
Tania masih menatap telepon genggamnya, dia kembali membuka pesan dari Kaleb. Ingin sekali membalas pesan itu, tapi dia urungkan.
***
Satu Minggu Kemudian
Tania sudah kembali ke Jakarta, menjalankan aktivitasnya kembali sebagai owner dari kedai coffee shop. Sesekali Tania membantu barista untuk membuat berbagai kopi pesanan pelanggan. Kopi itu unik, bisa terasa pahit dan manis. Bila kamu ingin terasa manis, kamu harus menambahkan pemanis. Seperti hidup, kadang terasa pahit namun kadang terasa manis ketika pemanis itu datang. Pemanis itu bisa saja kasih sayang dari orang yang kita cintai.
"Mbak Tania." Jihan memanggil Tania yang saat ini melamun, memandang gelas kopi yang sedang dipegangnya. "Mbak Tania." Jihan kali ini menghampiri Tania dan menepuk pundak Tania, membuat Tania terkejut dan menoleh ke arah Jihan hingga berdecak kesal.
"Jihan! Aku kaget!" seru Tania.
"Mbak Tania sih dipanggil ga jawab-jawab. Itu ada ojek online antar makanan pesanan Mbak Tania." Tania segera melihat ke arah pintu dan melihat seorang driver membawa bungkusan makanan. Tania menghampiri driver itu.
"Makasih ya Pak, ini tips buat Bapak." tutur Tania.
Tania duduk kembali di mejanya, tempat gelas kopinya berada. Membuka bungkusan makanan itu dan menikmati makanan yang dipesannya. Tidak lupa, Tania juga membelikan untuk karyawannya juga.
"Makasih ya Mbak Tania." ucap Jihan. "Sering-sering ya Mbak." Jihan tertawa.
"Iya, kalo inget!" seru Tania.
"Mbak Tania, lagi PMS ya? Marah-marah mulu euy." tutur Jihan, Tania hanya senyum-senyum saja karena memang dia hanya bercanda.
"Sudah, dihabiskan makanannya atau aku berikan ke yang lebih membutuhkan nih." ujar Tania membuat Jihan tertawa.
Tania dan Jihan melanjutkan menghabiskan makanan mereka sambil berbincang. Setelah selesai makan siang, Tania dan Jihan kembali bekerja. Tania kembali ke ruangannya dan Jihan kembali ke meja kasir yang sebelumnya digantikan oleh Tasya. Saat ini Tasya gantian untuk istirahat.
Tania berjalan ke ruangannya, mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya. Menatap tumpukan dokumen yang berisi laporan keuangan, laporan operasional dan berbagai macam laporan yang harus ia periksa.
Tania kembali termenung, setelah kepulangannya dari Jogja ia selalu terngiang-ngiang pesan yang disampaikan Kaleb dan keputusannya untuk menerima Doni, walaupun hanya PDKT. Tania masih memegang prinsip, lebih baik dicintai daripada mencintai.
Tania menatap layar telepon genggamnya yang saat ini menunjukkan notifikasi ada telepon dari Kaleb. Ia merasa malas mengangkatnya, beberapa pesan yang Kaleb kirimkan pun tidak ia gubris sedikitpun.
Tapi ada sedikit rasa penasaran dalam hatinya, selain itu Kaleb pantang menyerah tidak henti-hentinya dia menelepon.
"Halo?" ucap Tania.
"Tania, aku sudah berada di depan Tania Garden Kopi. Keluarlah." tutur Kaleb.
"Kamu sudah kembali?" tanya Tania.
"Iya, cepatlah keluar Tuan Puteri." pinta Kaleb.
Setelah menjawab iya dan menutup teleponnya, Tania keluar untuk menemui Kaleb. Sebenarnya ada rasa malas, dan sangat malas bertemu dengannya. Tapi agar semua jelas, Tania terpaksa menemuinya. Mungkin ini juga akan jadi pertemuan terakhir mereka sebelum Kaleb menikahi Lita.
"Tania!" seru Kaleb yang saat ini sedang melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Kaleb?" Tania berjalan menuju ke mobil Kaleb. "Ada apa?"
"Masuklah, ada yang ingin kubicarakan." tutur Kaleb.
"Maaf, aku banyak sekali pekerjaan Kaleb." tolak Tania.
"Hanya sebentar saja. Aku janji." Kaleb menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Please..." imbuh Kaleb.
Kaleb merayu Tania, sehingga Tania terpaksa mengiyakan permintaan Kaleb.
Saat ini Tania dan Kaleb sudah berada di dalam mobil. Kaleb melajukan mobilnya menuju suatu tempat rahasia.
"Kita mau kemana?" tanya Tania.
"Rahasia." Kaleb tersenyum dan Tania mengerucutkan bibirnya.
Kaleb dan Tania memerlukan waktu sekitar setengah jam untuk sampai di tempat tujuan mereka. Sebuah taman kota yang indah.
"Kamu pernah kesini Tan?" tanya Kaleb, Tania menggelengkan kepalanya. Kaleb menggenggam jari jemari Tania, mereka duduk di sebuah pondokan sambil meminum es kelapa dari kelapanya langsung.
"Tan, sebenarnya aku mau jelasin pesan aku yang kemarin." tutur Kaleb.
Tania mengernyitkan dahinya, dia tidak menjawab ucapan Kaleb tapi tetap fokus mendengarkan.
"Tania, aku minta maaf ya. Aku terpaksa harus memutuskan ini. Maafkan aku juga, kemarin tidak langsung mengabarimu melalui telepon tetapi melalui pesan." tutur Kaleb.
"Memang sih Tan, tapi sejujurnya aku merasa nyaman dekat denganmu." ucap Kaleb.
Tania yang sedang menikmati es kelapanya tiba-tiba tersedak mendengar perkataan Kaleb.
"Tania kamu tidak apa-apa?" Kaleb berpindah posisi ke samping Tania dan membantunya menepuk-nepuk punggungnya lembut.
"Gapapa Kaleb, lanjutkan." tutur Tania.
"Tania, jadi aku tidak tahu bagaimana tapi Orangtua Lita, Mamanya memintaku untuk menjadi pendamping hidup Lita." ucap Kaleb. "Tapi sejujurnya, aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada Lita. Aku hanya iba." imbuh Kaleb.
Tania terdiam, mencoba mencerna kata-kata Kaleb dan memikirkan jawaban yang pas untuk perkataan Kaleb itu.
"Heem, lalu sebenarnya kamu mencintai seseorang lain?" perkataan itu lolos saja dari bibir mungil Tania.
Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba aku mengeluarkan perkataan seperti itu. Bodoh. Tania.
Kaleb melirik Tania yang masih terdiam dengan lantang dia menjawab.
"Kamu." tutur Kaleb.
Tania dibuat terkejut dengan perkataan Kaleb. Untung saja saat ini dia sedang tidak menikmati es kelapanya. Mungkin dia akan kembali tersedak bila sedang menikmati es kelapanya.
__ADS_1
"Aku? Kenapa aku?" tutur Tania.
"Karena seperti yang aku bilang tadi, aku merasa nyaman dekat denganmu. Aku ingin sekali menjalin hubungan serius denganmu." tutur Kaleb, kali ini terpancar kesedihan di wajahnya. Ia mengacak-acak rambutnya kasar.
Tania terpaku, melihat Kaleb dengan tatapan kosong. Dia sadar situasi ini sangat sulit. Kaleb adalah lelaki yang baik, bahkan baik sekali. Tapi, Tania kembali teringat dengan Donny. Beberapa minggu lagi, Donny akan ke Jakarta. Dia sudah berjanji untuk berusaha dekat dengan Donny.
"Kaleb, jujur aku juga akan bingung dengan kondisimu saat ini. Tapi Kaleb, apa yang sudah menjadi pilihamu jalanilah. Itu ada keputusan dari dalam hatimu." tutur Tania. "Bila memang kita berjodoh, entah bagaimana caranya Tuhan pasti akan menyatukan kita kembali." imbuh Tania.
Kaleb menatap Tania dalam-dalam. Saat ini mereka berpandangan dengan sangat dekat hanya berjarak 2cm. Kaleb ingin mengecup dahi Tania, namun Tania menghindar.
"Kaleb, jangan." pinta Tania dengan pipi yang merona.
"Maaf Tania, aku terbawa suasana." ucap Kaleb.
"Kaleb, setelah membaca pesanmu kemarin aku juga sedang membuka hati untuk seseorang." tutur Tania.
Kaleb membulatkan matanya.
"Siapa? Joshua?" tanya Kaleb dengan nada kesal. Tania menggelengkan kepalanya.
"Temanku saat kuliah. Ya aku juga belum memiliki perasaan apa pun padanya. Tapi mungkin seiring berjalannya waktu, cinta akan tumbuh." ucap Tania.
Kaleb menghembuskan nafasnya dengan berat. Rasanya perih sekali mendengar ucapan Tania. Ada dua orang saling mencintai, tapi mereka tidak bisa bersatu. Sungguh menyakitkan.
"Tania berjanjilah padaku. Apa pun yang terjadi komunikasi kita harus tetap terjaga." pinta Kaleb, Tania mengiyakan dan mereka segera bersiap untuk pulang.
Tania dan Kaleb sudah berada di dalam mobil. Kaleb melajukan mobilnya menuju Tania Garden Kopi, sesekali mereka saling berbicara dan bercanda. Rasanya kecanggungan yang diciptakan di taman kota itu sudah hilang.
"Kaleb, ku kira kamu sampai sebulan disana." tutur Tania.
"Iya, aku disini hanya beberapa hari karena ada pekerjaan urgent dan aku juga ingin menemuimu." Kaleb melengkungkan senyumnya. "Sudah lama kita tidak bercanda dan tertawa lepas seperti tadi." Kaleb mengelus rambut Tania yang duduk disampingnya.
"Lalu, kapan kamu kembali ke Singapore?" tanya Tania.
"Dua hari lagi, bila Lita semakin sehat kita bisa kembali 2 minggu lagi dan bersiap-siap mengurus pernikahan." Kaleb mengatakan itu dengan lemas, dan raut wajah keduanya menjadi sedih.
"Bila memang ada yang bisa kubantu untuk pernikahanmu nanti, sampaikanlah." Tania mencoba tersenyum dengan perkataannya itu.
***
Tania sudah kembali ke ruangan kerjanya, perasaan sakit berkecamuk dalam dirinya. Tapi dia sadar kalau dia harus ikhlas.
"Mungkin memang ini sudah jalannya." gumam Tania.
*Bersambung....
^ Jangan lupa, like, vote dan komentar ya. Terimakasih* ^
__ADS_1