
Dua Minggu Kemudian
Setelah perbincangan dengan Kaleb di taman kota, tidak pernah ada pertemuan kembali antara mereka. Kaleb dan Tania hanya saling bertukar pesan dan bertukar suara. Menanyakan kegiatan sehari-hari, menanyakan kabar, sudah makan atau belum. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya ditanyakan pada pasangan kekasih. Sekarang hubungan mereka seperti hubungan tanpa status, atau biasa disingkat HTS. Saat Tania sedang berbalas pesan dengan Kaleb, muncul notifikasi pesan dari seseorang.
Tania, aku sudah tiba di Jakarta. Besok kita bertemu ya. -Donny-
Tania menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kepalanya pusing, bagaimana bila besok-besok kedua lelaki ini akan mengajak bertemu bersama.
Boleh. -Tania-
Setelah itu, Donny menelepon.
"Halo?" ucap Tania.
"Tania, kita bertemu di Coffee Shop mu saja. Tolong share location ya." pinta Donny.
"Okay." jawab Tania singkat.
Sesuai permintaan Donny, Tania memberikan lokasinya melalui aplikasi whatsapp. Tania menghembus nafasnya kasar.
"Pusing kepalaku." gumam Tania yang saat sedang memegangi kepalanya.
Tok
Tok
Tok
"Mbak Tania, ada Mas Joshua." pintu ruangan Tania terketuk dan suara Tasya memanggil.
"Ya Tuhan, tidak selesai-selesai masalahku dengan laki-laki." tutur Tania kesal sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Mau apalagi sih dia." seru Tania
Tania sudah mendudukan tubuhnya di kursi sebrang Joshua.
"Tania, seminggu ini aku mencari kamu. Ternyata kamu sedang pergi ke Jogja. Kenapa tidak mengabariku?" tanya Joshua dan disambut dengan kernyitan di dahi Tania.
"Loh, siapa kamu? Aku mau pergi kemana saja bukan urusanmu kan?" jawab Tania yang tangannya sedang bersedekap diatas perutnya.
Joshua terdiam, sesekali dia melirik Tania namun wajah Tania sangat kesal.
"Apa masih ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" ketus Tania.
__ADS_1
"Tania, apa kamu sudah menerima pemberian dariku yang ku titip pada Bibi Dini?" tanya Joshua.
Astaga, aku lupa. Aku hanya menaruhnya di meja. Tania.
"Hem, su-sudah." jawab Tania.
Joshua menghembuskan nafasnya kasar.
"Kamu sudah membaca surat yang ada di bungkusan itu?" tanya Joshua lagi.
Mati aku, mana kutahu ada surat di dalamnya. Tania.
"Ti-tidak, aku tidak membacanya. Untuk apa kubaca." seru Tania, berusaha menutupi kebohongannya.
Joshua kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar dan sesekali menoleh ke samping kiri dan kemudian kembali lagi melihat Tania.
"Tania, di surat itu aku meminta padamu untuk memberikan kesempatan padaku agar kita bisa mencoba lagi menjalin hubungan." tutur Joshua. "Bila kamu mau menerimaku, aku akan memutuskan hubunganku dengan Jessica. Tapi ternyata kamu tidak memberikan kesempatan itu." ucap Joshua.
"Joshua, seharusnya kamu sadar dari setiap sikapku yang tidak memberikan respon dengan baik artinya aku menolakmu." jawab Tania. "Aku ingin memulai kehidupan yang baru, bukan mengulang hubungan yang lama." imbuh Tania.
"Apa hubungan lama itu tidak bisa kita perbaiki lagi?" saut Joshua.
"Tania tunggu!" seru Joshua sambil menahan Tania dengan tangannya. "Bulan depan aku akan menikah dengan Jessica. Bila ada waktu datanglah bersama Tuan Kaleb." pinta Joshua sambil melepaskan genggaman tangan Tania. Tania membulatkan matanya, ia kaget bukan karena pernikahan Joshua. Ia kaget saat Joshua menyebut Kaleb. Tidak mungkin Kaleb akan mengajak Tania, kemungkinan besar Kaleb akan mengajak Lita.
"Lebih baik aku tidak datang. Untuk apa datang." gumam Tania sambil memainkan pensil yang dipegangnya.
***
Tania merebahkan tubuhnya di kasur, rasanya hari ini sungguh melelahkan. Tiga pria, satu wanita. Begitu pikir Tania. Entah akan berbahagia dengan siapa nantinya, yang jelas Tania sudah berjanji untuk berusaha dekat dengan Donny. Walaupun dalam lubuk hatinya masih ada Kaleb.
"Bagaimana aku bisa melupakan Kaleb kalau selama ini kita masih intens komunikasi?" gumam Tania. "Mungkin aku harus tegas pada Kaleb untuk menyudahi komunikasi kita." imbuh Tania. "Tapi apa aku bisa. Arrrgh." Tania berteriak sambil menutupi mukanya dengan bantal.
Tiba-tiba telepon genggam Tania bergetar menandakan ada pesan masuk dari Kaleb.
Tania, hari ini aku sudah sampai di Jakarta. Apakah besok siang kita bisa bertemu? -Kaleb-
Seketika Tania mematung dan matanya membulat penuh.
"Mati aku, baru dibicarakan sudah kejadian." tutur Tania sambil menepuk jidatnya. "Aku harus jawab apa ya?" Tania menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Taniamulai memikirkan alasan apa yang tepat, agar Kaleb dapat mengerti. Begitu banyak ide berlalu lalang dalam pikirannya.
__ADS_1
"Apa aku jujur saja kalau aku mau pergi dengan kenalanku?" tanya Tania pada dirinya sendiri. "Tapi aku belum siap mengakui itu." Tania menggelengkan kepalanya.
"Heem, lebih baik aku bilang kalau sedang tidak enak badan. Sedang datang bulan dan rasanya sangat sakit. Sepertinya itu adalah ide cemerlang." tutur Tania.
Tania kembali mengambil telepon genggamnya dan mulai mengetikan pesan untuk membalas pesan Kaleb.
Kaleb, maaf sepertinya besok aku tidak bisa pergi. Aku sedang datan bulan dan sakit sekali. -Tania-
Baiklah, kalau begitu kamu istirahat saja. -Kaleb-
Balasan pesan dari Kaleb membuat Tania senyum-senyum sendiri dan pipinya yang putih merona.
"Kaleb baik sekali, bagaimana aku tidak luluh coba." ucap Tania sambil menutup mukanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya tanda malu.
Karena merasa tidak enak, Tania menjanjikan akan pergi keesokan harinya.
"Ya Tuhan, aku benar-benar seperti sedang selingkuh." Tania kembali menepuk jidatnya. "Besok saat bertemu Kaleb aku harus berbicara jujur dan tegas untuk menyelesaikan komunikasi kita." tutur Tania dengan nada sedih.
Dari dalam lubuk hati Tania memang hanya ada Kaleb. Tapi, dalam kondisi seperti ini dia dekat dengan Kaleb lalu dekat juga dengan Donny dia mempunyai perasaan yang tidak enak seperti menduakan seseorang. Bila keduanya tahu, mereka pasti akan marah. Mana ada lelaki yang ingin hati wanita yang dicintainya terbagi.
Setelah bertukar pesan dengan Kaleb, telepon Tania kembali berdering. Kali ini notifikasi ada telepon masuk dari Donny.
"Halo Tania." sapa Donny.
"Hai Don, ada apa?" saut Tania.
"Tania, sebelumnya aku meminta maaf. Aku kan baru pertama kali ke Jakarta, jadi besok aku akan memesan taksi online saat ke coffee shopmu karena takut tersasar." tutur Donny.
"Iya Don, aku mengerti. Kita tidak usah pergi kemana-mana. Di coffee shop ku saja. Kalau memang ingin pergi, nanti aku yang menyetir.' ucap Tania.
"Heem, tapi aku tidak enak Tania bila kamu yang menyetir. Bagaimana kalau kita tetap pesan taksi online juga bila memang ingin pergi?" tanya Donny.
"Jangan Don, memang kenapa sih kalau wanita yang menyetir. Sudah biasa jaman sekarang ini Don." seru Tania.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan mempelajari dengan cepat setiap jalan di Jakarta." pinta Donny. "Ya sudah, selamat beristirahat cantik." ucap Donny sambil menutup panggilan teleponnya.
"Genit sekali." gerutu Tania dan segera menjauhkan teleponnya.
Tania menghela nafasnya kasar, masih belum terpikir dalam benaknya ada dua laki-laki yang mendekatinya. Tania kembali menutup wajahnya dengan bantal, memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Rasanya sulit sekali tidur dan memejamkan matanya. Sedangkan dia harus bersiap menghadapi hari esok.
Bersambung....
__ADS_1