Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 11 - Ulang Tahun


__ADS_3

"Kaleb, kita kan hanya pura-pura pacaran. Kalau kamu ingin dekat dengan seseorang, tidak apa-apa." Tania berusaha tegar dengan perkataannya itu.


"Hem, aku belum tahu Tania. Aku masih bingung dengan perasaanku ini." ujar Kaleb.


"Bingung? Kenapa bingung?" Tania mengernyitkan dahinya.


"Sejujurnya dulu aku memang memiliki perasaan pada Lita, tapi itu dulu. Sekarang entahlah, hatiku rasanya kosong." Kaleb tersenyum tipis.


Keadaan dalam mobil itu kembali hening hingga mobil Kaleb berhenti dengan sempurna di Coffe Shop milik Tania. Tania segera menyelesaikan beberapa pekerjaan dan pulang.


Sore hari yang cerah, nampak matahari akan segera mengakhiri harinya dan bulan akan menampakkan wujudnya. Tania termenung menatap keluar dari jendela kamarnya.


"Hem, aku juga bingung dengan perasaanku sendiri." gumam Tania.


***


2 hari kemudian


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan terdengar dari pintu kamar Tania.


"Mbak Tania, ada temannya datang." ucap Bibi Dini.


"Iya Bi, sebentar." saut Tania yang berjalan menuju ke pintu kamarnya dan segera berlari menuruni tangga. Terlihat sosok laki-laki yang tidak asing baginya.


"Selamat ulang tahun Tania." ucap laki-laki itu seraya menyerahkan kue ulang tahun.


"Joshua?" Tania terkejut tidak percaya. "Kenapa kau masih kesini? Jessica nanti akan mengincarku lagi!" seru Tania.


"Tidak usah khawatir, Jessica sedang pergi keluar negeri untuk beberapa bulan karena harus menemani Papanya." jawab Joshua.


"Lalu maksudmu?" Tania mengernyitkan dahinya seraya melipat kedua tangannya di atas perut.


"Tidak apa-apa Tania, aku hanya ingin memberikan kue ini. Bila kau mengizinkan, aku juga ingin mengajakmu makan malam di luar." pinta Joshua.


"Aku tidak bisa! Kaleb akan marah bila tahu hal ini." seru Tania.


"Baiklah kalau begitu. Maafkan aku." Joshua meletakkan kue di atas meja ruang tamu.


Melihat wajah Joshua yang sedih, membuat Tania tidak tega.


"Joshua tunggu!" seru Tania.


Joshua membalikkan tubuhnya yang sedang berjalan keluar.


"Baiklah aku akan terima ajakan makan malam ini, tapi cukup makan di rumah saja." ucap Tania.


"Baiklah, aku akan kembali lagi nanti malam." Joshua mengganggukan kepalanya dan berjalan meninggalkan rumah Tania.


"Kurasa tidak ada salahnya aku menerima ajakan Joshua. Aku hanya menganggapnya teman saja tidak lebih." gumam Tania.


Tania sudah membersihkan dirinya, dan sekarang saatnya dia belanja untuk kebutuhan makan malam nanti. Tania menuju supermarket membeli bahan-bahan makanan untuk nanti malam. Tiba-tiba telepon Tania berdering.


"Halo Kaleb." sapa Tania.


"Tania kamu dimana?" tanya Kaleb.


"Aku sedang di supermarket, ada apa?" saut Tania.


"Tidak apa-apa, apa masih lama kau berbelanja?" tanya Kaleb.


"Tidak, sebentar lagi aku pulang." ujar Tania.


"Baiklah, aku menunggu di coffee shopmu. Ada yang ingin kubicarakan." pinta Kaleb.


"Bicara apa?" seru Tania.


"Banyak tanya sekali, cepat kesini!" seru Kaleb.


"Baiklah, bye." Tania mengakhiri panggilan teleponnya.

__ADS_1


***


Tania sudah pulang ke rumah, ia membereskan barang belanjaannya dan bersiap-siap menuju ke coffee shopnya, setelah sampai Tania bergegas masuk. Saat Tania membuka pintu....


Ceklek...


"Surprise, happy birthday!" Kaleb berteriak diiringi dengan bunyi conffeti.


Kaleb, Kania serta para pegawai coffee shopnya memberikan kejutan pada Tania. Hal ini membuat Tania terharu karena sudah lama sekali tidak ada yang memberikannya kejutan.


"Tania, kenapa bersedih?" Kania mengelus punggung Tania.


"Tidak apa-apa, hanya terharu saja kalian perhatian sekali." Tania memeluk Kania.


"Tania, ini kado dariku." Kaleb memberikan satu bungkus kado kecil yang dihiasi pita merah. "Bukalah." pinta Kaleb.


Tania membuka kado itu yang ternyata berisi kalung berlian, sangat cantik.


"Wah cantik sekali." ucap Kania.


"Sini aku pakaikan." pinta Kaleb.


Tania memindahkan rambut panjangnya ke samping kiri agar Kaleb dengan mudah memakaikan kalung itu.


"Wah indah dan cantik sekali, kakak saja belum pernah memberikan hadiah untukku seindah itu." ucap Kania dengan nada suara yang manja.


"Iri saja kau, minta saja pada calon suamimu!" seru Kaleb.


"Sudah kalian jangan bertengkar. Kaleb, terimakasih ya." Tania tersenyum dan langsung memeluk tubuh Kaleb, Kaleb pun membalas pelukan Tania. Tania tersadar dan secepat kilat melepaskan pelukan itu.


"Ma-maaf." ucap Tania.


"Kenapa minta maaf?" Kaleb mengernyitkan dahinya.


"Iya Tania kenapa minta maaf? Peluk saja terus kakakku itu." imbuh Kania sambil terkekeh.


"Kania, aku ingin mengajak Tania makan siang di luar." ucap Kaleb.


"Lalu?" saut Kania dengan tatapan sinis.


"Kaleb, kita antarkan saja Kania terlebih dahulu. Kenapa kita tidak mengajak Kania?" tanya Tania.


"Tidak, aku ingin hari spesialmu ini hanya denganku." Kaleb tersenyum.


***


Kaleb sudah mengantarkan Kania ke kantor Danesh Arkananta, karena Danesh ingin mengajak Kania menemui vendor pernikahan mereka. Hingga akhirnya di dalam mobil hanya ada Kaleb dan Tania.


"Kaleb, kita mau kemana?" tanya Tania.


"Menculikmu." Kaleb mencubit pipi Tania gemas.


"Sakit." Tania mengelus pipinya yang putih itu karena sedikit merah setelah dicubit. "Oh iya Kaleb, tadi Joshua kerumahku." imbuh Tania.


"Kerumahmu? Untuk apa?" wajah Kaleb berubah menjadi kesal.


"Dia membawakan kue ulang tahun untukku." Tania memandang ke depan dengan tatapan kosong. Membahas Joshua mengingatkannya pada Jessica. "Tapi aku ingin melupakannya, aku tidak ingin dia datang dikehidupanku lagi Kaleb." Tania sedikit berteriak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya serta menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Menggemaskan sekali sih." gumam Kaleb dalam hatinya.


Setelah obrolan itu mereka sampai di sebuah rumah yang mewah, rumah itu memang agak jauh dari perkotaan sehingga sangat asri.


"Kaleb, ini rumah siapa?" Tania yang baru turun dari mobil begitu terkesima melihat rumah itu.


"Biasa saja melihatnya." Kaleb menegur Tania dan menutup wajah Tania dengan tangannya, lalu Kaleb lari masuk ke dalam rumah karena Tania berusaha mengejarnya.


"Kaleb!" seru Tania.


Kaleb terhenti dan duduk di sofa, terlihat ada dua orang Bibi yang sedang sibuk menyiapkan makanan.


"Tania, ini adalah rumahku sendiri. Aku menabung sejak SMA dan hasilnya kubelikan rumah ini. Bila sudah menikah nanti, aku ingin keluarga kecilku tinggal disini." Kaleb tersenyum tipis.


"Lalu, rumah Orangtuamu bagaimana?" Tania mengernyitkan dahinya.


"Biarkan saja untuk Kania dan Tante Lidya tinggal." imbuh Kaleb.

__ADS_1


"Rumah ini memang tidak lebih besar dari rumah Orangtua Kaleb, namun cukup besar untuk menampung tiga puluh orang beserta asisten rumah tangga. Sekaya apa sih keluarganya." guman Tania dalam hatinya.


"Siapa saja yang tinggal disini?" tanya Tania.


"Hanya yang merawat rumah dan taman saja. Juga ada Bibi yang bisa memasak bila sesekali aku ingin menginap." jawab Kaleb.


"Oh begitu." Tania membulatkan bibirnya.


Tiba-tiba telepon Kaleb berbunyi, begitu melihat notif di telepon itu Kaleb segera berjalan ke arah kolam renang untuk mengangkat telepon itu.


"Sebentar ya Tania." ucap Kaleb pada Tania.


Tania memandangi ke arah taman yang berada dekat gerbang masuk. Rasanya nyaman sekali melihat pemandangan hijau seperti ini.


"Silakan diminum Non." ucap seorang Bibi pada Tania.


"Makasih Bi, Bibi kenalkan aku Tania. Aku bisa manggil Bibi siapa?" Tania menyodorkan tangannya menjabat tangan Bibi.


"Bibi Lesti Non." Bibi membalas jabatan tangan Tania dengan senyuman dan pamit ke dapur meninggalkan Tania.


Tania yang terlihat kebingungan karena kesendiriannya di ruang tamu, berjalan menghampiri Kaleb yang berada di dekat kolam renang.


"Telepon siapa sih dia?" gumam Tania, Tania berjalan pelan-pelan berniat menguping pembicaraan Kaleb.


"Iya Lita, besok aku akan menemanimu." ucap Kaleb di telepon itu.


Setelah mendengar perkataan Kaleb itu Tania merasakan kembali sesak di dadanya, seperti saat awal Lita berbicara bila Kaleb menjemputnya.


"Ternyata Lita lagi." Tania berjalan dengan wajah murungnya, mendudukan kembali dirinya di sofa ruang tamu.


Tania menunggu Kaleb yang masih bertukar suara di telepon. Sesekali Tania menguap karena rasa kantuk, tidak terasa air yang disajikan Bibi Lesti habis. Saat tenggukan terakhir, Kaleb datang.


"Tania, kamu haus sekali ya?" Tania terkejut dan tersedak mendegar Kaleb.


"Uhuk, uhuk." Tania terbatuk, dengan segera Kaleb menghampiri Tania.


"Makannya kalau minum pelan-pelan!" Kaleb mengelus-elus punggung Tania.


Setelah dirasa lebih baik, Tania menjawab ucapan Kaleb.


"Aku tersedak karena kau mengejutkanku!" seru Tania. "Kau juga lama sekali bertelepon, aku sampai bosan menunggumu." imbuh Tania.


"Maaf, tadi telepon dari Lita." Kaleb berkata lirih. "Tania, lebih baik kita makan siang dulu yuk!" ajak Kaleb.


Tania dan Kaleb berjalan menuju ruang makan dan mendudukan tubuh mereka masing-masing berdampingan di meja makan itu. Makanan yang tersedia sangat banyak, karena hari ini Ulang Tahun Tania, Kaleb sudah memesankan untuk memasak nasi kuning beserta teman-teman nasi kuning.


"Kaleb, kenapa Lita meneleponmu?" selidik Tania.


"Dia mengajakku pergi besok, apa kamu mau ikut?" ajak Kaleb.


"Tidak-tidak, aku tidak mau mengganggu orang pacaran." Tania menggelengkan kepalanya.


"Pacaran apa? Kata-katamu sangat lucu." Kaleb tertawa, Tania terlihat kesal dan memperagakan gaya bicara Kaleb.


Kaleb mengacak-acak rambut Tania membuat wanita itu semakin kesal.


"Kaleb!" seru Tania sambil memegang garpu, bersiap mengarahkan pada diri Kaleb.


"Tidak-tidak, ampun!" Kaleb mengangkat kedua tangannya di depan dada untuk menghalangi serangan Tania.


"Sudah, habiskan makanan ini dulu!" saut Tania.


Setelah makan siang selesai, Kaleb mengajak Tania ke atas. Di lantai atas ada ruang musik, perpustakaan dan ruang kerja. Kali ini Kaleb mengajak Tania ke ruang musik.


"Tania kamu bisa menyanyi?" Kaleb memberikan Tania sebuah Mic.


"Bisa, aku kan penyanyi kamar mandi." Tania tertawa.


"Apakah kau mau menyanyi saat resepsi pernikahan Kania?" tanya Kaleb.


"Aku tidak mau! Aku malu!" seru Tania.


"Tidak apa-apa, kita akan berlatih." Kaleb tersenyum dan mencolek pipi Tania.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2