Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 31 - Ide


__ADS_3

“Wah, asik ya reunian.” sindir Kaleb. Melihat gegalat Kaleb yang cemburu membuat Tania senang dan semakin memanas-manasi Kaleb dengan mengabaikan ucapannya dan tetap asik mengobrol bersama Reno. Muka Kaleb terlihat merah dan dia mulai mengepalkan tangannya karena kesal.


Tania tersenyum melihat Kaleb dan menunda pembicaraan dengan Reno untuk menghampiri Kaleb.


“Jangan ngambek, jelek tahu!” seru Tania.


“Iya Kak, engga usah cemburu, aku sama Tania temenan saja kok.” tukas Reno.


“Aku tidak cemburu kok.” saut Kaleb berusaha tegar.


Tania dan Reno terkekeh mendengar perkataan Kaleb, perbincangan mereka bertiga terhenti saat Orangtua Lita kembali masuk ke ruangan dan menghampiri Lita. Mereka berbicara dengan suara pelan.


Tidak berapa lama setelah itu, Papa Lita memanggil Reno.


“Reno, mari Nak kita laksanakan Akad Nikah.” pinta Papa Lita.


Reno mengganggukan kepalanya, merapikan bajunya dan memakai peci. Setelah itu berjalan menghampiri Lita, Orangtua Lita dan Penghulu. Kaleb dan Tania mengekori Reno.


“Akhirnya, Lita menikah juga dan bahagia.” gumam Lita dalam hatinya.


Kaleb memperhatikan Tania yang senyum-senyum sendiri melihat pernikahan Reno dan Lita yang berlangsung sangat singkat. Setelah kata SAH terdengar semua orang saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru itu. Semua orang merasa bahagia, namun tidak dengan Mama Lita yang memperlihatkan ketidaksukaannya dengan pernikahan ini.


Mama Lita bergegas pergi keluar kamar tanpa berpamitan dengan siapapun, termasuk Papa Lita. Namun, Papa Lita bergegas mengejar Mama Lita.


“Tan, kita ucapkan selamat yuk!” ajak Kaleb diiringi dengan Tania yang menggandeng tangan Kaleb. Sesekali Kaleb mengusap punggun tangan Tania yang melingkar di lengannya.


“Selamat ya Lita, Reno. Semoga bahagia selalu.” tutur Tania sambil memberikan pelukan pada Lita.


“Selamat ya Lita dan Reno. Lekas pulih ya Lita.” tutur Kaleb.


“Terimakasih ya Kaleb dan Lita, terutama kamu Kaleb. Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan bisa menikah dengan Reno dan tetap mengikuti keinginan Mama.” tutur Lita sambil tersenyum.


“Iya, terimakasih ya Kak.” saut Reno.


“Oh iya, maaf kita engga bisa lama-lama karena kita harus pergi ke luar kota.” tutur Kaleb. “Kita berangkat ya.” pamit Kaleb pada Lita dan Reno sambil melambaikan tangan. Tania juga memberikan lambaian tangan.


***


Kaleb dan Tania sudah berada di dalam mobil Kaleb dan bersiap untuk berangkat menuju ke sebuah Villa di daerah pedesaan. Membayangkan tempatnya pasti sangat nyaman, sejuk dan tenang karena jauh dari hiruk pikuk perkotaan.


“Kaleb, kita ke Villa kamu ya?” tanya Tania yang sedari tadi matanya asik melihat pemandangan.


“Iya, tapi nanti kita juga mampir ke tempat Nenek ku ya.” pinta Kaleb.


“Nenek?” Tania tiba-tiba menoleh ke arah Kaleb dengan mengernyitkan dahinya. “Kamu punya Nenek?” imbuh Tania lagi yang masih keheranan.

__ADS_1


“Iya Tan, tapi karena rumah Nenek agak jauh. Aku hanya berkunjung beberapa bulan sekali, lagipula Nenek juga sangat sibuk.” tutur Kaleb.


Tania mengganggukan kepalanya, Tania bingung bagaimana nanti bersikap di depan Nenek Kaleb.


“Oh iya, kalau Kakekmu juga ada?” tanya Tania.


“Tidak Tan, Kakek sudah meninggal beberapa tahun lalu.” saut Kaleb.


“Oh, maaf.” tutur Tania. “Berarti kita ke Villa milikmu, selanjutnya kita menuju ke rumah Nenek?” tanya Tania.


“Iya bawel.” saut Kaleb sambil tersenyum kecil.


Tania mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Kaleb, Kaleb langsung mengelus kepala Tania.


***


Mobil Kaleb sudah sampai di sebuah Villa yang sangat besar. Luasnya kalau dihitung lebih luas dari rumah Kaleb. Mobil Kaleb sudah terparkir dengan sempurna di garasi mobil. Kaleb langsung turun dan membawa barang-barang milikinya dan Tania.


“Kaleb, ini Villa milikmu?” tanya Tania yang masih terpana dengan kemegahan Villa itu.


“Bukan, punya Orangtuaku.” saut Kaleb yang saat ini sedang membawa dua buah koper.


“Kaleb, sini aku bawa punyaku.” tutur Tania sambil berusaha meraih koper miliknya.


“Tidak usah, sudah aku bawakan. Kamu masuk saja temui Kania dan Danesh.” pinta Kaleb.


Tania melangkahkan kakinya masuk ke Villa tersebut.


“Besar sekali ya, rumahku berapa kali Villa ini ya.” gumam Tania dalam hatinya.


“Tania!” sapa Kania yang berlari kecil ke arah Tania.


“Kania!” saut Tania dan memberikan pelukan hangat.


“Makan siang dulu yuk.” ajak Kania. “Oh iya, nanti malam kita sekamar ya.” tutur Kania.


“Iya, masa aku sekamar sama Kaleb.” saut Tania sambil tertawa kecil.


“Terus, Kakak mana?” tanya Kania sambil melihat ke sekeliling.


“Masih di depan, itu dia.” tutur Tania menunjuk ke arah Kaleb yang sedang membawa dua buah koper.


“Makan duluan aja, Tan. Aku nanti saja sama Danesh.” tutur Kaleb.


“Tidah mau, bareng-bareng saja yuk!” ucap Tania.

__ADS_1


“Ya sudah, aku memasukkan koper-koper ini dulu ya kekamar.” tutur Kaleb. “Kamar kamu dimana, Kan?” tanya Kaleb


“Biasa Kak.” saut Tania.


Tania dan Kania mendudukan tubuh mereka di sofa ruang tamu. Kania menanyakan pada Tania bagaimana kejadian di rumah sakit. Tania dan Kania asik berbincang sambil sesekali tertawa. Kaleb melihat keakraban dua wanita yang dicintainya itu dari lantai atas. Kaleb tersenyum memandang adik dan calon isterinya yang sangat akrab.


“Syukurlah Tania bisa akrab dengan Kania.” gumam Kaleb.


“Kak, bagaimana jadi engga?” tanya Danesh yang membuyarkan lamunan Kaleb.


“Oh iya, jadi dong.” tutur Kaleb. “Bantuin aku dulu ya masukkan koper-koper ini di kamar. Ini koper Tania, tolong masukkan di kamar Kania.” tutur Kaleb sambil memberikan koper itu.


“Kok, Kania tidur sama Tania? Aku sama Kakak?” saut Danesh sambil mengernyitkan dahinya.


“Iyalah, aku sama Tania kan belum menikah. Masa kita tidur satu ranjang.” jawab Kaleb ketus.


“Oh iya.” saut Danesh sambil tertawa kecil dan membawa koper Tania.


Setelah mereka selesai memasukkan koper ke kamar, Kaleb dan Danesh mulai menyusun rencana.


***


“Kania, Tania makan siang dulu yuk!” ajak Kaleb yang terlihat baru turun dari tangga.


“Kamu lama banget, habis dari mana saja?” tanya Tania.


“Aku baru saja turun, tentu saja dari atas.” saut Kaleb.


“Benar juga ya.” jawab Tania.


“Yaudah kita makan yuk!” Kania beranjak dari sofa dan menggandeng tangan Tania untuk berjalan ke meja makan.


Kania, Kaleb, Tania dan Danesh sudah mendudukan tubuh mereka di kursi ruang makan. Kaleb duduk bersebelahan dengan Tania, Kania duduk bersebelahan dengan Danesh. Tania melayani Kaleb layaknya seorang isteri, dia mengambilkan Kaleb makanan.


“Tania setelah makan, berenang yuk!” ajak Kaleb.


“Aku tidak bawa baju renang Kaleb.” tutur Tania yang sedang mengambil sayur.


“Hem, kamu bawa baju renang Kania?” tanya Kaleb sambil melirik ke arah Kania. Kaleb tersenyum kecil memberikan kode. Kania mengerti dan segera menjawab pertanyaan Kakaknya itu.


“Bawa kok, pakai punyaku saja. Kebetulan aku sedang tidak mood berenang.” saut Kania.


“Hem, bagaimana ya.” ucap Tania sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ya sudah deh.” imbuh Tania. Kaleb tersenyum penuh kemenangan.


Bersambung...

__ADS_1


^Terimakasih untuk pembaca setia "Kopiku, Kopimu. Mohon maaf ya bila kedepannya aku akan lama update. Tapi tetap vote, komen dan like ya. Terimakasih^


__ADS_2