Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 28 – Menikah (1)


__ADS_3

“Halo?” sapa Kaleb. Kaleb melirik jam tangannya yang menunjukkan sudah pukul sepuluh lebih lima belas menit. Setelah itu, Kaleb memandang Tania yang sedang memperhatikannya. “Apa?” saut Kaleb panik. “Oke, aku segera kesana.” Kaleb menghampiri Tania dan memegang pundak Tania.


“Kenapa?” tanya Tania.


“Kania, pendarahan Tan. Aku mau ke Rumah Sakit. Kamu mau ikut?” ajak Kaleb, Tania membulatkan matanya dan menutup mulutnya. Tania segera menuju ke kamarnya berganti pakaian dan mengambil tas. Kaleb dan Tania dengan panik menuju ke Rumah Sakit.


Di dalam mobil, Tania tak henti-hentinya memandang jam tangan dan teleponnya berharap ada kabar terbaru mengenai kondisi Kania.


“Kaleb,  sebenarnya bagaimana kejadiannya?” tanya Tania.


“Aku tidak tahu, hanya Kania bilang kalau dia melihat bercak darah saat dia ingin buang air kecil. Tante Lidya juga sedang tidak ada di rumah, Kania panik dan meminta supir untuk mengantar ke rumah sakit.” tutur Kaleb.


Mendengar cerita Kaleb membuat Tania merasa sedikit lega. Ternyata hanya bercak darah, bukan pendarahan hebat.


”Iya Kaleb, mudah-mudahan kandungan Kania baik-baik saja.” ucap Tania.


Kaleb tidak menjawab ucapan Tania, hanya mengelus kepala Tania menggunakan tangan kirinya dan berusaha tersenyum. Terpancar jelas dari matanya kalau Kaleb sangat menghkhawatirkan adik semata wayangnya itu. Rumah sakit yang dituju Kaleb dan Tania memang sangat jauh. Membutuhkan waktu hampir empat puluh lima menit menuju ke sana.


”Kaleb, Danesh sudah tahu tentang ini?” tanya Tania lagi.


“Aku belum sempat bertanya pada Kania. Harusnya sih sudah.” tutur Kaleb. “Kalau kamu mengantuk, tidur saja Tan. Perjalanan kita masih jauh.” Imbuh Kaleb.


“Engga, aku mau menemanimu.” pinta Kania.


***


Mobil Kaleb sudah terparkir sempurna di halaman Rumah Sakit Sehat. Kaleb bergegas menghubungi supir Kaleb untuk menanyakan keberadaan Kania, karena sampai sekarang telepon Kania tidak bisa dihubungi.


”Pak, Kania dimana sekarang?” tanya Kaleb.


“Sedang diperika dokter, Tuan. Tuan Kaleb kesini saja, kita di lantai satu IGD.” pinta Pak Joko, supir Keluarga Kaleb.


Kaleb bergegas menuju ke IGD Rumah Sakit Sehat tersebut. Tanpa sengaja Kaleb berpapasan dengan Mamanya Lita.


“Tante?” sapa Kaleb. “Ada apa Tante, kenapa ada disini?” imbuh Kaleb penuh kecurigaan.


“Kaleb, kamu sedang apa disini?” tanya Mama Lita balik.


“Kania sedang diperiksa, Tante kenapa disini? Lita dimana?” tanya Kaleb lagi.


“Tidak apa-apa, dimana Kania Tante ingin melihatnya.” pinta Mama Lita.

__ADS_1


Tania yang melihat Mama Lita langsung terdiam dan tidak bersuara, sesekali Tania tersenyum ketika pandangan Mama Lita beralih kearahanya. Namun, senyuman Tania tidak terbalaskan.


Kaleb, Mama Lita dan Tania menuju ke ruang IGD. Nampak disana Kania sedang berjalan keluar dibantu oleh Danesh. Danesh baru saja tiba ke Jakarta dan segera menuju ke Rumah Sakit saat mendengar kabar tentang Kania.


“Kania!” seru Kaleb.


Kania dan Danesh menoleh ke sumber suara itu.


“Bagaimana keadaan kamu? Kandungan kamu?” tanya Kaleb tanpa jeda.


“Syukur, baik-baik saja Kak.” tutur Kania.


“Syukurlah.” saut Kaleb.


“Iya Kak, dokter bilang kalau hanya bercak tidak ada pendarahan hebat dan tidak ada gejala-gejala lain kandunganku baik-baik saja Kak. Dokter hanya memberikan obat penguat kandungan saja.” tutur Kania.


“Syukurlah, Kania kamu baik-baik saja.” ucap Mama Lita.


“Loh, Tante ada disini juga?” ucap Kania.


“Kania.” ucap Tania sambil memberikan pelukan.


“Makasih ya Tania, sampai kamu ikut kesini juga.” ucap Kania.


Kaleb tidak menjawab pertanyaan dari Mama Lita hanya mengganggukan kepalanya. Kaleb mengikuti Mama Lita ke sebuah ruang tunggu yang sepi. Mereka mendudukan tubuh mereka di kursi panjang ruang tunggu itu.


“Ada apa, Tante?” tanya Kaleb.


“Kaleb, Lita sedang dirawat disini sepulang dari Singapore tadi. Kondisinya sangat drop.” tutur Mama Lita.


“Lalu, kata dokter bagaimana?” tanya Kaleb dengan raut wajah yang cemas.


“Dokter bilang, mungkin waktu Lita tidak akan lama lagi.” ucap Mama Lita, bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya.


Kaleb berusaha menenangkan Mama Lita dengan mengelus-elus punggung tangan Mama Lita.


“Ka-Kaleb.” panggil Mama Lita dengan terbata, seperti kehabisan suara.


“Iya, Tante?” jawab Kaleb.


“Maukah kamu menikahi Lita di rumah sakit besok?”

__ADS_1


 “Menikah Tante?” saut Kaleb terkejut.


Kaleb terkejut mendengar perkataan Mama Lita, dia sangat bingung. Dia seharusnya berjuang untuk mendapatkan cinta Tania, bukan Lita. Tapi kenapa kondisinya sangat sulit seperti ini.


“Tante tahu, Lita sudah mengikhlaskanmu dengan Tania. Tapi, Tante tahu sebenarnya dia hanya ingin berbuat baik saja padamu. Lita sudah menceritakan semuanya pada Tante. Dia memang benar-benar anak yang baik.” tutur Mama Lita.


“Tante, aku belum siap menikah dalam waktu hitungan jam seperti itu.” tutur Kaleb.


“Tante akan persiapkan semuanya Kaleb.” pinta Mama Lita.


Tanpa disadari oleh mereka, ternyata Tania mendengar pembicaraan antara Kaleb dan Mama Lita. Air mata Tania mulai menetes membasahi kedua pipi Tania. Masih terbayang dalam benak Tania, perbuatan Kaleb beberapa jam lalu yang sangat manis. Menorehkan cerita yang begitu indah dalam hatinya. Tapi saat ini, Tania dihadapkan pada posisi yang serba salah. Mungkin tidak hanya Tania, Kaleb pun demikian. Tapi apalagi yang bisa Tania lakukan selain mengalah. Mengalah pada keadaan dan mengalah pada perasaan.


“Aku harus membiarkan Lita bahagia di sisa-sisa hidupnya.” gumam Tania. Tania yang tadi berada dibalik tembok dekat kursi ruang tunggu mulai memunculkan dirinya.


“Kaleb.” tutur Tania sambil menghapus sisa-sisa air matanya. “Menikahlah dengan Lita. Jangan cemaskan aku.”


Pandangan Mama Lita dan Kaleb langsung teralihkan dengan kemunculan Tania.


“Tania?” ucap Kaleb. Kaleb langsung menghampiri Tania dan memeluk tubuh mungil Tania dan Tania membalas pelukan Kaleb. Baru saja dia berjanji akan memperjuangkan cintanya, tapi muncul permasalahan lain yang membuat Kaleb berubah.


“Tania, maafkan aku. Apakah kamu mau menungguku?” tutur Kaleb yang masih memeluk Tania rasanya enggan melepaskan tubuh wanita yang dicintainya itu.


“Iya Kaleb. Aku akan berusaha menunggu bila Tuhan mengizinkan.” pinta Tania. “Kaleb, sudah lepaskan tidak enak dilihat orang.”


“Kaleb bila kamu dan Lita sudah menikah dan Lita sehat seperti sedia kala, kamu tidak berniat menceraikan Lita kan?” tutur Mama Lita.  


“Tapi, dokter bilang Lita tidak memiliki waktu yang lebih lama lagi?” tutur Kaleb.


“Itu kan hanya prediksi dokter, dokter bukan Tuhan yang tahu hidup dan mati tiap orang.” Ucap Mama Lita.


Kaleb bergeming memandang Mama Lita dan Tania secara bergantian. Perkataan Mama Lita membuatnya bingung, Kaleb berpikir bila memang dia menikah dengan Lita dan Lita harus pergi meninggalkan dunia ini, Kaleb akan menjadi duda dan setelah itu dia bisa menikah dengan Tania. Memang sedikit jahat, tapi dia tidak ingin kehilangan Tania. Wanita yang sangat dicintainya itu


Bersambung...


.


.


.


.

__ADS_1


.


^Minta Vote, like dan komennya ya ^


__ADS_2