
Tania menghela nafasnya kasar, masih belum terpikir dalam benaknya ada dua laki-laki yang mendekatinya. Tania kembali menutup wajahnya dengan bantal, memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Rasanya sulit sekali tidur dan memejamkan matanya. Sedangkan dia harus bersiap menghadapi hari esok.
***
Keesokan Harinya
Tania kembali beraktivitas seperti biasa, kali ini Tania harus mempersiapkan diri dan hatinya bertemu dengan Donny. Ya, lelaki yang sudah berusaha mengejarnya selama ini. Donny berhasil menutupi perasaannya selama kuliah, karena Tania masih memiliki hubungan dengan Joshua. Donny memang pintar menyembunyikan perasaannya. Bila dilihat secara fisik, Donny juga memiliki ketampanan tersendiri dari kecerdasannya yang terpancar saat dia sedang berbicara.
Saat ini mereka berdua tengah duduk bersama, bersebrangan. Donny menatap wajah Tania dalam-dalam sambil menikmati kopi yang sudah dia pesan, seteguk demi seteguk.
"Coffee shop-mu bagus juga Tan." tutur Donny yang saat ini matanya sedang berkeliling mengamati ruangan tempat dia duduk bersama dengan gadis pujaan hatinya.
"Terimakasih Don, syukurlah kalau kamu bilang bagus." saut Tania.
"Tan, besok kita jalan yuk. Besok kan weekend." ajak Donny sambil memegang tangan Tania, namun dengan cepat Tania menepisnya. "Sorry Tan." imbuh Donny.
Mati aku, besok aku sudah punya janji sama Kaleb. Tania.
"Yah, besok aku ga bisa Don. Aku ada acara." ucap Tania berbohong.
Terpaksa bohong lagi. Pusing aku. Tania.
"Oh gitu ya, mau kemana? Sama siapa?" tanya Donny menyelidik.
"Sama temenku." tutur Tania dengan nada kesal karena sedari tadi Donny tidak henti-hentinya bertanya.
"Aku boleh ikut?" tanya Donny.
"Tidak!" seru Tania. "Donny, kita kan baru awal pendekatan lebih baik jangan terlalu sering ketemu dulu." tutur Tania.
"Baiklah kalau itu keinginamu Tan." ucap Donny sambil melengkungkan senyumannya.
Donny dan Tania kembali berbincang, perasaan Tania yang tadi kesal karena pertanyaan-pertanyaan Donny sudah mulai mencair.
***
Kaleb sudah kembali ke Jakarta karena hari ini ada pengenalan Manajer baru dari divisi Bisnis Strategis yang pindah dari Jogjakarta. Direktur anak cabang di Jogja mengatakan bila Manajer ini memiliki kemampuan yang bagus serta cerdas. Selain itu kedatangan Kaleb ke Jakarta juga karena ada rapat penting yang tidak bisa dia tinggalkan. Sebenarnya Kaleb ingin sekali menemui Tania, tapi gadis itu menolaknya karena sedang tidak enak badan.
Saat istirahat makan siang, Kaleb masih berkutat dengan pekerjaannya didampingi oleh asistennya Dirga. Dirga sudah membawakan makanan yang dipesan Kaleb, namun belum disentuh sama sekali olehnya.
"Tuan Kaleb, lebih baik makan dulu." tutur Dirga.
"Tidak apa Dir, sebentar lagi selesai." pinta Kaleb. "Kamu makan saja duluan." imbuh Kaleb.
"Tidak, aku menunggu Tuan saja." ucap Dirga.
Dirga tidak bisa berbuat apa-apa terhadap keinginan Tuan nya itu, karena sebenarnya Dirga sendiri juga sudah lapar namun terpaksa menahannya.
Sekitar lima belas menit, Kaleb terlihat terhenti dari aktivitas pekerjaannya karena sudah selesai dan akan dilanjutkan setelah makan siang.
Telepon genggam Kaleb tidak berhenti berdering sedari tadi, hal itu membuat kesal sehingga Kaleb mematikan telepon genggamnya itu dan menyalakannya kembali saat mulai makan siang. Terlihat ada dua pesan masuk dari nomor tidak dikenal dan mengirimkan sebuah gambar serta satu buah pesan.
__ADS_1
"Sepertinya ini Tania dan..." Kaleb mencoba mengingat-ingat, karena pernah melihat laki-laki yang ada di foto itu bersama Tania. "Dirga, kamu pernah melihat laki-laki ini?" Kaleb menunjukkan foto pada telepon genggamnya.
Dirga memandang sejenak kemudian berpikir.
"Bukankah ini Manajer baru yang pindah dari Jogja?" jawab Dirga.
"Oh iya, kamu benar." tutur Kaleb.
"Ada masalah dengan dia Tuan?" tanya Dirga.
"Tidak ada apa-apa." Kaleb menggelengkan kepalanya.
Apa mungkin dia adalah laki-laki yang Tania bilang teman kuliahnya. Kaleb.
"Aku harus mencari tahunya." gumam Kaleb.
"Dirga, setelah makan siang boleh kamu berikan padaku Daftar Riwayat Hidup dari Manajer baru itu?" pinta Kaleb.
"Baik Tuan, saya permisi dulu. Kebetulan makan siang saya sudah selesai, saya akan segera mengirimkan surat elektronik pada Tuan." tutur Dirga seraya beranjak meninggalkan ruangan Kaleb, Kaleb mengganggukan kepalanya.
***
"Tan, aku balik ke kantor dulu ya. Jam istirahat makan siangku sudah selesai." pinta Donny.
"Oke Don, hati-hati ya." tutur Tania seraya mengantarkan Donny ke parkiran untuk menunggu taksi onlinenya.
"Tan, tinggal aja. Biar aku nunggu sendiri." ucap Donny. "Panas disini, cepet masuk nanti kulit putih mu jadi gelap." imboh Donny sambil terkekeh.
Tania mengganggukan kepalanya, setelah berpamitan pada Donny dia masuk kembali keruangan kantornya. Tania baru saja masuk dan mendudukan tubuhnya di kursi tiba-tiba notifikasi telepon dari Kaleb masuk.
"Kamu dimana sekarang?" tanya Kaleb.
"Dikantor, kenapa?"
"Kamu habis pergi darimana? Katanya kamu sedang tidak enak badan karena haid?" tanya Kaleb lagi.
Mati aku, bagaimana Kaleb bisa tahu kalau aku bertemu seseorang. Tania.
"Tania?" panggil Kaleb.
"I-iya. Aku tidak pergi kemana-mana. Tadi hanya ada temanku kesini." tutur Tania dengan wajah panik.
Lebih baik aku jujur saja. Tania.
"Siapa? Teman kuliahmu?" tanya Kaleb lagi.
Tania membulatkan matanya, bagaimana dia bisa tahu kalau yang ada datang adalah teman kuliahnya yang ingin dekat dengannya.
***
Epilog
__ADS_1
"Tuan, Daftar Riwayat Hidup Manajer baru sudah saya berikan." tutur Dirga.
"Baik, terimakasih." Kaleb memutuskan sambungan telepon dengan Dirga.
Kaleb langsung mengecek surat elektronik yang sudah dikirimkan Dirga, membacanya dengan seksama.
"Ternyata benar, dia berkuliah di Jogja satu kampus dan jurusan dengan Tania." gumam Kaleb. "Kenapa Tania harus berbohong padaku?" tutur Kaleb dengan nada kesal.
***
"Iya Kaleb, dia memang teman kuliah yang waktu itu kuceritakan padamu." tutur Tania dengan suara yang mengecil karena menahan takut.
"Tania, aku paling tidak suka dibohongi. Kenapa kamu tidak bilang sejujurnya saja?" seru Kaleb.
"A-aku..." Tania berusaha menjawab Kaleb.
"Bila memang kamu ingin menjalani hubungan lebih lagi dengan dia, sampaikan padaku." tukas Kaleb, membuat Tania hanya diam saja di telepon. "Bukankah kita sudah berjanji untuk tetap saling menjaga komunikasi?" imbuh Kaleb.
Pandangan Tania terasa gelap, dia menghela nafas panjang. Tania menguatkan hatinya untuk menjawab perkataan Kaleb.
"Kaleb dengarkan aku!" seru Tania. "Aku tidak mau kamu mengetahui tentang Donny karena aku menghargai perasaanmu. Aku memang akan bercerita padamu besok saat kita akan bertemu. Tetapi aku rasa, pembicaraan kita sekarang sudah jelas dan kamu sudah paham. Selamat tinggal Kaleb." pamit Tania dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Tania mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya, memijit kepalanya yang terasa sakit. Sesekali Kaleb masih berusaha menghubungi Tania, namun Tania tidak mengangkat dan malah mematikan teleponnya.
"Dia bilang akan tetap menjaga komunikasi yang baik, tapi dia sendiri berkelakuan seperti itu. Memusingkan sekali sikapnya." gumam Tania. "Rasanya mood-ku sudah berantakan." imbuh Tania.
***
Di Ruang Kerja Kaleb.
Kaleb masih berusaha menghubungi Tania, dia sadar dia salah karena terlalu emosi. Mencoba menghubunginya satu kali, dua kali, tiga kali sampai lima kali dan tidak diangkat. Saat sambungan yang ke enam hanya terdengar nada telepon tidak aktif. Kaleb meremas teleponnya itu dan membanting tubuhnya kasar di kursi kerjanya.
"Tania maafkan aku, aku tidak bisa menahan emosiku." ucap Kaleb dengan tatapannya yang kosong.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
__ADS_1
.
^ Jangan lupa Like, Comment dan Vote ya. Terimakasih ^