
Sudah seminggu Tania dan Kaleb menjalin hubungan pura-pura pacaran. Kaleb pun sudah menceritakan pada Tante Lidya kalau mereka memang berpacaran bukan pura-pura pacaran. Kaleb dan Tania sepakat rahasia itu menjadi milik mereka berdua.
"Sudah seminggu aku jadi pacar pura-pura Kaleb, rasanya senang juga ada yang menemani kemana saja. Walaupun tidak ada cinta diantara kita." ujar Tania yang sedang memandang pintu di ruangan kantornya. "Aku harus kasih tau ke Mama, supaya Mama tidak kaget saat ke Indonesia nanti."
Tania :
Mama lagi apa? Mama aku mau cerita
Bu Dina :
Mama sama papa lagi mau makan siang, ada apa sayang?
Tania :
Ma, aku udah pacaran sama Kaleb. Detilnya aku ceritakan minggu depan saat launching Toko ya.
Bu Dina kaget mendengar isi chat anaknya itu langsung memberitahukan pada suaminya.
"Pa, Tania sudah punya pacar."
"Pacar? Siapa?" tanya Papa Tania dengan nada terkejut.
"Kaleb Pa, keponakan Lidya. Dulu waktu kita masih kuliah, Kaleb masih kecil umur 4 tahun." Mama Tania menjelaskan.
"Tapi kamu kenal baik sama keluarga mereka?" tanya Papa Tania.
"Kenal dong Pa, aku juga kenal Orangtua Kaleb. Jadi kakaknya Lidya itu Ibunya Kaleb, perbedaan umur mereka memang jauh. Jadi ketika Lidya mau masuk SMA, kakaknya sudah menikah." ujar Mama Tania.
"Ya sudah, yang penting kamu cukup tahu keluarga itu sudah baik." ucap Papa Tania.
***
Saat Tania sedang asik melanjutkan pekerjaannya, tiba-tiba telepon genggamnya bergetar. Ada panggilan telepon dari Kaleb.
"Tania, nanti makan malam bareng yuk? Nanti aku jemput di coffe shop mu. Mobilmu tinggalkan saja dikantor, besok pagi aku antarkan kamu bekerja." ajak Kaleb.
"Hem, gimana ya?" ujar Tania dengan nada yang mengesalkan.
"Kok gimana? Cepat jawab!" seru Kaleb kesal.
"Boleh deh kalau kamu memaksa." Tania tertawa.
"Awas ya nanti kalau ketemu." ancam Kaleb.
"Ya sudah aku lanjutkan pekerjaan dulu, jam enam jemput ya pak bos." Tania tersenyum mengakhiri panggilan telepon.
***
Malam hari
Di dalam mobil Kaleb
"Tania, aku mau ajak kamu makan malam di restoranku." Kaleb tersenyum.
__ADS_1
"Dimana itu?" Tania penasaran.
"Ada deh, duduk manis aja nanti sampai." Tania menganggukan kepalanya.
"Kaleb, kamu tidak mau cari pasangan yang benar untuk menikah?" selidik Tania.
"Pasangan yang benar? Maksudmu ada pasangan yang tidak benar? Tidak berwujud?" Kaleb tertawa.
"Bukan begitu, kalau kita kan pura-pura pacaran, suatu saat nanti kalau kamu sudah menemukan seorang wanita yang baik dan cocok bagaimana? bicarakan sama aku ya?" Tania memberikan jari kelingkingnya.
"Apaan sih kamu, kaya anak kecil saja." Kaleb kembali tertawa dan Tania mengerucutkan bibirnya kesal melihat Kaleb menertawainya.
Setelah perjalanan kurang lebih satu jam mereka sampai di restoran itu, restorannya sunggu indah berbentuk saung-saung yang dibawahnya ada kolam ikan sehingga tiap pengunjung bisa memberikan makanan pada ikan-ikan tersebut.
"Tempatnya bagus." Tania tersenyum menatap Kaleb.
"Silahkan tuan putri." Kaleb menyodorkan tangannya bermaksud agar Tania menggandengnya, namun malah ditepis oleh Tania dan Tania berjalan lebih dulu meninggalkan Kaleb.
"Sial." gumam Kaleb.
"Kaleb kita duduk disaung itu saja ya." Tania menunjuk salah satu saung yang berada di tengah-tengah danau, lekas berjalan ke saung itu dan masuk kesana.
"Iya, terserah." saut Kaleb kesal sambil mengekori Tania.
Tania dan Kaleb duduk berhadapan, mereka memesan makanan dan minuman. Pelayan yang melayani mereka tahu kalau yang dilayani adalah pemilik restoran ini, sehingga mereka berusaha memberikan pelayanan yang terbaik.
"Kaleb, kenapa kamu bisa putus dengan Ana?" tanya Tania sambil mereka menikmati makanan mereka.
"Kau ini kenapa sih? Kadang baik, kadang galak. Aku kan nanya baik-baik." ujar Tania.
"Iya dia selingkuh, aku bukan marah. Biasa saja." jawab Kaleb dengan wajah datar.
"Ya sudahlah, mungkin kau kesal aku membahasnya." tiba-tiba perhatian Tania teralihkan dengan sosok wanita cantik yang tidak asing. "Kaleb, itu bukannya Ana?" jari Tania mengacung menunjuk sosok wanita yang sedang duduk berhadapan dengan seorang laki-laki. Kaleb pun melihat dan mengernyitkan dahinya.
"Kita pulang saja, aku sudah tidak nafsu makan." Kaleb berdiri dan bergegas keluar meninggalkan saung itu.
"Kaleb, makanan ini belum habis!" seru Tania.
"Tidak apa-apa, kita cari makanan lain yang penting bukan disini!" ajak Kaleb.
"Tidak mau, aku mau menghabiskan makanan ini!" saut Tania.
"Ya sudah, pulang naik taksi saja kamu!" seru Kaleb.
Tania pun terpaksa mengikuti Kaleb, mereka berjalan keluar dan terpaksa melewati Ana dan laki-laki di depannya. Tiba-tiba...
Brukk...
"Aww!" teriak Tania.
"Tania, kamu kenapa?" Kaleb bergegas menolong Tania, melihat kakinya yang terluka karena terjatuh. "Kamu sengaja ya buat dia tersandung?" Kaleb menunjuk Ana yang saat itu masih duduk santai ditempatnya, namun berusaha merapikan duduknya karena kakinya habis dia keluarkan dari meja yang membuat Tania tersandung.
"Aku tidak tahu apa-apa, dia saja yang tidak punya mata untuk berjalan!" seru Ana
__ADS_1
"Awas kalau aku bertemu denganmu lagi, jangan harap kamu bisa datang di pernikahan Kania nanti!" ancam Kaleb.
Kaleb sangat marah, membuat orang-orang memperhatikanya.
"Kaleb sudah, aku tidak apa-apa. Aku masih bisa berdiri. Malu dilihat orang-orang." Tania berusaha bangun, dibantu oleh dua orang pelayan.
Kaleb pun bergegas menggendong Tania ala bridal style, beberapa security mengawalnya sampai menuju parkiran mobil.
Di dalam perjalanan, Tania sesekali melirik Kaleb melihat wajahnya yang sangat kesal.
"Kaleb, sudah tidak usah marah. Mungkin tadi Ana tidak sengaja." Tania memegang tangan Kaleb yang sedang menyetir.
"Dia itu sengaja membuatmu terjatuh.
Maaf ya Tania, aku tidak menyangka akan bertemu dengannya disana. Dia memang selalu seperti itu." Kaleb berusaha menahan rasa kesalnya. "Tania, aku belum mau pulang. Kita makan es krim dulu bagaimana?" ajak Kaleb.
"Boleh." Tania tersenyum.
***
Restoran Es Krim
"Kaleb itu ada es krim disitu." tunjuk Tania.
"Dimana?" Kaleb berusaha membersihkan wajahnya.
"Disini." Tania menorehkan es krim dihidung Kaleb dan tertawa.
"Awas ya kamu." Kaleb berusaha membalas perbuatan Tania, tapi Tania berhasil menghindar.
Mereka berdua menghabiskan es krim sambil bercanda dan tidak terasa waktu sudah malam. Kaleb mengantarkan Tania pulang.
"Terimakasih untuk malam ini Tania. Aku pulang dulu ya sampai bertemu besok." pamit Kaleb pada Tania yang diiringi dengan lambaian tangan Kaleb.
Tania berusaha berjalan dengan riang, sambil sedikit melompat.
"La...la...laa... Aduuuh." Tania terjatuh. "Bibi Dini, tolong Tania!" seru Tania. "Aku lupa kalau kakiku masih sakit." keluh Tania sambil mengelus-elus tempurung kakinya.
"Ya ampun Mbak Tania, kenapa jatuh begini?" Bi Dini berusaha membantu Tania untuk bangun dan membantu Tania berjalan.
"Iya Bi, tadi Tania jatuh. Terus karena senang sekali hati Tania, Tania sampai lupa kalau kaki Tania sakit. Tadi Tania berjalan sambil sedikit melompat." Tania berbicara sambil berusaha berjalan dibantu Bibi Dini.
"Ya sudah sekarang istirahat saja ya Mbak." Tania mengangguk.
"Makasih ya Bi.." Tania tersenyum diiringi dengan Bibi Dini yang meninggalkan kamar Tania.
Tania berusaha berdiri untuk mandi dan berendam di bathtub. Menyejukan tubuhnya yang sangat lelah, apalagi kejadian di restoran yang membuat kakinya sakit.
"Hem, apa aku sudah mulai suka pada Kaleb ya? Kalau dipikir-pikir dia lumayan juga." gumam Tania. "Aah tidak, aku tidak mau, dia seperti bunglon suka berubah-ubah." Tania menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian tidur, Tania membaringkan tubuhnya. Masih menahan sakit akan rasa perih di lututnya akibat jatuh. Tidak lama Tania pun terlarut dalam mimpi.
Bersambung...
__ADS_1