
Tania melihat jam yang terpasang dinding kamarnya menunjukkan waktu
pukul delapan pagi, Tania sudah kesiangan membuat dia tergesa-gesa
berangkat ke kantor.
Tania segera mengendarai mobil menuju ke kantor, Tania tergesa-gesa
mengingat hari ini ada meeting dengan klien yang ingin bekerjasama
dengan Coffee Shopnya. Sedangkan Tania belum menyiapkan materinya. Tania mengemudi
dengan kecepatan lumayan tinggi, sambil menyetir Tania berusaha
mencari ponsel yang ia rasa berada di dalam tasnya. Namun, sudah
berkali-kali mencari tidak berhasil ketemu juga. Akibat mencari
terlalu lama, Tania tidak fokus mengemudi dan mobilnya berbelok
menabrak sebuah pohon di pinggir jalan. Tania langsung terdiam, beruntung tidak terjadi apa-apa Tania hanya shock. Mobil
depannya penyok. Tania segera mencari ponselnya, yang ternyata tidak
ada di dalam tas.
"Bodoh banget sih aku!" seru Tania sambil menepok jidatnya.
Ada beberapa pengemudi motor yang berhenti untuk melihat kondisi Tania
dan mobilnya, Tania meminta tolong untuk meminjam ponsel milik salah
seorang pengemudi dan menelepon ke ponsel milik Bibi Dini.
"Halo? Bibi Dini?" sapa Tania panik.
__ADS_1
"Iya Non Tania, kenapa?" saut Bibi Dini yang panik juga.
"Bibi, tolong kasih tahu Papa dan Mama Tania kecelakaan kecil. Ta-."
ucapan Tania terputus
"Non Tania kecelakaan? Sekarang dimana Non? Ya ampun Non Tania." ucap
Bibi Dini panik, Mama dan Papa Tania segera menghampiri Bibi Dini yang
sedang berdiri di dapur menerima panggilan telepon dari Tania dan
meraih ponsel milik Bibi Dini.
"Tania kamu dimana?" seru Papa Tania tegas, membuat Tania menjauhkan
ponsel itu dari telinga Tania.
"Papa, Papa telepon ke nomor ini deh. Nanti Tania kasih lokasinya via
Setelah Tania memberikan lokasinya saat ini, Tania mengembalikan
ponsel yang sudah dia pinjam dan memberikan beberapa lembar uang yang
ia ambil dari dompetnya pada pengemudi yang sudah berbaik hati meminjamkan ponselnya.
"Tania, bodoh-bodoh." umpat Tania kesal. "Bagaimana rapat dengan klien
hari ini ya? Padahal ini klien penting." Tania mengusap wajahnya
kasar.
Tidak berapa lama, mobil milik Papa Tania datang. Tania dapat bernafas
dengan lega setelah kedatangan Papanya.
__ADS_1
"Tania, naik! biar itu urusan Pak Subur. Mobil derek nanti datang!"
perintah Papanya.
Tania segera menurut perintah Papanya dan masuk ke dalam mobil.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Papanya.
"Tania baik-baik aja kok Pa, nggak usah ke rumah sakit." rengek Tania.
"Betul kata Papa-mu sayang, kita harus ke rumah sakit." ucap Mama Tania menimpali perkataan Papanya.
Tania mengerucutkan bibirnya, dengan sedih Tania hanya terdiam di mobil dan berpikir bagaimana cara untuk membatalkan pertemuan dengan kliennya itu.
"Pa, pinjam ponsel dong. Aku mau telepon ke kantor." pinta Tania.
"Ponselmu kemana?" tanya Papanya.
"Ketinggalan. Hehe." saut Tania sambil terkekeh.
"Ini." Papa Tania menggelengkan kepalanya sambil memberikan ponselnya.
Tania segera memencet nomor telepon kantornya.
"Ayo, angkat-angkat." gumam Tania panik, Tania menarik senyumannya setelah teleponnya diangkat.
"Halo, ini siapa? Tasya, Jihan, Angel?" ucap Tania terburu-buru.
"Dengan Tasya, ada yang bisa dibantu?" tanya Tasya.
"Tasya, ini aku Tania. Tasya, coba kamu cari nomor telepon Tuan Daniel dan sampaikan bila hari ini rapat dibatalkan karena aku ada insiden kecil." tutur Tania.
"Oh Mbak Tania, aku kira siapa. Mbak, tadi sebenarnya asisten Tuan Daniel sudah coba hubungi kesini karena menurut beliau ponsel Mbak Tania nggak menjawab. Tuan Daniel bilang kalau hari ini terpaksa membatalkan pertemuan karena Tuan Daniel harus menemani Mamanya ke rumah sakit." jelas Tasya. "Lagipula, Mbak Tania kenapa? Ada insiden apa?" tanya Tasya.
"Besok aku ceritakan ya." tutur Tania lalu mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Huft." Tania mendengus kesal.