
Debby berusaha menghibur Tania, dia berinisiatif untuk mengajak Tania segera ke kampus agar Tania dapat sedikit melupakan kesedihannya.
***
SINGAPORE
Kaleb menatap teleponnya. Saat ini pesan dari Tania dua hari yang lalu sudah dibaca Kaleb. Dia ingin sekali membalas pesan Tania, menyapanya, menanyakan kabarnya dan mungkin mengatakan hal untuk mengakhiri hubungan pura-pura pacaran ini. Tapi Kaleb belum sanggup.
Tania, apa kabar? -Kaleb-
Hai Kaleb, aku baik. -Tania-
Kaleb tersenyum menatap teleponnya. Dia melihat Orangtua Lita mendorong kursi roda yang ditumpangi Lita. Kaleb memberikan senyumnya dan segera menghampiri mereka, mengambil alih pegangan kursi roda dan mendorong kursi roda itu. Melihat Kaleb sudah bersama Lita saat ini, Orangtua Lita berinisatif untuk meninggalkan mereka agar mereka dapat saling berbincang dan lebih dekat. Mengingat selama ini Lita berada di luar negeri dan mereka sudah lama tidak berjumpa.
Kaleb membawa Lita berjalan-jalan di taman Rumah Sakit, menikmati pemandangan yang begitu indah. Rasanya sangat tentram dan damai. Hiruk pikuk kota sepertinya hilang, hanya ada kedamaian di dalam hati. Menghirup udara pagi yang sejuk, sangat melegakan sekali.
Tiba-tiba Lita memegang tangan Kaleb, membuatnya terkejut.
"Kaleb, kapan aku boleh pulang?" tanya Lita.
"Secepatnya pasti kamu akan pulang, Lit." saut Kaleb.
"Kaleb, tadi Mama memberitahuku. Apa benar saat kita sudah sampai di Jakarta, kita akan menikah? Mama bilang, kamu sudah putus dengan Tania." tutur Lita.
Kaleb terdiam mendengar ucapan Lita, matanya membulat membuatnya mematung tidak dapat berkata apa-apa. Kaleb mencoba mencerna perkataan Lita lagi, berusaha mengumpulkan jawaban terbaik untuk pertanyaan Lita.
Aku bingung harus menjawab apa, kenapa Tante setega itu padaku. Aku saja belum menjawab permintaannya kemarin. Kaleb.
Suasana sangat hening, Kaleb masih terdiam, Lita memanggil Kaleb kembali.
"Kaleb? Apa kamu mendengar perkataanku?" tanya Lita.
"Iya Lita. Aku mendengarnya. Perkataan Mamamu benar." Kaleb menghela nafas panjang, rasanya berat sekali. Tatapannya saat ini kosong, namun Lita tidak mengetahuinya.
"Terimakasih Kaleb." tutur Lita dengan melengkungkan senyumannya.
Aku harus bilang apa pada Tania? Aku harus apa saat ini, berjuang untuk perasaanku atau mengalah pada keadaan? Kaleb.
***
Malam Harinya di Jogjakarta
KAFE MALLBORO
"Tania, menurutmu kenapa ya Donny mengajak kita ketemu?" tanya Debby.
"Ya dia kan bilang ingin berkumpul bersama kita?" tutur Tania.
"Bagaimana kalau Donny nembak kamu lagi Tan?" tanya Debby lagi.
"Tidak mungkin Deb, kan dia sudah punya kekasih." ujar Tania santai.
__ADS_1
"Ya bisa saja kan, kemarin saja kita bisa lihat sikapnya pada kekasihnya itu. Siapa namanya aku lupa." Tania dan Debby tertawa.
Tidak berapa lama, Donny datang menghampiri mereka.
"Hai Tania, Hai Debby." sapa Donny.
"Hai Don, pacarmu mana?" tanya Tania.
"Aku tidak punya pacar, Tiara dan aku sudah putus Tan, tepat kemarin setelah kita ribut." tutur Donny.
Debby dan Tania mengganggukan kepalanya dengan mata yang membulat.
"Wah, gara-gara hal itu sampai putus?" seru Debby.
"Ya, itu tidak hanya pertengkaran pertama kita Deb. Sudah sering kita bertengkar." tutur Donny. "Lagipula, dia cemburuan sekali. Padahal aku tidak pernah sampai seperti itu padanya." imbuh Donny.
"Tapi itu tandanya kan dia sayang Don." saut Tania.
"Sudahlah, jangan membicarakan dia lagi. Aku pusing." Donny tertawa dan disambut dengan senyuman tipis Debby dan Tania.
Mereka asik berbincang, mengenang masa lalu mereka. Donny kembali meminta maaf pada Tania untuk kejadian dulu.
"Sudahlah Don, never mind." Tania tertawa.
"Ya namanya juga masih labil." tutur Debby.
"Enak saja labil, memang aku bocah!" seru Donny.
Tanpa terasa hari sudah larut, mereka memutuskan untuk pulang.
Debby mengantarkan Tania, karena sudah larut Debby tidak mampir dan langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Sebelum turun, terjadi percakapan diantara mereka.
"Oh iya Deb, kamu besok sudah masuk kerja ya." tanya Tania dengan pandangan sedih.
"Iya Tan, paling kita bisa bertemu saat istirahat makan siang. Nanti kita janjian saja ya." tutur Debby, Tania mengiyakan.
"Kamu memang sahabatku yang paling baik." Tania mencubit pipi Debby, tiba-tiba bungkusan dari Donny terbuka sehingga isinya terjatuh.
"Apa itu Tania?" Debby terbelalak melihat sebuah kotak perhiasan dengan kartu ucapan.
"Ti-tidak apa-apa." Tania menunjukkan wajah panik.
"Hayo, dari Donny ya?" goda Debby.
Tania menghembuskan nafasnya berat.
"Coba buka Tan, isi kartunya." tutur Debby penasaran.
Tania menuruti perkataan Debby dan membuka kartu ucapan itu.
__ADS_1
Tania, terimakasih sudah mau memaafkanku dan melupakan kejadian saat itu. Hadiah ini tidak seberapa, tapi kuberikan padamu sebagai permohonan maaf. Aku hanya ingin mencoba tetap dekat denganmu, bila kamu mengizinkan. Donny.
"Wah dia tidak pantang menyerah ya Tan." Debby melengkungkan senyumnya. "Tapi kalau sampai dia tahu kamu adalah kekasih pemilik perusahaan tempatnya bekerja bisa menangis 7 hari 7 malam dia." Debby tertawa.
"Apa sih kamu Deb." Tania mengerucutkan bibirnya. "Bikin aku tambah bingung nih, kalau seperti ini." Tania memegang dahinya.
"Sudahlah Tan, kamu pasti bisa memikirkan dengan baik. Semangat." Debby menaikan tangan kanannnya menunjukkan tanda semangat.
"Iya bawel, ya sudah aku masuk dulu." pamit Tania.
Saat Tania sedang turun dari mobil dan ingin masuk ke rumah, telepon genggamnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Tania mengabaikan pesan itu dan berniat membukanya saat sudah di kamar.
Tania, sepertinya hubungan pura-pura pacaran ini harus kita akhiri. Aku harus menikahi Lita. Maafkan aku. Terimakasih untuk beberapa bulan yang indah ini. Sesampainya aku Di Jakarta akan kujelaskan semua. -Kaleb-
Membaca pesan dari Kaleb membuat tangan Tania bergetar. Telepon genggamnya langsung terjatuh di kasur. Air matanya mulai membasahi pipinya.
"Tuhan, kenapa sakit sekali." ucap Tania dengan posisi tertidur namun dalam keadaan menangis. Tanpa terasa Tania tertidur dengan mata yang masih basah karena saking lelahnya menangis.
Pagi harinya, Tania terbangun dengan mata yang bengkak. Dia menatap wajahnya di depan kaca saat ini.
"Sepertinya aku tidak perlu kemana-mana hari ini. Diam di kamar saja. Nanti kubatalkan janjiku dengan Debby." ucap Tania.
Tania kembali melihat telepon genggamnya, namun dia belum menjawab pertanyaan Kaleb. Saat ini Tania melihat ke arah kotak perhiasan yang diberikan oleh Donny, mengingatkannya dengan hadiah kalung yang diberikan Kaleb. Tidak terasa bulir-bulir putih dari matanya kembali meluncur namun tidak sederas semalam.
Tania membersihkan tubuhnya, memakai kaos bergambar donal duck miliknya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia kembali mengambil telepon genggamnya untuk mengabarkan pada Debby bila makan siang nanti dia tidak jadi keluar. Dia bilang harus menyelesaikan laporan yang dikirimkan manajaernya.
Bohong.
Memang bohong, tapi dia belum sanggup bercerita pada sahabatnya itu. Tania juga teringat dengan Mama dan Papanya, bagaimana memberitahukan kabar ini pada mereka. Tania kembali menghembuskan nafasnya berat. Dia memberanikan diri menelepon Donny.
"Halo Donny." sapa Tania.
"Hai Tan, tumben pagi-pagi telepon."
"Iya Don, maaf semalam belum mengucapkan terimakasih. Makasih ya untuk hadiahnya." Tania mencoba tersenyum.
"Bukan apa-apa kok Tan, makasih juga ya masih mau jadi temanku." tutur Donny.
"Iya Don, oh iya untuk masalah itu aku tidak masalah bila kita ingin dekat."
"Benarkah? Terimakasih Tania." tutur Donny.
"Tapi, apakah kamu sanggup untuk berjauhan jarak?"
"Aku semalam lupa bilang Tan, mulai bulan depan aku akan pindah ke kantor pusat TIRTANIA JAYA."
"Baiklah Don, sudah dulu ya Don. Aku kau sarapan. Bye." Tania mengakhiri panggilan telepon itu.
"Aku rasa tidak ada salahnya untuk mencoba membuka hati. Bukankah lebih baik dicintai daripada mencintai." gumam Tania.
Tania masih menatap telepon genggamnya, dia kembali membuka pesan dari Kaleb. Ingin sekali membalas pesan itu, tapi dia urungkan.
__ADS_1
Bersambung...
^Jangan lupa like, komen dan vote ya. Terimakasih^