
"Bibi Dini, tolong nanti kasih tahu Tania kalau Tania sudah sadar. Aku pulang dan langsung ke singapore. Titip salamku padanya ya Bi. Hati-hati selama di Jogja." pinta Kaleb.
Kaleb bergegas menuju ke rumah sakit.
***
Kaleb bergegas masuk ke rumah sakit menuju ruang ICU tempat Lita dirawat. Di ruang ICU tidak diperbolehkan semua yang berkunjung masuk, hanya dibatasi dua orang. Di dalam sudah ada Papa dan Mama Lita, Kaleb dan Tante Lidya menunggu di luar.
"Tante, apakah Kania tahu ini?" Tante Lidya mengganggukan kepalanya. "Kania pasti sangat sedih, dia sudah menganggap Lita seperti kakaknya sendiri." ujar Kaleb.
"Iya Kaleb, Kania akan pergi berbulan madu besok ke Jepang. Dia akan menyusul ke sini setelah acara selesai." ucap Tante Lidya.
Papa dan Mama Lita keluar dari ruangan ICU. Kaleb memeluk Papa dan Mama Lita bergantian, setelah itu Kaleb dan Tante Lidya masuk ke ruang ICU mengenakan baju khusus dan melihat kondisi Lita.
"Lita, bertahan ya. Besok kita akan pergi berobat ke singapore." Kaleb memegangi tangan Lita. Tante Lidya memegang pundak Kaleb.
Kaleb dan Tante Lidya keluar dari ruang ICU menemui Papa dan Mama Lita. Kania dan Danesh baru saja datang dan mereka bergantian masuk ke ruang ICU.
"Kaleb, Lita harus segera kemoterapi di singapore. Lita sudah cerita pada Tante kalau besok kamu akan ikut." ucap Mama Lita pada Kaleb.
"Iya Tante, besok Kaleb akan ikut. Kaleb sudah berjanji pada Lita." Kaleb mengusap wajahnya kasar.
***
Di Rumah Tania
"Aaargh sakit!" seru Tania.
"Mbak Tania, hati-hati Mbak. Jangan banyak gerak dulu." ucap Bibi Dini.
"Loh kok ada Bibi?" Tania menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, Mbak Tania kan sudah di rumah. Tadi Mas Kaleb yang anter." ucap Bibi Dini. "Mas Kaleb tadi buru-buru sekali, dia tadi titip pesan Mba. Bibi ingat-ingat dulu ya." telunjuk Bibi Dini saat ini berada di dagunya.
"Pesan apa Bibi?" Tania mengernyitkan dahinya.
"Oh iya Mbak katanya Mas Kaleb mau pergi ke pur, pur apa ya Mba." Bibi Dini kembali mengingat-ingat membuat Tania tertawa.
"Singapore Bibi." Tania dan Bibi Dini tertawa. "Aduh sakit." keluh Tania.
"Mbak Tania sih ketawanya terlalu kencang jadi sakit." Bibi Dini mengelus-elus dengan lembut bagian kaki Tania yang luka.
"Bibi, maafkan aku. Bolehkah aku minta tolong untuk membereskan pakaianku? Besok aku mau berangkat ke jogja." Tania tersenyum manja.
"Boleh Mbak, pokoknya Mbak Tania jangan banyak gerak." Bibi Dini membalas senyuman Tania.
Tania masih merasakan sakit kalau bergerak, namun tidak sesakit tadi. Dokter Nina bilang lukanya tidak terlalu bahaya, pasti akan cepat sembuh asal rajin diobati.
"Mbak Tania bisa memang ke Jogja, kondisinya masih seperti itu?" ucap Bibi Dini yang sedang membereskan koper Tania.
"Nanti aku pakai tongkat saja Bi. Ini sudah lebih baik daripada tadi kok Bi." jawab Tania yang sedang membaca sebuah majalah fashion.
"Ya sudah, yang penting hati-hati ya Mbak." Tania mengganggukan kepalanya.
***
Di Rumah Sakit
"Kakak, Kak Lita sakit apa sih memangnya?" tanya Kania yang saat ini mendudukan tubuhnya disamping Kaleb. Kaleb masih tertunduk lesu dan hanya menggelengkan kepalanya. "Kakak, kenapa kakak tidak jawab?" seru Kania kali ini sambil menggoyang-goyangkan tangan Kaleb.
"Maaf ya Kania, Kakak tidak bisa cerita. Kakak sudah berjanji pada Lita tidak menceritakannya pada siapapun." ucap Kaleb lirih.
Kania mengerti dan mengiyakan ucapan Kakaknya sambil mengelus lembut punggung Kakaknya.
__ADS_1
"Kania, sepertinya kita harus pulang sekarang. Kita harus bersiap-siap untuk besok" Tiba-tiba Danesh datang dan mengajak Kania pulang.
"Baiklah, Kakak aku pulang dulu. Aku akan bulan madu besok. Bila ada kabar terbaru tentang kondisi Kak Lita kabarkan padaku ya Kak." pinta Kania, Kaleb pun mengganggukan kepalanya. "Jaga kesehatanmu Kak. Bye." pamit Kania pada Kaleb sambil melambaikan tangannya.
Kaleb menatap Kania dan Danesh yang sudah meninggalkan Rumah Sakit. Ia tiba-tiba teringat dengan Tania. Saat ingin menelepon Tania, telepon Kaleb sudah berdering terlebih dahulu menandakan notifikasi dari Tania.
"Halo Tania, baru saja aku mau menelepon mu." ucap Kaleb.
"Iya Kaleb, apakah resepsi pernikahan Kania sudah selesai?" tanya Tania.
"Sudah Tan, bagaimana keadaanmu?" tanya Kaleb.
"Sudah lebih baik kok" ucap Tania. "Oh iya, besok kamu ke bandara pukul berapa?" tanya Tania.
"Sekitar pukul 07.00 pagi." jawab Kaleb.
"Aku kira lebih pagi, besok pesawatku jam 06.00 pagi." ujar Tania.
"Baiklah Tania, lebih baik kamu beristirahat supaya lekas sembuh." pinta Kaleb.
"Iya Kaleb, terimakasih. Bye." Tania mengakhiri panggilan teleponnya.
"Tania, maafkan aku." gumam Kaleb.
"Kaleb, lebih baik kamu pulang saja Nak." pinta Mamanya Lita.
"Tapi Kaleb ingin menunggu Lita Tante." ucap Kaleb.
"Tidak apa-apa Nak, lebih baik kamu menyiapkan diri untuk besok. Disini sudah ada Tante dan Om." Mamanya Lita memegang lembut pundak Kaleb.
Mendengar permintaan dari Mamanya Lita, Kaleb terpaksa mengiyakan. Kaleb pun pulang dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Kenapa harus seperti ini sih?" Kaleb mengusap wajahnya kasar.
Kaleb mengubah jalurnya, dia tidak langsung pulang namun ingin menyendiri di coffee shop milik Tania. Rasanya dia rindu bertengkar dan bercanda dengan Tania, menghabiskan waktu hanya dengan mengobrol dan memakan es krim.
***
Di Rumah Tania
"Bibi Dini, makasih ya udah bantuin Tania." Tania melengkungkan senyumannya. Terlihat koper yang sangat besar sudah selesai diisi dengan berbagai keperluan Tania untuk di Jogja selama seminggu.
"Iya Mbak, kan memang sudah tugas Bibi." jawab Bibi Dini.
Ting
Tong
Bel pintu rumah Tania berbunyi.
"Mbak, sebentar ya ada tamu." Tania mengganggukan kepalanya.
Tidak berapa lama Bibi Dini kembali dan menyampaikan kalau tamu itu adalah Joshua. Tania mengerucutkan bibirnya karena malas sekali bertemu dengannya.
"Mau apa dia kesini Bi?" tanya Tania ketus.
"Bibi ga nanya Mbak." jawab Bibi Dini.
"Ya udah Bi, boleh minta tolong bantu Tania berjalan Bi?" pinta Tania. Sebenarnya Tania sudah bisa berjalan sendiri, walaupun sedikit pincang namun rasa manjanya membuat dia ingin dibantu.
"Tania, kamu kenapa?" Tania tidak menjawab. Tania menduduk tubuhnya di sofa, Joshua membantunya.
"Joshua, ada apa?" Tania menatap Joshua tajam.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menjengukmu." jawab Joshua. "Aku khawatir tadi saat melihatmu terluka."
"Kamu ada di pernikahan Kania?" Tania mengernyitkan dahinya.
"Tentu saja, Danesh adalah temanku." jawab Joshua.
Tania terkejut mendengar jawaban Joshua.
"Temanmu?" Tania membulatkan matanya.
"Iya, dia teman semasa SMP." jawab Joshua.
Tania mengganggukan kepalanya.
"Joshua kau kan sudah melihatku, seperti ini keadaanku. Lalu mau apa lagi?" tanya Tania.
"Aku masih ingin disini berbincang denganmu." ujar Joshua. "Tania, aku tahu siapa Ana itu." jawab Joshua.
"Siapa?" Tania melipat kedua tangannya di atas perut.
"Dia mantan kekasih Kaleb yang maeih tergila-gila pada Kaleb." jawab Joshua. "Aku juga tahu bagaimana kelakuannya yang bar-bar itu." imbuh Joshua.
"Kau tahu siapa yang menjadi selingkuhan Ana saat itu?" tanya Tania.
"Iya aku tahu, hal itu menjadi pergunjingan besar di kantor." ujar Joshua. "Tania, Kaleb juga tidak sebaik yang kamu pikir." imbuh Joshua.
"Maksudmu?" Tania kembali mengernyitkan dahinya.
"Tania, Kaleb juga suka main perempuan!" seru Joshua. "Sudah lebih baik kau sudahi saja hubungan pura-pura mu ini." imbuh Joshua.
Tania merasakan sesak di dadanya. Tania ingin berkata-kata, namun serasa ada yang menyangkut di tenggorokannya.
"Tania, sudah jangan bersedih. Lebih baik kita kembali merajut jalin kasih." Joshua mendekati Tania dan mengelus kepalanya. Tania hanya tertunduk diam.
"Aku mau istirahat!" seru Tania. "Lebih baik kamu pulang saja." imbuh Tania.
"Tania, aku..." pinta Joshua.
"Sudah pulang! Bibi, tolong Tania mau ke kamar. Mas Joshua mau pulang." tukas Tania.
"Tania..." pinta Joshua lagi.
"Sudah Joshua, aku harus memikirkan ini lagi." tukas Tania.
Bibi Dini datang dan membantu Tania. Joshua masih mematung belum beranjak dari sofa. Ia memperhatikan Tania yang berjalan sedikit terpincang.
Bibi Dini sudah kembali dari kamar Tania. Bibi menatap Joshua.
"Bi, tolong berikan ini pada Tania." Joshua memberikan sebuah bungkusan kecil. Bibi Dini menerimanya.
"Iya mas Joshua, nanti Bibi berikan" jawab Bibi Dini.
Bersambung...
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
^Jangan lupa likenya ya. terimakasih^