
"Kamu?" ucap Tania saat membuka pintu rumahnya.
"Tania!" seru Kania dengan senyuman yang sangat indah dan menghampiri Tania lalu memberikan pelukan dan kecupan di pipi kiri dan kanan Tania.
"Apa kabar, Kania?" tanya Tania yang sekarang sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Baik. Kamu sendiri? Oh iya, sudah lama nunggu?" tanya Tania.
"Hem, belum kok. By the way aku udah hamil, Tan." ucap Kania senang.
"Wah syukurlah. Aku punya ponakan lucu deh." ucap Tania senang. "Kamu tahu rumahku darimana?" tanya Tania penasaran.
"Dulu aku pernah kesini, Tan sama Kak Kaleb. Tapi waktu itu kita lewat saja." tutur Kania sambil meminum jus jeruk buatan Bibi Dini.
Bibi Dini kembali datang dan membawakan beberapa cemilan.
"Eh, Non Tania sudah pulang." seru Bibi Dar sambil meletakan toples dan piring di atas meja ruang tamu.
"Terimakasih Bi." tutur Kania sopan.
"Kamu ada apa kesini, Kan? Kangen?" tutur Tania sambil terkekeh.
"Iya, kangen banget sama mau kasih oleh-oleh waktu kemarin honeymoon." tutur Kania.
"Wah, lucu banget." ucap Tania sambil memegang gantungan kunci dan tas. "Makasih ya, Kan. Repot-repot ih kamu." tutur Tania.
"Engga kok, kan kamu juga mau jadi Kakak iparku." saut Kania dengan lengkungan senyumannya.
Tania sejenak terdiam mendengar perkataan Kania. Menjadi Kakak ipar, adalah perkataan yang ingin dicerna Tania. Hal itu bisa terjadi bisa juga tidak, tergantung dari bagaimana Kaleb berusaha mendapatkan hati Tania.
"Tan, kok melamun?" tutur Tania.
"Engga kok, engga apa-apa." saut Tania dengan senyuman paksa.
"Tan, sudah tidak usah bohong. Kamu lagi ada masalah kan sama Kakak karena Kak Lita?" selidik Kania.
Tania menghembuskan nafasnya berat, ingin sekali dia bercerita. Namun, rasanya sangat berat untuk berkata-kata. Tania merasa ini bukan saat yang tepat untuk menceritakan masalah yang terjadi antara dirinya dan Kaleb. Kania pasti akan sangat terkejut bila tahu mereka sudah putus. Selain itu, Kania juga sedang hamil muda. Rasanya tidak baik mendengar berita yang kurang menyenangkan.
"Iya, Kania. Tapi ga usah dibahas dulu ya." tutur Tania.
Kania tersenyum mendengar jawaban Tania dan menghampiri Tania untuk duduk disampingnya serta mengelus bahu Tania.
"Iya, tidak apa-apa Tan." tutur Kania. "Tan, sebenarnya aku lebih setuju kalau Kakak sama kamu." ucap Kania. Tania langsung menoleh ke arah Kania dan mendengarkan perkataan Kania baik-baik.
"Kenapa?" tanya Tania. "Bukankah, Lita lebih daripada aku?" imbuh Tania.
"Selain itu, sebenarnya orangtua Kak Lita ingin perusahaan mereka menjadi satu dengan perusahaan keluarga kami. Sebenarnya Kakak tahu itu, tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana Kakak sangat baik pada semua orang." ucap Kania dengan nada sedih.
"Iya, Tan. Kakakmu memang baik pada siapa saja. Kecuali pada Ana." tutur Tania.
Tiba-tiba Kania merasa mual dan ingin muntah.
"Hoek, hoek." Kania memegangi mulut dan perutnya.
"Kan, ayo aku antar ke kamar mandi." tutur Tania. Tania membantu Kania berdiri dan berlari kecil menuju ke kamar mandi
__ADS_1
Kania masuk ke dalam kamar mandi dan Tania kembali ke ruang tamu. Tania melihat telepon genggam Kania yang tergeletak di atas meja bergetar ada notifikasi telepon dan nama yang tertulis di layar adalah Kaleb.
Tania ingin sekali mengangkatnya, namun dia merasa tidak berhak karena itu bukan teleponnya. Tania kembali duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Kania dan bergeming pada suara telepon Kania yang tak kunjung berhenti. Setelah lima menit, telepon dari Kaleb berhenti.
Kania sudah keluar dari kamar mandi dan membersihkan mulutnya. Rasanya ia masih ingin muntah, namun ia tahan. Ia kembali ke ruang tamu untuk menemui Tania.
"Sudah lebih baik, Kan?" tanya Tania. Kania mengiyakan. "Kania, minum air putih dulu." Tania menyodorkan segelas air putih. Kania menerima dan meminumnya perlahan.
"Rasanya mual itu, engga enak banget ya Kania?" tanya Tania penasaran.
"Iya sih, Tan. Tapi mau bagaimana lagi, demi anak tercinta Tania." tutur Kania sambil tersenyum.
"Oh, iya Kania. Tadi teleponmu berdering ada telepon dari Kaleb." tutur Tania.
Kania segera mengambil teleponnya yang tergeletak di atas meja dan mencari kontak Kakaknya untuk menelepon kembali.
Telepon itu tersambung.
"Halo, Kak?" sapa Kania.
"Kamu dimana sih? Katanya minta dijemput, bensinmu habis." tutur Kaleb kesal.
"Aku lagi di rumah Tania, Kak." jawab Kania dengan suara merendah.
Kaleb sejenak terdiam mendengar jawaban adiknya itu, sekarang adiknya berada di rumah wanita yang dicintainya.
"Halo, Kak?" panggil Kania.
"Ya sudah, tunggu disana. Kakak ke rumah Tania sekarang." pinta Kaleb.
"Kakak masih saja engga sabaran." tutur Kania.
"Kenapa, Kan?" Tania mengerutkan dahinya.
"Itu, aku minta jemput Kakak. Soalnya Danesh lagi dinas keluar kota. Karena dia telepon-telepon engga aku angkat, dia marah-marah. Sabar." tutur Kania sambil mengelus dada.
Tania tergelak melihat tingkah Kania.
"Kamu lucu." tutur Tania. "Mobilmu kenapa memangnya Kan?" tanya Tania.
"Bensinku habis, Tan." tutur Kania sambil tersenyum.
"Kalian berdua lucu ya Kakak beradik." imbuh Tania.
"Iya tapi kadang menyebalkan kalau berantem terus Tan." tutur Kania.
"Tapi asik punya saudara Kania, daripada sepertiku anak tunggal." tutur Tania. "Oh iya, kamu jangan terlalu sebal sama Kaleb nanti anakmu mirip loh." tutur Tania sambil tertawa.
Tania dan Kania melanjutkan obrolan mereka. Tidak terasa sekitar setengah jam waktu berlalu. Kaleb sudah mengendarai mobilnya dan tiba di depan gerbang rumah Tania. Kaleb turun dari mobil dan memencet bel.
Bibi Dini bergegas membuka pintu gerbang dan Kaleb masuk. Kaleb melihat Tania dan Kania sedang asik berbincang.
"Halo semuanya." sapa Kaleb sambil masuk ke ruang tamu.
Tania membalas sapaan Kaleb dengan tersenyum.
__ADS_1
"Tania, aku pulang dulu ya." pamit Kania.
"Buru-buru banget, Kaleb biar minum dulu lagi dibuatin Bibi." pinta Tania.
Kaleb mendudukan tubuhnya di sofa ruang tamu. Kania menoleh ke arah Kaleb.
"Kakak, buru-buru?" tanya Kania.
"Engga kok, lanjutin aja kalau masih mau ngobrol. Anggap saja aku engga ada." tutur Kaleb.
Bibi Dini datang sambil membawakan es jeruk untuk Kaleb.
"Silahkan Tuan diminum." pinta Bibi Dini. Kaleb mengganggukan kepalanya.
Kania dan Tania melanjutkan obrolan mereka. Kaleb asik bermain telepon genggamnya. Tiba-tiba Kaleb beranjak berdiri dan mengangkat teleponnya.
"Halo, Tante." sapa Kaleb. "Oke, Tante. Jam berapa?" tanya Kaleb. "Oke, jam sembilan malam aku berangkat."
Kaleb segera masuk kembali ke ruang tamu.
"Kania, kita pulang yuk." ajak Kaleb.
"Kenapa?" tanya Kania heran karena tadi Kaleb bilang dia tidak terburu-buru.
"Hem, Lita dan Mamanya pulang malam ini. Mereka minta aku menjemput." tutur Kaleb.
Seketika itu, Tania langsung menundukkan kepalanya dan raut wajahnya berubah.
"Ya sudah Kania, kamu bisa main kesini kapan-kapan lagi." tutur Tania sambil berusaha tersenyum.
Kania melihat kesedihan yang terpancar dari wajah Tania.
"Tania, aku pulang dulu ya. Lain kali aku menginap ya disini?" pinta Kania.
"Iya boleh." saut Tania. "Yuk aku antar ke depan." imbuh Tania.
Kania, Kaleb dan Tania berjalan beriringan menuju ke luar. Kaleb dan Kania masuk ke mobil.
"Hati-hati di jalan ya. Bye." Tania melambaikan tangannya.
"Bye, Tania." pamit Kania sambil melambaikan tangan. "Besok aku panggil derek mobil untuk ambil mobilku ya Tan." imbuh Kania.
"Iya, santai saja." saut Tania.
Kaleb bergeming, dia hanya menoleh ke arah Tania tanpa mengucapkan kata apapun.
Setelah mobil Kaleb berjalan cukup jauh dan tidak terlihat lagi dari pemandangan Tania, Tania bergegas masuk ke dalam rumah untuk mandi karena badannya sudah lengket sekali.
Tania sudah selesai mandi dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Aneh sekali, tadi siang masih mengejar-ngejar aku. Tadi sore diam saja, seperti menganggapku tidak ada. Dasar bunglon!" umpat Tania.
Tania mengambil bantal dan menutupi wajahnya. Pikirannya makin berkecamuk menghadapi sikap Kaleb yang berubah-ubah.
Bersambung...
__ADS_1
^ Jangan lupa vote, like dan komentarnya ya. Terimakasih. ^