Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 3 - Tidak!


__ADS_3

"Tania, sini sayang." ucap Mamanya sambil menepuk sofa disebelahnya.


"Iya Ma, ada apa Mamaku?" jawab Tania manja sambil duduk disebelah Mamanya.


"Sayang, tadi Mama sudah ketemu Tante Lidya. Rencananya Mama sama Tante Lidya mau buka toko berlian di salah satu Mall. Tapi Mama lupa tanya Mall apa." cerita Mamanya pada Tania. Tania pun menyimak dengan serius. "Nah, kamu mau kan bantu Mama jalanin bisnis ini? Mama kan masih harus nemenin Papa kamu di Jepang. Jadi Mama minta tolong sama kamu untuk bantu Tante Lidya." jelas Mamanya pada Tania.


"Oke Ma, siap." jawab Tania sambil menaikan tangannya seperti hormat. "Terus Mama jelasin ke Tania dong, apa aja yang harus Tania siapin?" ucapnya lagi pada Mamanya.


Tania dan Mamanya serius berbincang tentang segala hal persiapan pembukaan toko berliannya tersebut.


"Jadi gitu ya sayang, bulan depan mudah-mudahan tokonya sudah bisa buka." tutur Mamanya.


"Oke deh Mamaku sayang." ucap Tania sambil memeluk Mamanya.


"Oh iya Tania, tadi Tante Lidya juga bilang kalau dia mau kenalin kamu sama ponakannya." jelas Mamanya pada Tania.


"Maksudnya Ma? Buat bantu kerjasama toko berlian Mama dan Tante?" saut Tania.


"Bukan sayang, maksudnya kenalan. Masa kamu ga paham maksud Mama?" jawab Mamanya sambil terkikih.


"Oh ya kenalan tinggal kenalan aja kan Ma? Supaya bisa jadi partner bisnis?" Tania berusaha menyelidik kembali maksud Mamanya.


"Partner hidup sayang maksudnya." jawab Mama Tania sambil tersenyum.


"Hah? Maksudnya mau dijodohin Ma? Gamau, Tania gamau." jawab Tania sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tania masih trauma Ma pacaran. Apalagi kalau dijodohin, langsung nikah Ma?" ucap Tania memelas sambil membayangkan dirinya menikah, mengurus laki-laki yang tidak dia cintai bahkan dikenalnya.


"Ya sudah kalau gamau, keponakannya Tante Lidya ganteng loh. Joshua mah lewat." goda Mamanya sambil terkikih.


Mereka pun meninggalkan ruang tamu dan segera beralih ke meja makan untuk makan malam bersama. Setelah itu Bu Dina mempersiapkan pakaian dan barang-barang yang akan dibawanya besok untuk kembali ke Jepang.


***


Di Bandara


"Mama nanti kalau sudah sampai Jepang, kabarin Tania ya." ucap Tania sambil memeluk Mamanya.


"Iya sayang." jawab Mamanya sambil membalas pelukan Tania. "Yaudah Mama masuk ya, kamu hati-hati di jalan. Jangan lupa pesan Mama kemarin ya sayang." ucap Mama nya dan meninggalkan Tania di lobby bandara.


Tania kembali ke coffee shopnya, dia harus memeriksa beberapa laporan dan mengecek persiapan acara pertunangan yang menyewa coffe shopnya tersebut.


" Pak Radith, tolong keruangan saya sebentar." ucap Tania melalui interkom telepon pada Managernya itu.


Tok


Tok


Tok


"Silahkan masuk." jawab Tania.


"Congratulation for new baby born. Maaf ya Pak saya belum sempat jenguk kemarin, ternyata sudah pulang ke rumah ya?" tutur Tania sambil memberikan sebuah kado pada Pak Radith.

__ADS_1


"Wah terimakasih Mbak Tania. Tidak apa-apa Mbak, yang penting anak sama istri saya sehat." jawab Radith dengan mukanya yang senang.


"Oh iya Pak, saya sebenarnya panggil Bapak kesini juga mau menanyakan tentang acara pertunangan dari adik pemilik PT. TIRTANIA JAYA itu. Bagaimana konsep yang mereka mau? Lalu bagaimana juga rundown acaranya? Dan makanan apa saja yang mereka pesan?"


"Mereka mau konsep garden party dengan dekorasi rustic Mbak. Untuk makanan dan minuman mereka pesan sesuai dengan menu di Kafe kita. Untuk listnya akan saya ambilkan ya mbak." Radith menjelaskan. "Oh iya, mereka kemungkinan akan memulai dekor di Jumat malam karena acara sabtu pagi sudah dimulai." tambah Radith yang sedang berjalan menuju pintu keluar.


"Okay Pak, nanti saya tunggu listnya. Kirim ke emailku saja pak." jawab Tania sambil tersenyum.


***


Sabtu pun datang, karena "Tania Garden Coffe" sedang disewa, maka coffee shop itu terpaksa tutup untuk hari Sabtu ini dan hanya melayani take away. Pemberitahuan tutup juga sudah diinformasikan melalui sosial media "Tania Garden Coffee".


"Wah ramai sekali, untung saja parkirannya cukup." Tania menutup pintu mobilnya dan masuk ke coffee shopnya.


"Mbak Tania! tadi dicari sama laki-laki Mbak yang punya acara ini." seru Jihan dengan wajah panik.


"Ada apa Jihan? Acaranya jam 9 bukan?" jawab Tania dengan nada panik.


"Iya Mbak, tapi laki-laki itu marah-marah dan mau ketemu sama owner." jawab Jihan dengan wajah yang semakin panik.


"Huft, yasudah tenang Jihan. Sekarang dimana laki-lakinya? Atau kita bisa panggil dia Tuan?" jawab Tania berusaha menenangkan Jihan.


"Saya disini." ucap seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan berbadan kekar, dibalut dengan kemeja biru tua, tampan sekali. "Saya mau komplain, kenapa sudah jam 07.30 WIB tapi makanannya belum siap semua?


"Mohon maaf Tuan, boleh kita bicara di ruangan saya?" jawab Tania.


"Tidak perlu! Cepat siapkan makanannya atau akan saya sebarkan berita di media televisi betapa buruknya pelayanan disini." seru Tuan itu.


"Ba-baik. Akan segera saya bereskan." jawab Tania terbata.


"Jihan, segera infokan bagian pantry untuk cepat memasak. Ada Tuan tidak sabaran yang lapar." ucap Tania kesal.


"Baik Mbak." jawab Jihan seraya menuju pantry.


"Aku juga akan menyusul ke pantry." tambah Tania.


Tania ke ruangan kantornya sebentar setelah itu ke pantry untuk membantu pekerjaan koki. Beruntung, Tania pernah ikut kursus memasak selama 6 bulan sekembalinya dari Jepang, membuatnya bisa memasak walaupun tidak sepintar koki di coffee shopnya.


"Akhirnya selesai sudah. Mungkin aku harus menambah 2 koki lagi." gumam Tania yang berjalan lelah menuju sebuah kursi di pantrynya. "Sombong sekali Tuan itu, kalau bukan client ku, pasti akan ku lawan." gerutu Tania kesal.


Tiba-tiba telepon Tania berdering. Tania ingin mengangkat telepon itu tapi nomornya tidak dikenal.


"Halo, apakah benar dengan Ibu Tania Lembayung Asmara?" tanya seorang wanita di telepon.


"Iya benar." jawab Tania lemas.


"Ibu saya ingin menawarkan pinjaman bunga rendah..." jelas wanita.


"Mbak maaf ya, saya lagi kerja." tukas Tania dan segera menutup teleponnya. "Ya ampun, ada saja." gerutu Tania kembali.


Telepon Tania kembali berdering, Tania yang sedang memejamkan mata terkejut dan dengan malasnya melihat teleponnya.

__ADS_1


"Siapa lagi sih ini, mau nawarin apalagi?" gerutu Tania.


"Mamaku Sayang" ucap Tania yang sedang membaca tulisan di teleponnya. "Halo Ma? Ada apa?" ucap Tania dengan penuh senyuman.


"Sayang, kamu lagi dimana? Mama mau minta tolong." jawab Mamanya.


"Aku lagi di toko Ma, kebetulan sedang ada acara disini. Mau minta tolong apa Ma?" tanya Tania Kembali.


"Sayang, besok hari minggu tolong kamu ketemu Tante Lidya ya. Nanti Mama kasih nomor teleponnya, kamu hubungi Tante Lidya ya." jawab Mamanya menjelaskan.


"Oh gitu, oke Ma. Bye Mama, love you." ucap Tania di ujung teleponnya.


Tidak berapa lama ada pesan chat masuk dari Mamanya yang memberikan nomor telepon Tante Lidya. Setelah Tania menyimpan nomor Tante Lidya, Tania bergegas keluar dari pantry dan melihat bagaimana acara pertunangan itu berlangsung. Banyak sekali orang-orang yang datang, dari pakaian yang mereka kenakan terlihat mereka bukan orang sembarangan. Minimal Manajer dari sebuah Perusahaan besar.


"Jadi hari ini saya mau mengucapkan selamat untuk adik saya Kania Dwi Antana yang sudah melangsungkan pertunangannya dengan pasangannya Danesh Arkananta. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu diberukan kelancaran di hari pernikahan kalian dan segera mendapat momongan." ucap seorang laki-laki yang disambut dengan tepuk tangan dari para tamu.


"Ternyata Tuan sombong dan tidak sabaran itu yang sedang berbicara." gumam Tania kesal sambil berjalan kembali ke ruangan kantornya.


***


Di Rumah Tania


"Hari ini lelah sekali, rasanya hidupku sepi sekali. Orangtua jauh di negeri orang, adik atau kakak tidak ada." Tania membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tanpa terasa Tania tertidur, namun tiba-tiba teleponnya berdering.


"Tidak ada nama lagi, malas sekali aku mengangkatnya. Aku diamkan saja." gumam Tania. Namun telepon itu tidak berhenti berdering, akhirnya Tania mengangkatnya dengan malas.


"Halo?" ucap Tania.


"Halo, ini benar Tania?" ucap laki-laki di telepon.


"Iya benar, ada apa ya Mas? Kalau mau nawarin ini itu saya lagi sibuk Mas." jawab Tania kesal.


"Nawarin apa ya? Aku Kaleb, keponakan Tante Lidya. Tante menyuruhku menjemputmu besok, bisakah kau memberikan alamatmu?" ucap laki-laki itu.


"Oh maaf, aku kira telepon untuk tawarin pinjaman." jawab Tania terkekeh. "Aku akan chat kamu saja nanti. Terimakasih." jawab Tania diakhiri dengan ditutupnya telepon.


"Apakah Kaleb ini keponakan Tante Lidya yang diceritakan Mama? Kenapa dia harus menjemputku? Apa ini sudah direncanakan sebelumnya oleh Mama dan Tante?" gumam Tania.


Pk. 07.00 WIB


telepon berdering


"Ya ampun siapa sih pagi-pagi seperti ini telepon?" gerutu Tania.


"Halo?" jawab Tania dengan suara khas bangun tidur.


"Hei kamu, katanya mau memberikan alamat rumahmu?" jawab Kaleb kesal.


"Ya ampun, maafkan aku Kaleb. Aku lupa dan tertidur lagi semalam. Baiklah sekarang aku akan chat kamu." jawab Tania dengan nada memelas. Sambungan telepon pun dimatikan.


"Ya ampun ,laki-laki itu galak sekali. Tapi suara dia saat marah itu seperti tidak asing."

__ADS_1


Aku akan menjemputmu Pk. 11.00, bersiap-siaplah. -Kaleb-


Bersambung...


__ADS_2