Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 4- Pura-pura


__ADS_3

Tania sudah berdiri di depan pagar rumahnya. Dia sudah memberikan informasi ciri-ciri rumah dan pakaian yang dia kenakan.


"Baju merah, rumahnya cat biru. Kok aku seperti mobil online mau jemput customer." gumam Kaleb. "Sepertinya itu dia." ucap Kaleb melihat wanita dengan rambut hitam panjang memakai blouse merah dengan celana kulot hitam terlihat cantik sekali.


"Kayanya itu mobil Kaleb, mobil hitam platnya 4589." ucap Tania. "Stop, stop." Tania memberhentikan mobil Kaleb sambil menggoyang-goyangkan tangannya.


Tania bergegas ke mobil Kaleb, membuka pintu mobil yang berada di samping Kaleb. Saat Kaleb membuka pintu, Tania dan Kaleb saling bertatapan. Tania dan Kaleb berusaha mengingat wajah yang tidak asing.


"Tuan?" ucap Tania sambil menunjuk Kaleb.


"Jadi keponakan Tante Lidya yang diceritakan Mama adalah dia. Wah, ternyata pemilik PT. Tirtania Jaya." batin Tania.


"Oh, ternyata kamu Tania owner Tania Garden Kopi." saut Kaleb. "Cepat masuk, Tante sudah menunggu kita." ajak Kaleb.


Tania bergegas masuk ke mobil Kaleb dan duduk disampingnya.


"By the way, sorry ya kejadian kemarin." ucap Kaleb lembut.


"Oh, tidak apa-apa Tu-"


"Panggil Kaleb saja, tidak perlu tuan." tukas Kaleb sambil tersenyum.


"Okay." saut Tania.


"Ternyata dia tidak seburuk yang kubayangkan, beda sekali sifatnya dengan kemarin. Hari ini sepertinya dia sangat lembut, kemarin galak sekali." batin Tania.


"Tania, kamu sudah berapa lama punya coffee shop itu?" ucap Kaleb untuk membuka pembicaraan, karena sedari tadi selama perjalanan mereka hanya terdiam.


"Kurang lebih 1,5 tahun." jawab Tania singkat.


"Gadis ini, tidak suka basa-basi sama sekali." batin Kaleb.


"Oh begitu, memang dulu kamu kuliah jurusan apa? Bisnis?" tambah Kaleb lagi.


"Benar." jawab Tania singkat.


"Ya ampun, baru kali ini aku berbicara dengan wanita sedingin ini." batin Kaleb.


***


Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang mewah, besarnya dua kali rumah Tania.


"Wah besar sekali." gumam Tania.


"Ayo masuk Tania." ajak Kaleb. "Ini rumahku, Tante Lidya juga tinggal disini." jelas Kaleb.


"Oh begitu." jawab Tania.


"Tania, kamu ini memangnya tidak suka berbicara ya? Kenapa jawabanmu singkat-singkat sekali?" seru Kaleb kesal.


"Lalu aku harus berbicara apa lagi?" saut Tania dengan wajah bingung.


"Hai Tania sudah datang ya?" ucap Tante Lidya sambil memeluk Tania sehingga menghentikan obrolan Kaleb dan Tania.


"Hai Kaleb." sapa seorang wanita cantik disamping Tante Lidya.


"Ada apa kau kesini?" ujar Kaleb kesal.


"Aku hanya mau main saja, tadi Tante sudah membolehkan aku masuk." jawab wanita itu sambil menggandeng tangan Tante Lidya.


"Aku, Tante Lidya dan Tania ingin membicarakan bisnis. Pergilah dari sini!" seru Kaleb.


"Kaleb, kamu jangan kasar seperti itu. Ana hanya ingin mengobrol, dia juga mau mengucapkan selamat untuk pertunangan Kania." ujar Tante Lidya.


"Ya sudah, kalau sudah ucapkan selamat kau boleh pulang." jawab Kaleb kesal, kali ini jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu keluar.


Ana hanya berdiri mematung dan segera pergi keluar. Terlihat wajahnya sangat sedih, bulir-bulir bening dari matanya keluar membasahi pipinya.


"Akhirnya pergi juga dia. Oke Tante, Tania kita mulai obrolan kita." ucap Kaleb dengan semangat, sementara Tante Lidya dan Tania masih diam memandangi pintu melihat Ana keluar.


"Kasihan sekali wanita itu, tidak tahu apa-apa dimarahi. Seperti aku kemarin nasibnya." gumam Tania dalam hatinya.


Tania, Kaleb dan Tante Lidya mendudukan tubuhnya di kursi ruang tamu.


"O-oke, kita mulai saja ya." ucap Tania terbata. "Kemarin Mama sudah jelaskan ke aku, jadi kira-kira kapan kita bisa visit ke storenya dan rapat dengan supplier serta manajemen gedung?" tanya Tania.


"Besok boleh." Kaleb melipat tangannya di dada dilanjutkan dengan ibu jarinya yang mengelus dagunya. "Besok aku bisa menyempatkan waktu karena dikantor tidak ada hal yang urgent. Apakah Tante dan kamu bisa?"


"Besok aku bisa, bagaimana Tante?" tanya Tania.


"Boleh." jawab Tante Lidya


Mereka bertiga pun melanjutkan obrolan setelah itu mereka beralih ke meja makan karena waktu sudah menunjukkan lewat jam makan siang.


***


Kaleb mengantarkan Tania pulang, di dalam perjalanan Tania sangat penasaran sekali ingin menanyakan mengenai Ana. Ada rasa takut dalam dirinya, namun Tania mencoba memberanikan diri.

__ADS_1


"Kaleb, wanita tadi yang kau marah-marahi itu siapa? tanya Tania menyelidik.


"Ingin tahu saja kamu!" seru Kaleb.


"Memangnya kamu saja yang bisa jawab pertanyaan dengan singkat." batin Kaleb.


"Oke." ujar Tania.


"Kenapa mengesalkan sekali wanita ini." gumam Kaleb dalam hatinya.


***


Tania sudah sampai di rumah dan bergegas mandi lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Laki-laki itu aneh sekali, sebentar baik, sebentar galak. Sebenarnya dia punya berapa kepribadian sih?" gumam Tania yang sedang beristirahat di tempat tidurnya. Tania mengambil ponselnya yang berada di atas nakas untuk memberitahukan ketidakhadirannya besok di kantor pada manajernya.


Tania :


Pak Radith besok saya tidak ke kantor karena ada urusan, titip kantor ya pak. Terimakasih.


Radith :


Oke Mbak Tania.


"Sudah pukul berapa ya ini? Aku mau membaca Novel Online dulu agar mengantuk." ucap Tania sambil membuka kembali teleponnya. Tiba-tiba ada telepon masuk dengan nomor asing. "Aduh malam-malam nomor tidak dikenal lagi, tapi nomor ini seperti tidak asing. Halo?"


"Halo Tania, besok aku jemput Pk. 08.00 ya?" ucap laki-laki disana.


"Jemput? Ini siapa ya?" jawab Tania bingung.


"Ya ampun Tania, kamu belum simpan nomorku? Ini aku Kaleb!" seru Kaleb.


"Astaga Kaleb, maafkan aku. Aku simpan nomormu setelah telepon ini. Aku tunggu besok jam 08.00 ya. Selamat malam Kaleb." ucap Tania dengan lembut agar Kaleb tidak marah dan mengakhiri panggilan teleponnya dengan cepat.


"Oke. Bye." jawab Kaleb.


"Ya Tuhan, bisa-bisanya aku belum menyimpan nomornya." ujar Tania yang langsung memasukan nomor Kaleb di daftar kontaknya. "Tapi dia baik juga, tampan dan kaya pula." ucap Tania ngelantur. "Ya Tuhan aku berbicara apa. Lebih baik aku berusaha tidur saja. Semakin malam otakku jadi ngelantur." Tania menepuk dahinya.


***


Tania dan Kaleb sudah berada di dalam mobil, mereka berbincang berbagai hal menarik seputar bisnis dan pekerjaan mereka.


"Tania kita sudah sampai, masuk dulu ke kantor Mall nya yuk." ajak Kaleb.


"Tante Lidya bagaimana? Apa kita tidak menunggunya dulu?" jawab Tania.


"Jadi kamu tidak ikhlas menjemputku? Ya sudah besok-besok aku bawa mobilku sendiri saja." saut Tania sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ngambek. Bercanda mbak." jawab Kaleb sambil terkekeh.


Mereka masuk ke dalam Mall Tirta, sebuah Mall milik PT. Tirtania Jaya kepunyaaan mendiang Orangtua Kaleb. Kaleb menggandeng tangan Tania membuat Tania merasa canggung.


"Kaleb, ini tanganmu." ucap Tania berusaha melepaskan tangan Kaleb.


"Oh iya maaf, kebiasaan." ucap Kaleb sambil tersenyum.


Tania dan Kaleb menuju ruangan kantor Mall, sebelumnya Kaleb mengajak Tania melihat toko berlian yang sedang direnovasi. Didalam sana masih terdapat beberapa tukang bangunan.


"Halo Kaleb, Tania." ucap Tante Lidya sambil memeluk Tania.


"Halo Tante." Tania membalas pelukan Tante Lidya seraya memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan.


"Tante, aku liat persiapan toko sudah hampir 80% sepertinya 2 minggu lagi kita sudah bisa launching." ucap Kaleb.


"Syukurlah Kaleb, lebih cepat lebih baik." ujar Tante Lidya.


"Selamat pagi semuanya, mohon maaf saya terlambat karena ada beberapa berkas yang harus saya siapkan." ucap seorang laki-laki yang sedang masuk ke ruangan kantor.


"Kamu?" gumam Tania.


"Kenapa?" saut Kaleb yang berada di sebelah Tania.


"Kaleb, Tante, aku mau ke toilet sebentar." pamit Tania yang berjalan cepat keluar ruangan disusul oleh Kaleb.


"Kamu kenapa?" tanya Kaleb


"Kaleb, kenapa laki-laki itu ada disitu?" tanya Tania sedih.


"Joshua maksudmu? Dia Manajer Manajemen Gedung, jelas dia ada disitu." jawab Kaleb. "Memangnya kenapa? Dia orangnya baik kok." imbuh Kaleb.


"Bukan begitu, dia itu mantan kekasihku dulu. Aku masih tak bisa berhadapan dengannya secara langsung begini." jelas Tania sedih.


"Tidak apa-apa, Tania. Aku mengerti, pasti ada hal buruk yang terjadi ketika kalian berpisah sampai kamu tidak mau bertemu dengannya." ujar Kaleb. "Tania, bagaimana kalau aku berpura-pura jadi kekasihmu?" Kaleb memegang pundak Tania.


"Berpura-pura? Untuk apa?" Tania menatap mata Kaleb dalam-dalam, mereka saat ini saling bertatapan.


"Agar kamu merasa sedikit tenang saja dan Joshua juga tidak akan berani macam-macam padamu." jelas Kaleb.

__ADS_1


"Baiklah, hanya pura-pura saja kan?" Tania tersenyum.


"Iya, kalau jadi benar juga tidak apa-apa." jawab Kaleb terkekeh.


Mereka berdua kembali masuk ke dalam ruangan. Disana sudah ada Tante Lidya, Joshua dan Pak James sebagai supplier berlian.


"Mohon maaf kami agak lama." ujar Kaleb diiringi dengan Tania yang memegang lengan Kaleb. Mereka duduk berdampingan. Ada sepasang mata yang mengawasi mereka.


"Kenapa ada gadis manja itu disini? Ada hubungan apa dia dengan Pak bos?" batin Joshua.


Rapat tersebut berlangsung selama satu jam, pembahasan mengenai layout toko, pemasangan kamera CCTV dan lain sebagainya yang menyangkut toko berlian itu.


"Baik semuanya kita sudahi rapat hari ini. Untuk selanjutnya akan kami informasikan kembali. Terimakasih." Kaleb menutup rapat diiringi dengan jabat tangan pada Joshua dan Pak James. Joshua ingin menjabat tangan Tania tapi Tania berusaha tidak melihat laki-laki itu dan mengabaikan jabatan tangannya.


"Sayang, jangan begitu dong. Itu Pak Joshua mau berjabat tangan." ucap Kaleb pada Tania.


"Sa..." Tania kaget dan membulatkan matanya mendengar ucapan Kaleb.


"Iya sayang kenapa?" Kaleb memegang pundak Tania.


"Ternyata mereka sepasang kekasih? Sial." batin Joshua kesal.


Joshua dan Pak James pun meninggalkan ruangan, hanya Tante Lidya, Tania dan Kaleb yang berada di ruangan itu.


"Kaleb, Tania kalian sudah pacaran?" selidik Tante Lidya.


"Engga!" seru Tania.


"Iya!" seru Kaleb.


"Jadi ini gimana yang benar?" tanya Tante Lidya kembali.


"Nanti aku ceritain Tante, kita makan siang dulu yuk?" ajak Kaleb.


"Kamu sama Tania aja, Tante harus jemput Lia sekolah dulu. Tapi kamu sama Tania masih hutang cerita ya sama Tante. Tante duluan ya." pamit Tante Lidya pada Kaleb dan Tania seraya memeluk mereka.


Tante Lidya pun meninggalkan ruangan. Tersisa Kaleb dan Tania di ruangan itu. Tania pun bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan.


"Kaleb, aku malu. Tadi kenapa kamu panggil aku sayang?" ujar Tania.


"Tidak apa-apa, kan kita sudah berpacaran?" jawab Kaleb sambil tersenyum.


"Tapi kan..." jawab Tania.


"Sudah, tidak usah dipikirkan." tukas Kaleb. "Kita makan yuk, aku ada rekomendasi restoran enak. Masakan rumahan." ajak Kaleb sambil menarik tangan Tania.


***


Di Restoran


"Silahkan ini es teh manis dan es jeruk." ucap seorang pelayan sambil meletakan minuman tersebut.


"Terimakasih Mbak." jawab Tania.


"Tania sebenarnya ada yang mau aku bicara..." ucapan Kaleb terputus karena ada telepon masuk. Kaleb melihat ponselnya dan menolak panggilan telepon itu.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Tania penasaran.


"Tidak penting." jawab Kaleb. "Jadi Tania, aku mau berpura-pura pacaran denganmu karena...."


"Karena apa?" tanya Tania penasaran.


"Karena kamu cantik." jawab Kaleb sambil terkekeh.


"Apaan sih kamu!" seru Tania kesal.


"Tania, sebenarnya aku juga punya masalah dengan mantan." jelas Kaleb. "Kamu ingat Ana? Gadis yang kemarin kumarahi?" Tania mengangguk. "Dia mantanku, sudah 6 bulan kita putus. Tapi dia selalu menggangguku, ingin menjalin hubungan kembali denganku. Tentu saja aku tidak mau." Kaleb menjelaskan dengan wajah sok tampannya.


"Sok tampan sekali kamu!" seru Tania. Tapi tak bisa dipungkiri memang Kaleb tampan, badannya pun tegap dan kekar. Otot-ototnya dapat terlihat dengan jelas dari balutan kemejanya.


"Memang aku tampan!" seru Kaleb bangga. "Aku ingin dia tahu kalau aku sudah punya pacar, kemungkinan dia tidak menggangguku lagi." tutur Kaleb. "Karena menurutku kamu masih bisa disandingkan dengan dia, jadi pasti dia akan cemburu." jelas Kaleb sambil tertawa.


"Dasar kamu ini, enak saja aku disandingkan!" seru Tania. "Memang kenapa kamu tidak mau menjalin hubungan lagi dengannya? Menurutku Ana cukup cantik dan sepertinya dia gadis baik-baik." selidik Tania.


"Memang dia cantik, tapi aku tidak suka dengan wanita yang suka selingkuh." jelas Kaleb. "Tadi juga dia yang meneleponku." ujar Kaleb kesal.


Pelayan kembali datang memberikan pesananan makanan mereka dan mereka menikmati makanan mereka. Sejenak obrolan tentang mantan terhenti. Setelah selesai makan, mereka berjalan-jalan keliling Mall karena Tania ingin membeli sesuatu. Lalu mereka ke tempat permainan, mereka menghabiskan waktu bersama hingga tak terasa hari sudah sore.


"Tania, terimakasih untuk hari ini. Kapan-kapan kita habiskan waktu lagi ya. Toh kita sama-sama jomblo." ucap Kaleb sebelum Tania turun dari mobilnya.


"Iya Kaleb." jawab Tania sambil tersenyum dan keluar meninggalkan mobil Kaleb.


"Bye." Kaleb melambaikan tangan yang dibalas dengan lambaian tangan Tania.


Tania segera masuk ke rumah, bergegas mandi dan ke tempat tidur. Tania sudah berpesan pada Bi Dini tidak makan malam karena Tania sudah makan malam bersama Kaleb tadi sebelum pulang.


"Kenapa hatiku rasanya senang sekali?" ucap Tania yang sedang membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2