
"Tania apa kau pelakor?" Kaleb menatap Tania sinis.
"Tentu saja tidak! Apa-apaan kau ini. Aku saja dekat dengan pria hanya denganmu!" seru Tania. "Jangan-jangan itu Jessica? Atau Ana?" Tania mengeryitkan dahinya.
"Apa mungkin Ana?" gumam Kaleb. "Apa kau ingin mencari tahu?" Kaleb menatap Tania.
"Tidak usah Kaleb tidak perlu, yang penting barang-barangku aman. Aku tidak perlu repot mengurusnya. Lupakan saja, lain kali aku akan lebih berhati-hati. Siapapun pelakunya, aku juga berusaha legowo dan ikhlas untuk memaafkannya." Tania tersenyum kecil.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kantor. Besok pagi, aku akan menjemputmu." Kaleb tersenyum dan berlalu meninggalkan Tania.
"Terimakasih Kaleb." Tania tersenyum, Kaleb berlalu menuju ke mobilnya. Tania ingin mengantarkan Kaleb namun ditolak oleh Kaleb. Dia ingin Tania kembali ke kamar untuk beristirahat.
***
KEESOKAN HARINYA
"Kerja kalian bagus!" seru Jessica. "Ini sisa uang pelunasan kerja kalian." Jessica menyerahkan amplop berisi uang.
"Baik, bila ada hal lain yang ingin kami kerjakan lagi laporkan kembali pada kami Nona." ucap salah seorang dari kedua pria bayaran itu dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Sudah, pergi!" seru Jessica.
Telepon genggam Jessica berbunyi. Dengan segera wanita itu mengangkatnya karena telepon itu dari calon suaminya.
"Halo sayang, ada apa?" Jessica menjawab panggilan telepon Joshua. "Baiklah, sebentar lagi aku menuju kesana." jawab Jessica.
20 menit kemudian, DOT COFFEE.
"Sayang ada apa?" Jessica mendudukan tubuhnya disamping Joshua. Joshua menatap Jessica dengan tatapan malas.
"Maksudmu apa menyewa preman untuk mencelakai Tania?" Joshua menunjukkan foto saat Jessica sedang memberikan amplop uang pada dua orang preman kemarin dan tadi. Joshua mengetahui hal itu karena setelah kejadian pertemuan Jessica dan Tania kemarin dia telah menugaskan seseorang untuk mengawasi setiap pergerakan Jessica. Joshua takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, dan benar saja hal itu terjadi.
Jessica menatap Joshua dengan mata membulat dan bingung.
"Bagaimana Joshua bisa mengetahui ini." batin Jesscia.
"Jessica minta maaf lah pada Tania, atau akan kubatalkan pernikahan kita!" seru Joshua. Jessica menganggukan kepala dengan wajah takut.
"Baiklah, akan kuajak Tania bertemu besok." Joshua meninggalkan Jessica dan menuju TANIA GARDEN KOPI untuk menemui Tania.
***
"Siang mas Joshua." sapa Tasya sambil tersenyum.
"Mbak, apa Tania ada?"
"Maaf Mas Joshua, hari ini Mbak Tania sedang ada keperluan jadi tidak datang." Tasya menjelaskan. "Mas Joshua mau pesan apa nih?" Tasya bertanya sambil tersenyum.
"Aku biasa aja Mbak, sudah hafal kan? Tapi take away aja ya Mbak." Joshua tersenyum dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Tasya. "Mbak, besok sekiranya Tania ada boleh titip pesan kalau saya kesini dan titip nomor telepon saya?" Joshua memberikan kartu namanya pada Tasya, tanpa banyak bertanya Tasya menerima kartu nama itu dan memberikan minuman pesanan Joshua.
Joshua berlalu dari TANIA GARDEN KOPI dan bergegas kembali menuju kantornya. Joshua kembali ke kantornya yang akan segera ia tinggalkan. Joshua harus menyelesaikan laporan-laporan sebelum ia pindah.
***
Ketika berjalan memasuki kantor, Joshua berpapasan dengan Kaleb.
"Pak Joshua." tegur Kaleb.
"Iya pak?" jawab Joshua.
__ADS_1
"Boleh keruangan saya sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan." ajak Kaleb.
Joshua dan Kaleb pun berjalan menuju ruangan kantor Kaleb. Ruangan kantor yang cukup luas, memiliki kamar mandi dan tempat tidur untuk beristirahat.
"Ruangan kantor Papa saja tidak ada setengahnya ruangan ini." batin Joshua.
"Silahkan duduk Pak Joshua." Joshua mendudukan dirinya di kursi yang berada di depan Kaleb.
"Ada hal yang bisa saya bantu Pak?" tanya Joshua.
"Josh, apa benar kemarin Tania bertemu denganmu dan calon istrimu?" Kaleb menuangkan segelas air putih dan memberikannya pada Joshua.
"Benar Pak, mungkin Tania sudah bercerita pada Bapak tentang kejadian kemarin. Saya mohon maaf bila kelakukan calon istri saya tidak menyenangkan Tania." Joshua menjelaskan seraya membersihkan keringat yang ada di dahinya.
"Tidak apa-apa, hanya saja tadi pagi Tania terluka. Dia mengalami luka sayatan di pergelangan tangannya, untung saja luka itu tidak mengenai nadinya." wajah Kaleb berubah menjadi serius. "Setelah itu, Tania mendapat surat ancaman yang berisi tulisan agar tidak mengganggu hubungan orang lain." Kaleb kembali menjelaskan. "Tania curiga bila calon istri anda ada hubungannya dengan hal ini."
"Jessica awas kau." batin Joshua.
"Mohon maaf sebelumnya Pak, saya tidak mengetahui hal ini. Saya akan coba menanyakan ini pada Jessica. Bila memang benar dia yang melakukan semua ini, saya akan berusaha menasehatinya." Joshua menjelaskan dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Kaleb. "Saya permisi Pak." pamit Joshua.
"Baik, terimakasih untuk waktunya." Kaleb berdiri mengantarkan Joshua ke depan pintu ruangannya.
Kaleb kembali duduk di meja kerjanya dan menelepon seseorang. Ia menyewa jasa bodyguard untuk menjaga di rumah Tania.
Joshua berjalan meninggalkan ruangan Kaleb dan menuju ke lift.
"Jessica, bila benar yang melukai Tania orang suruhanmu tadi. Habis kau!" gumam Joshua sambil mengepalkan tangannya.
***
MALAM HARINYA
"Ingin sekali tidur miring kekiri, tapi tanganku sakit." keluh Tania.
Tiba-tiba ponsel Tania yang berada di atas meja kamarnya bergetar.
"Tasya?" Tania mengernyitkan dahinya. "Halo Tasya, ada apa?" tanya Tania.
"Mbak Tania gimana keadaannya?" selidik Tasya.
"Sudah lebih baik kok, ada apa Tasya?" Tania berdiri dari tempat tidurnya.
"Mbak, tadi siang Kak Joshua datang kesini mencari Mbak. Lalu dia memberikan kartu namanya. Dia sepertinya ingin sekali menemui Mbak Tania." jelas Tasya.
"Apa? Joshua?" Tania terkejut mendengar nama laki-laki itu. "Tas, coba kamu kirimkan nomornya ke aku."
"Okay Mbak, aku kirimkan setelah telepon ini ya. Bye Mbak Tania, lekas sembuh ya." ucap Tasya diujung telepon.
"Makasih ya Tas, bye." telepon pun ditutup. Tasya sudah mengirimkan nomor Joshua, Tania ingin sekali menghubunginya namun ada keengganan dalam hatinya. Dia takut dan juga malu serta canggung harus berkomunikasi kembali dengan mantan kekasihnya itu.
"Besok saja aku hubungi dia. Nanti aku minta tolong Tasya yang telepon." ucap Tania sambil tersenyum. Tiba-tiba ada pesan masuk dari Kaleb.
Kaleb :
Tania besok aku jemput Pk. 08.00 WIB.
Tania :
Bolehkah Pk. 07.30? Karena aku harus rapat.
__ADS_1
Kaleb :
Boleh.
Setelah menerima pesan dari Kaleb, entah bagaimana hati Tania terasa berbunga-bunga, membuatnya senyum-senyum sendiri.
"Kenapa aku senang sekali dapat pesan dari dia?" Tania tersenyum, meletakkan kembali ponselnya di atas nakas dan berusaha menutup sekujur tubuhnya dengan selimut berusaha untuk tidur.
***
"Jessica, nanti kita ke TANIA GARDEN KOPI kita akan menemui Tania." Joshua menatap Jessica tajam dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Jessica. Setelah sampai di kantor Orangtua Jessica, Joshua kembali melajukan mobilnya menuju ke kantornya PT. TIRTANIA JAYA.
SEMALAM
"Jessica, apa kau menyuruh orang suruhan preman-mu itu untuk melukai Tania?" seru Joshua kesal sambil memukul meja. Jessica hanya tertunduk tidak berani menatap calon suaminya itu.
"Jawab!" Joshua semakin berteriak.
"I-iya." Jessica menjawab masih dengan wajah yang tertunduk.
"Kenapa? Apa kau tidak puas aku sudah menjadi calon suamimu, dan kita akan segera menikah. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Tania. Karena orangtuaku dan keluarga besarku memaksaku menikahimu saat usiaku 25 tahun." Joshua semakin berteriak. "Besok kamu harus segera meminta maaf padanya, bila tidak aku tidak akan segan-segan membatalkan pernikahan kita!" seru Joshua dan meninggalkan Jessica di ruang tamu rumahnya itu.
SEKARANG
Joshua sudah memakirkan mobilnya, segera berjalan menuju ke kantor untuk bertemu dengan Kaleb. Namun saat Joshua menanyakan pada sekretaris Kaleb, Joshua mendapatkan informasi bila Kaleb belum datang. Akhirnya Joshua kembali keruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Mungkin satu jam lagi aku akan mencoba menemuinya lagi.
***
Tin...tin...tin
"Iya Kaleb sebentar!" seru Tania yang berjalan keluar dari pagar rumah di bantu oleh Bibi Dini. Tania terkejut saat melihat ada dua orang bodyguard berdiri di depan rumahnya.
"Mungkin mereka bodyguard tetangga sebelah." gumam Tania.
Tania sudah masuk ke dalam mobil dan mendudukan tubuhnya di samping Kaleb.
"Bagaimana tanganmu Tania?" tanya Kaleb sambil memegang balutan perban di tangan kiri Tania.
"Jauh lebih baik, sudah yuk kita berangkat." ajak Tania.
Kaleb melajukan mobilnya menuju TANIA GARDEN KOPI setelah membantu Tania turun dan masuk ke Coffee shop-nya, Kaleb melajukan mobilnya ke kantor.
Kaleb memakirkan mobilnya menuju tempat parkir VIP dan langsung berjalan menuju ke ruangan kantornya.
"Selamat Pagi Pak Kaleb." sapa sekretarisnya Nina.
"Pagi Nina." jawab Kaleb dengan tersenyum.
"Pak, tadi ada dari bagian Manajemen Gedung mencari Bapak. Pak Joshua." Nina menjelaskan, dijawab dengan anggukan kepala oleh Kaleb.
"Pak, tolong keruangan saya." Kaleb memanggil salah seorang karyawannya melalui telepon.
Tidak berapa lama, Joshua datang keruangannya. Joshua bermaksud menjelaskan kejadian yang menimpa Tania kemarin adalah benar perbuatan Jessica. Joshua bermaksud meminta maaf atas perilaku calon istrinya itu.
Bersambung...
^Jangan lupa like dan komen ya guys, terimakasih^
__ADS_1