
“Kaleb. Apakah aku boleh tahu rencanamu untuk membatakan pernikahan Lita hari ini?” tanya Tania, akhirnya ia mengeluarkan keberanian untuk menanyakan hal itu. Masalah itu yang dari semalam membuatnya sulit tidur.
“Rahasia.” ucap Kaleb dengan senyum penuh kemenangan. “Sabar ya gadisku, nanti kamu juga akan tahu kok.” pinta Kaleb.
Tania mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Kaleb dan mendengus kesal sambil bersedekap dada.
“Jangan ngambek ah.” tutur Kaleb sambil mencubit pipi Tania.
“Biarin!” seru Tania.
Kaleb tertawa melihat tingkah lucu Tania. Ia gemas sekali dengan sikap Tania dan ingin mencubit pipi Tania.
“Ya sudah kalau ngambek, turun di sini saja.” tutur Kaleb mengancam dan melukiskan senyum kemenangan.
Tania menoleh ke arah Kaleb yang sedang fokus menyetir dan memperlihatkan wajah memelas dengan mimik puppy face.
Kaleb semakin gemas melihatnya. Ingin rasanya ia menggigit pipi gadisnya itu.
“Iya, tidak aku turunkan.” tutur Kaleb sambil mengelus puncuk kepala Tania.
Tiba-tiba suasana berubah saat telepon genggam Tainia berbunyi. Notifikasi telepon menunjukkan ada telepon dari Donny.
“Siapa?” tanya Kaleb dengan tatapan curiga.
“Hem, tidak penting.” saut Tania sambil memencet tombol warna merah untuk mematikan telepon.
“Siapa? Hayo?” tanya Kaleb, mendesak Tania agar segera menjawab.
“Donny.” jawab Tania dengan nada suara rendah.
“Oh, Donny ya. Angkat saja.” saut Kaleb dengan nada menyindir.
“Ih, engga mau aku angkat. Aku mau pelan-pelan menjauhinya.” pinta Tania.
“Kenapa? Memang kamu sudah yakin sama aku?” tanya Kaleb.
“Kok gitu sih!” seru Tania. “Engga tahu ah.” umpat Tania kesal.
“Tuh, ngambek lagi.” saut Kaleb. “Kamu lagi datang bulan ya.” selidik Kaleb.
Tiba-tiba Tania terkekeh, namun telepon dari Donny kembali berdering tapi Tania tetap mengacuhkannya berhubung mobil Kaleb sudah sampai di parkiran rumah sakit.
Kaleb bergegas turun dan membuka pintu mobil Tania mempersilakan turun dan memberikan tangannya pada Tania. Tania menerima uluran tangan Kaleb.
“Tania, ini masih pukul setengah delapan. Kita sarapan dulu yuk!” ajak Kaleb. “Kita ke kantin rumah sakit saja.” imbuh Kaleb sambil menarik tangan Tania.
Tania mengekori Kaleb berjalan menuju kantin. Tania duduk di meja kantin rumah sakit dan menunggu Kaleb yang sedang memesan makanan.
__ADS_1
Telepon genggam Tania kembali berdering, kali ini telepon menandakan notifikasi dari Jasmine.
“Halo, Jasmine?” sapa Tania sambil sesekali melirik ke arah Kaleb.
“Tania, hari ini aku sudah masuk kantor. Lalu tadi pagi Donny mengajakku pergi. Semacam kencan.” tutur Jasmine.
Tania membulatkan matanya, ada rasa kesal di hatinya. Ternyata Donny jahat, untung saja keputusannya sudah tepat untuk menjauhinya.
“Terus, kamu jawab apa?” tanya Tania penasaran.
“Aku bilang, nanti jam pulang kerja aku jawab. Tapi aku mau kasih tahu kamu dulu.” saut Jasmine.
“Jawab saja Iya Jasmine, kita susun rencana untuk itu ya. Tapi jangan minggu ini oke.” Tania tersenyum licik. “Eh sudah dulu ya, Kaleb sudah datang.” jawab Tania dan mematikan sambungan teleponnya.
“Telepon siapa, Tan?” tanya Kaleb sambil meletakkan nampan makan dan meletakkan di atas meja.
“Temanku Jasmine.” saut Tania.
“Masa? Bukan Donny? Kok buru-buru banget tutup teleponnya.” tanya Kaleb tidak percaya.
“Iya benar, tuh liat.” Tania menunjukkan call Historynya.
Kaleb tersenyum melihat sikap Tania yang sangat takut kalau dirinya marah. Sepertinya Tania sudah benar-benar takut kehilangan dirinya.
“Ya sudah makan dulu yuk.” ajak Kaleb
Kaleb dan Tania menikmati sarapan mereka berdua, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Saat ini telepon Kaleb yang berdering.
“Kalau sudah langsung ke dalam saja, nanti aku akan memberitahumu kapan saatnya.” tutur Kaleb.
“Siapa?” Tania mengernyitkan dahinya.
“Rahasia.” saut Kaleb.
Tania mengerucutkan bibirnya dan bersedekap dada, akting marahnya dimulai kembali.
“Tuh, langsung ngambek.” ucap Kaleb sambil melanjutkan kembali makannya.
“Habis, rahasia-rahasiaan.” tutur Tania kesal.
“Sabar ya, nanti pukul sembilan semuanya akan terungkap.” ucap Kaleb.
Tania masih tidak puas dengan jawaban Kaleb, tapi dia mencoba sabar dan menahan rasa ingin tahunya hingga waktu yang Kaleb sampaikan.
“Kania datang jam berapa Kaleb?” tanya Tania.
“Kania tidak jadi datang, dia langsung ke Villa. Setelah acara ini selesai, kita langsung menyusul Kania dan Danesh.” jawab Kaleb.
__ADS_1
“Ya sudah yuk, cepat habiskan makanannya.” saut Tania, walaupun masih mengganjal di hatinya namun dia berusaha sabar dan menunggu saatnya Kaleb akan memberitahu semuanya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Kaleb, Lita, Mama Lita sudah berada di ruang perawatan. Semua sudah bersiap untuk melaksanakan Akad Nikah antara Kaleb dan Lita. Namun, raut wajah Lita menunjukkan kesedihan.
Kaleb mendekati Lita dan membisikkan sesuatu, setelah mendengar perkataan Kaleb, Lita langsung membulatkan matanya dan melengkungkan senyuman. Tidak berapa lama setelah itu masuklah sosok pria tampan, tinggi yang ternyata sudah dihubungi Kaleb dari tadi pagi.
“Reno?” ucap Tania.
Kaleb langsung menoleh ke arah Tania.
“Kamu kenal dia?” Kaleb mengernyitkan dahinya.
“Iya, dia teman SMA ku.” jawab Tania.
“Tania, sudah lama tidak bertemu. Kamu makin cantik saja.” goda Reno, Kaleb langsung memandang Reno dengan tatapan tidak suka dan menarik tangan Tania.
“Dia milikku, sudah laksanakan pernikahanmu sana!” seru Kaleb.
Perkataan Kaleb membuat seisi ruangan langsung menoleh ke arah Kaleb, Reno dan Tania. Lita hanya menyaksikan semuanya itu dengan penuh senyum.
“Kaleb, maksud kamu apa?” saut Mama Lita sambil menghampiri Kaleb dan Reno. “Kamu lagi, kenapa bisa ada disini?” tutur Mama Lita sambil bersedekap dada.
“Ayo, Kaleb.” Mama Lita menarik tangan Kaleb, namun Kaleb tidak menggubrisnya dan tetap berdiri ditempatnya.
“Ma, Mama tahu kan kalau Reno pria yang aku cintai?” tutur Lita.
“Tante, kalau Tante ingin Lita bahagia biarkan dia menikah dengan lelaki yang dia cintai dan yang mencintainya.” tutur Kaleb.
Mama Lita hanya menundukkan kepalanya tanpa berani melihat ke arah Lita ataupun Kaleb.
“Tapi Lit, Reno ini punya apa untuk dibanggakan?” tutur Mama Lita.
“Tante, tidak usah khawatir. Aku akan berusaha untuk membahagiakan Lita.” saut Reno.
“Cih, katanya masih menungguku. Ternyata tidak. Laki-laki sama saja, besar di mulut.” gumam Tania dalam hatinya.
Seketika itu juga, Papa Lita berusaha mendekati Mama Lita dan mengajaknya mengobrol berdua.
Momen ini dimanfaatkan Tania untuk menginterogasi Reno.
“Kamu kok bisa kenal Lita?” tanya Tania.
“Dia dulu Kakak tingkatku di kampus, Tan.” saut Reno. “Sebenarnya sulit melupakanmu Tan, tapi lama-lama aku lupa juga.” ucap Reno sambil terkekeh.
Kaleb mendengar pembicaraan yang tidak biasa antara Tania dan Reno.
__ADS_1
“Wah, asik ya reunian.” sindir Kaleb. Melihat gegalat Kaleb yang cemburu membuat Tania senang dan semakin memanas-manasi Kaleb dengan mengabaikan ucapannya dan tetap asik mengobrol bersama Reno. Muka Kaleb terlihat merah dan dia mulai mengepalkan tangannya karena kesal.
Bersambung...