
Dalam perjalanan pulang dari rumah Tania, tidak ada pembicaraan satu sama lain antara Kania dan Kaleb. Hanya ada keheningan yang cukup lama, hingga akhirnya Kania membuka suara memecahkan keheningan.
"Kak, tadi kenapa kamu cuekin Tania sih? Apalagi tahu Kakak mau jemput Lita. Dia jadi sedih kan." tutur Kania.
"Biarkan saja, karena dia sedih aku jadi tahu kalau dia sebenarnya cemburu." ucap Kaleb sambil tersenyum kemenangan.
"Jahat sekali sih kamu Kak. Kalau kamu seperti itu terus, Tania pikir kamu engga mau perjuangin dia loh." tutur Kania.
Perkataan Kania ada benarnya juga. Kaleb memegang hidung dengan telunjuknya dan sebagian jarinya menopang dahunya. Lalu dia memindahkan telunjuknya ke pipi kanannya. Kaleb sedang berpikir dan mencerna kata-kata Kania.
"Lalu, aku harus bagaimana Kania?" tanya Kaleb sambil melirik Kania.
"Begini saja Kak, kamu ajak Tania waktu jemput Kak Lita dan Tante. Bagaimana?" saut Kania sambil melirik Kaleb yang sedang fokus menyetir.
Kaleb kembali memegang hidung menggunakan jari telunjuknnya dan jari lain menyangga dagunya, bergantian jari telunjuknya berpindah ke pipi kanannya. Kaleb memikirkan perkataan adiknya itu. Namun, tiba-tiba Kaleb tersenyum.
"Tapi Kania, kamu tahu tidak? Tadi aku sebenarnya pura-pura menelepon saja." tutur Kaleb sambil tersenyum jahil.
Kania membulatkan matanya dan memukul pundak Kaleb. Kaleb meringis sakit.
"Kakak, jahat banget sih!" seru Kania.
"Kamu jangan sebel-sebel sama aku, nanti anakmu mirip aku loh." tutur Kaleb sambil tertawa.
"Jadi, Tante engga telepon Kakak?" tanya Kania.
"Engga ada yang telepon aku." tutur Kaleb penuh senyuman.
"Kenapa Kakak ngerjain Tania? Dia jadi sedih tahu!" umpat Kania.
"Iya tadinya aku mau buat dia cemburu saja, ternyata aku salah." tutur Kaleb.
"Ya sudah Kak, kamu minta maaf saja." pinta Kania.
"Hem, aku ada ide lain. Tapi aku pulangkan kamu dulu, nanti aku pergi ke rumah Tania lagi." tutur Kaleb.
"Yah, aku engga boleh ikut?" ucap Kania sedih.
"Kamu lagi hamil muda, harus banyak istirahat." pinta Kaleb sambil mengelus kepala adiknya itu.
Mereka sudah sampai di rumah, Kaleb bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, Kaleb ke dapur untuk membuat secangkir kopi sambil menunggu pukul sembilan malam untuk pergi ke rumah Tania.
Kaleb duduk di ruang makan dan mengambil cangkir kopinya, meminum sedikit cairan hitam itu dan menaruh kembali cangkirnya ke tempat semula. Kaleb memesan kue secara online untuk dia bawa ke rumah Tania.
Setelah kue pesanan Kaleb datang, Kaleb mulai bersiap untuk berangkat menuju ke rumah Tania. Sebelumnya, Kaleb sudah bekerjasama dengan Kania agar Kania memberitahu Tania bila dia akan main ke rumah dan menginap.
***
Tania masih berusaha memejamkan matanya agar tertidur. Tapi pikirannya masih digelayuti oleh Kaleb dan Lita yang akan bertemu.
Tania juga masih menunggu kabar kedatangan Kania yang tiba-tiba memberitahunya kalau dia akan menginap. Tania langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke ruang tamu. Tania duduk di sofa ruang tamu sambil membaca majalah fashion namun perhatiannya tak lekang dari telepon genggamnya.
Tiba-tiba Tania mendengar suara mobil, dia lekas keluar karena ingin menyambut Kania. Namun, yang dilihat bukan Kania.
"Kaleb?" ucap Tania sambil mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Kenapa dia yang datang? Apa Kania mengerjaiku?" gumam Tania dalam hati.
Tania memutar bola matanya dan menghela nafas kasar.
Kaleb lekas turun dari mobil dan memberikan senyuman terbaiknya pada gadis pujaannya itu.
"Nunggu Kania ya?" tutur Kaleb sambil tersenyum.
"He-em." saut Tania kesal.
"Jangan marah dong, bikin gemas deh." ucap Kaleb sambil mencubit pipi Tania.
"Ini buat kamu." Kaleb memberikan kue yang sudah dipesannya tadi.
"Kok buatku? Bukan buat Lita? Kamu mau jemput Lita kan?" Tania menolak pemberian Kaleb itu.
Kaleb tertawa mendengar jawaban Tania yang terlihat sangat jelas kalau dia sedang cemburu.
"Aku tidak jemput Lita kok, Lita dan Tante sudah dijemput sama Om." tutur Kaleb.
Tania yang sedang menoleh kesamping bermaksud menghindar agar tidak menatap Kaleb, matanya langsung membulat karena terkejut mendengar perkataan Kaleb.
"Maksudmu apa? Lalu dimana Kania?" umpat Tania.
"Hem, aku tadi hanya mengerjaimu saja berpura-pura menelepon. Lalu tadi aku juga yang meminta tolong Kania agar menghubungimu." saut Kaleb dengan senyuman. "Sekarang terima ya kue ini." imbuh Kaleb sambil memberikan kembali kue itu.
Tania langsung tersenyum dan perasaannya sedikit lega. Namun senyumannya yang indah itu ia sembunyikan ketika menolehkan wajahnya kembali pada Kaleb.
"Terimakasih." saut Tania kesal sambil menerima kue dari Kaleb.
"Eh, siapa yang suruh masuk?" seru Tania.
Kaleb terdiam karena terkesiap mendengar perkataan Tania.
"Hem, memang aku tidak boleh masuk?" tutur Kaleb lirih.
Tania berpura-pura marah dan kesal. Tania meletakan kuenya di meja ruang makan, lalu membuatkan minum untuk Kaleb. Kaleb duduk di sofa ruang tamu dan melihat Tania yang sedang sibuk membuatkan minuman untuknya.
"Cantik, pintar, bisa melayani juga." gumam Kaleb dalam hatinya.
Tania membawa dua gelas es jeruk. Dia meletakan satu gelas di depan Kaleb dan satu gelas di seberang Kaleb untuk dirinya.
"Kok duduknya jauh-jauhan?" Kaleb menepuk sofa yang disebelahnya. Tania hanya melirik Kaleb dan masih sok sibuk membaca majalah fashion.
"Tania." panggil Kaleb.
"Hem." saut Tania.
"Tiga bulan lagi nikah yuk." ucap Kaleb membuat Tania menaikkan kepalanya dan menatap Kaleb.
"Bicara apa sih kamu?" seru Tania. "Kamu saja masih ada problem sama Lita." tutur Tania.
Kaleb menghela nafasnya kasar.
"Sabar ya Tania. Tante dan Lita sudah pulang, aku akan mencoba berbicara baik-baik dengan Tante, besok." pinta Kaleb.
__ADS_1
"Iya." saut Tania.
Kaleb yang kesal dengan sikap Tania beranjak mendekati Tania dan memandangi wajah gadis itu. Tania membulatkan matanya karena Kaleb mendongakan wajahnya. Kaleb memberikan kecupan di bibir merah Tania. Tania makin terkejut dan melepaskan ciuman Kaleb.
"Ka-leb." ucap Tania terbata.
"Iya." ucap Kaleb sambil memandangi Tania. Pipi Tania makin merona.
"Jangan cium-cium, belum sah." pinta Tania.
Kaleb tergelak mendengar ucapan Tania. Masih ada gadis sepolos dia, pikir Kaleb.
"Iya, maaf ya." ucap Kaleb sambil mengelus kepala Tania. "Aku akan cepat-cepat mensahkan hubungan kita." pinta Kaleb.
Tania mendongakan kepalanya, dia masih malu atas kejadian tadi.
"Iya, Kalebku." saut Tania.
Kaleb langsung memeluk Tania. Pelukan Kaleb sangat erat, Tania membalas pelukan Kaleb. Rasanya sangat nyaman. Kaleb dan Tania saling merasakan detak jantung masing-masing.
"Kaleb, sudah." ucap Tania dan melepaskan pelukan Kaleb.
"Masih mau peluk." ucap Kaleb manja, membuat Tania tertawa kecil.
"Sudah ah, nanti lagi kalau sudah sah." tutur Tania. "Sudah malam Kaleb, kamu tidak mau pulang?" tanya Tania.
"Kamu mengusirku?" tutur Kaleb sambil bersedekap dada. Tania menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk Kaleb. Kaleb mengecup ujung kepala Tania.
"Bukan mengusir, hanya saja ini sudah malam. Tidak enak dilihat tetangga." tutur Tania dan mengakhiri pelukan kedua mereka.
"Iya-iya, aku pulang ya." pamit Kaleb sambil mengusap kepala Tania. "Bye, cantik." tutur Kaleb.
Tania melambaikan tangan pada Kaleb dan memberikan ciuman selamat tinggal menggunakan tangan.
"Bye." ucap Tania.
Kaleb mulai berjalan keluar rumah dan memasuki mobilnya, namun langkahnya terhenti tatkala ada panggilan telepon. Kaleb mengambil telepon di kantung celananya.
"Halo?" sapa Kaleb.
Bersambung....
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
^ Minta vote, komen dan likenya ya. supaya semangat updatenya ^