrut!" tukas Jessica sambil bangkit dari tempat duduknya ingin beranjak pergi, namun Joshua memegang tangannya.


"Jessica bicara apa kamu!" seru Joshua.


"Tania dengarkan ya, yang menyuruh preman itu mengambil tasmu adalah aku. Dan aku juga yang menyuruh mereka melukai tanganmu ini!" Jessica menunjuk pergelangan tangan Tania lalu bersedekap dada. "Jangan coba-coba ganggu Joshua lagi! Atau akan ada hal lain yang..."


"Jessica sudah cukup!" tukas Joshua sambil berteriak.


Tania hanya diam saja melihat kejadian ini, dia bingung tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba Kaleb muncul.


"Halo semuanya." sapa Kaleb yang baru saja masuk.


"Kaleb." Tania tersenyum dan berlari menghampiri Kaleb seraya memeluk laki-laki itu.


"Kenapa Tania?" Kaleb terkejut dan mengelus punggung Tania. Kaleb ingin melepaskan pelukan itu, namun Tania menahannya.


"Joshua ada apa ini? Apakah calon istrimu sudah meminta maaf pada kekasihku?" Kaleb mengelus kepala Tania.


Joshua hanya terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa.


"Jessica sudah diam!" Joshua berteriak lagi kali ini. Jessica berlalu sambil menarik tangan Joshua meninggalkan Kaleb dan Tania.


Karyawan yang melihat kejadian ini hanya bisa mematung. Tak terasa butiran-butiran air di kedua mata Tania mulai keluar.


"Tania, kamu kenapa? Sudah tidak usah dipikirkan." Kaleb berusaha menenangkan Tania.


"Aku hanya tidak percaya ada orang sejahat itu. Kenapa aku harus menderita karena Joshua terus Kaleb? Apa salahku?" Tania masih menangis.


"Tania, bagaimana kalau kita makan es krim?" ajak Kaleb. Tania menganggukan kepalanya.


"Bersihkan dulu wajahmu itu, aku malu bila orang-orang melihatmu dengan wajah seperti itu." Kaleb tertawa.


"Ih dasar kamu!" Tania mencubit Kaleb dipinggangnya.


"Aduuh sakit." keluh Kaleb.


Setelah Tania mencuci wajahnya, dan memoleskan kembali make up tipis. Tania menghampiri Kaleb dan mereka sudah berada di dalam mobil. Kaleb melajukan mobilnya dan menuju toko es krim yang pernah mereka kunjungi.


Tania memesan es krim strawberry sedangkan Kaleb memesan es krim coklat.


"Kaleb terimakasih ya. Untung saja tadi kau datang, kalau tidak aku tidak tahu nanti akan seperti apa." ujar Tania.


"Tak usah dipikirkan Tania, kita kan teman." Kaleb tersenyum.

__ADS_1


"Andai saja pura-pura pacaran ini benar jadi kenyataan." gumam Tania dalam hatinya.


"Tania, pernikahan Kania 3 minggu lagi. Aku ingin mengajakmu membeli gaun." pinta Kaleb.


"Beli gaun? Dimana?" Tania mengernyitkan dahi.


"Tentu saja di butik, tidak mungkin di supermarket." Kaleb terkekeh.


"Iya aku tahu, maksudku di butik dimana?" Tania mengerucutkan bibirnya.


"Menggemaskan sekali sih kamu Tania, rasanya ingin kucubit pipimu." batin Kaleb.


"Ada di butik langganan Kania. Besok juga akan kukenalkan kamu pada Kania." ujar Kaleb.


Tiba-tiba ponsel Tania berbunyi.


"Nomor tidak dikenal." Tania melirik Kaleb.


"Siapa? Kenapa tidak diangkat?" seru Kaleb.


"Malas, nomornya tidak dikenal." jawab Tania.


"Ya sudah, sini aku yang angkat." Kaleb mengambil ponsel Tania dan mengangkatnya.


"Halo?" tidak ada jawaban dari telepon itu. "Halo ini siapa?" seru Kaleb. "Tidak jelas Tania, ini ponselmu." Kaleb mematikan sambungan telepon itu sambil mengembalikan ponsel Tania.


"Tuh kan sudah kubilang, nomor tidak dikenal tak penting untuk diangkat." Tania tertawa.


Kaleb mengacak-acak rambut Tania, mereka tertawa dan melanjutkan kembali obrolan mereka. Kaleb dan Tania menghabiskan waktu hingga larut, membuat Tania lupa akan kejadian yang telah menimpanya.


"Kaleb terimakasih banyak ya, hari ini aku senang sekali. Aku bisa melupakan masalahku." Tania tersenyum, Kaleb pun membalas senyuman Tania.


"Oh iya Kaleb, mobilku masih di coffe shop?" Tania menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau ini masih saja bingung, besok pagi aku akan menjemputmu." imbuh Kaleb.


"Baiklah." Tania melengkungkan senyumnya.


***


Tania sudah berada di kamarnya, dia merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Tidak hanya secara fisik, tapi hatinya juga lelah. Ponsel Tania berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Joshua :


Tania, ini aku Joshua. Tadi aku menghubungimu, tapi sepertinya yang mengangkat Pak Kaleb.


Tania:


Iya.


Setelah itu ponsel Tania berbunyi menandakan ada panggilan masuk, namun Tania tak mengangkatnya karena dia tahu itu dari Joshua.


"Mau apalagi dia? Apakah tidak cukup dia melukaiku?" gumam Tania. Akhirnya Tania mematikan ponselnya, karena Joshua tak henti-henti meneleponnya. Tania larut dalam tidurnya.

__ADS_1


Bersambung...


^Jangan lupa like dan komentar ya.^


__ADS_2