
Tania hanya tersenyum memandang mereka bertiga. Kania dan Danesh kompak memberikan semangat pada Kaleb. Kaleb merangkul Tania berjalan masuk menuju ruang keluarga.
Kaleb dan Tania memilih bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Mereka menonton sambil membicarakan program televisi yang mereka tonton.
“Nanti malam kita ke rumah Nenek ya.” ajak Kaleb pada Kania, Danesh dan Tania.
“Hem, Kakak saja deh. Aku sama Danesh di sini saja.” ucap Kania yang menunjukkan keengganannya mampir ke rumah Neneknya.
“Kok begitu, kasian Tania nanti tidak ada yang ajak ngobrol kalau kamu nggak ikut.” tutur Kaleb.
“Bagaimana ya Kak, habis aku malas sekali nanti diceramahi Nenek.” saut Kania sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kania, justru kamu harus mendapatkan wejangan dari yang lebih tua, seperti Nenek. Betul tidak Danesh?” ucap Kaleb sambil menepuk pundak Danesh dan memainkan alisnya.
“Betul itu sayang.” tutur Danesh sambil memegang bahu Kania. Kania mengerucutkan bibirnya, namun Danesh berusaha menggodanya agar kembali tersenyum.
“Kania, aku dengar kalau sedang hamil nggak boleh terlalu sebel sama orang.” tutur Tania.
“Iya? Kenapa?” tanya Kania.
“Nanti anaknya mirip.” ucap Tania sambil terkekeh diikuti oleh tertawaan Kaleb.
“Ih, kamu kok gitu sih Tan.” tutur Kania kesal.
__ADS_1
“Maaf ya.” ucap Tania sambil menghampiri Kania dan mengelus punggungnya. “Bumil istirahat dulu sana.” perintah Tania.
“Iya sayang, kamu istirahat aja biar nggak marah-“ Danesh langsung menutup mulutnya.
“Apa? Marah-marah?” ucap Kania kesal.
“Bukan sayang bukan marah, nggak cape maksudnya.” ucap Danesh pada Kania sambil memberikan tangannya pada Kania dan mengajaknya untuk beristirahat di kamar.
Kania dan Danesh sudah berlalu dari ruang keluarga, tinggal Kaleb dan Tania berdua di ruangan itu.
“Kamu nggak istirahat juga Tan?” tanya Kaleb.
“Nggak, mau istirahat dimana? Nggak enak ganggu Kania sama Danesh.” ucap Tania sambil tersenyum.
Kaleb begitu tiba-tiba menarik tangan Tania membuat Tania terhuyung dan …
“aaargh.” teriak Tania yang menimpa tubuh Kaleb. Kini wajah mereka semakin mendekat. Bibir mereka hanya terpaut satu senti. Tanpa aba-aba Kaleb segera menyatukan bibirnya dengan bibir Tania.
Setelah agak lama, Tania tersadar dan segera melepaskan ciuman Kaleb.
“Kaleb, kita belum sah.” tutur Tania sambil bersedekap dada. Kaleb hanya tersenyum menanggapi Tania dan mengelus-elus kepalanya.
“Iya, maaf ya keceplosan. Habis momentnya pas banget.” ucap Kaleb sambil tersenyum.
__ADS_1
“Pas apanya? Kamu aja yang nyebelin.” ucap Tania ketus.
“Ya udah, kamu jadi istirahat nggak?” tanya Kaleb.
“Iya jadi, tapi aku sendiri aja ke kamarnya. Dimana kamarnya?” tanya Tania.
“Itu.” Kaleb menunjuk sebuah kamar yang dapat dijangkau oleh mata dari ruang keluarga.
“Ya udah, kamu istirahat juga ya.” pinta Tania dan segera meninggalkan Kaleb di ruang keluarga.
Setelah sampai di kamar Tania segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan mendengus kesal.
“Ciuman pertamaku?” ucap Tania sambil memegang bibirnya. Pipi Tania seketika itu juga merona. “Harusnya tunggu sampai menikah dulu, dasar Kaleb!” seru Tania kesal.
Tania berusaha memejamkan matanya dan akhirnya ia larut dalam tidurnya.
Kaleb masih tersenyum sambil memegang bibirnya. Ini memang bukanlah ciuman pertama untuknya, tapi ini adalah ciuman yang diberikan oleh wanita yang benar-benar dicintainya.
“Sabar, berapa bulan lagi Sah.” gumam Kaleb sambil merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
^Maaf ya, author lama update karena lagi banyak kerjaan. Jadi malam ini, author akan crazy up. Jangan lupa like, komen dan votenya ya biar author semangat nulisnya. Terimakasih.^