
"Tania kamu bisa menyanyi?" tanya Kaleb sambil memberikan Tania sebuah Mic.
"Bisa, aku kan penyanyi kamar mandi." jawab Tania tertawa.
"Apakah kau mau menyanyi saat resepsi pernikahan Kania?" tanya Kaleb.
"Aku tidak mau! Aku malu!" seru Tania.
"Tidak apa-apa, kita akan berlatih." Kaleb tersenyum dan mencolek pipi Tania.
Akhirnya Tania meloloskan keinginan Kaleb untuk berduet. Mereka memilih lagu "Please becareful with my heart"
Nada dan suara mereka terdengar sangat indah. Pada penutup lantunan nyanyian, Tania dan Kaleb sama-sama saling berpandangan. Tiba-tiba pandangan mereka terhenti karena ada ketukan pintu.
"Tuan, Nona ada Nona Kania." ucap seorang Bibi sambil mengetuk pintu ruang musik.
"Kaleb, ayuk kita turun." Tania yang baru saja teralihkan pandangannya dari Kaleb menuju pintu keluar dengan senyuman yang sangat cantik. Kaleb berjalan mengikutinya, Kaleb juga tersenyum salah tingkah hingga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tania tunggu!" seru Kaleb. Tania menoleh ke arah Kaleb dan berhenti berjalan.
"Ada apa?" sautnya.
"Aku hanya ingin menggandengmu saja." Kaleb melekatkan jari jemarinya pada jari jemari Tania.
Tania tersipu malu mendengar jawaban Kaleb.
Tania dan Kaleb sudah mendudukan tubuhnya di sofa ruang tamu, sebelumnya Tania dan Danesh saling berkenalan. Danesh juga memberikan ucapan selamat ulang tahun pada Tania.
"Kak, sorry ya kalau aku sama Danesh datang kesini gangguin kalian." Kania memandang ke arah Kaleb dan Tania bergantian.
"Nggak kok Kania, kita malah senang." Tania melirik ke arah Kaleb.
"Ada apa kalian kesini?" tanya Kaleb memandang Danesh dan Kania.
"Kita mau gangguin kakak aja sama Tania, tadi kan aku udah bilang sorry gangguin." ledek Kania.
"Sial!" seru Kaleb. Kania tertawa melihat kekesalan di wajah Kakaknya.
"Nggak kak, sebenarnya kita kesini lagi main-main aja. Danesh membeli rumah di perumahan ini juga. Letaknya beberapa blok dari rumah kakak." Kania menjelaskan. "Aku sengaja mengajak Danesh lewat rumah kakak untuk memberitahunya, saat lewat ternyata ada mobil kakak terparkir. Jadi aku mengajak Danesh mampir." Kania berbicara seraya memegang pundak Danesh.
"Kenapa kau beli rumah disini? Ingin sekali dekat-dekat aku!" seru Kaleb.
"Danesh sudah membeli rumah didaerah sini lama kak, sebelum berpacaran denganku!" seru Kania. "Kenapa sih kak, kamu tidak suka sekali adikmu yang paling cantik ini dekat-dekat denganmu!" Kania melipat kedua tangannya diatas perut.
Tania dan Danesh yang melihat pertengkaran antara kedua kakak beradik itu hanya terdiam memandangai mereka.
"Sudah Kania, kamu sudah melihat Kakak kan. Kita pulang saja yuk." ajak Danesh. "Jangan ganggu kakakmu yang sedang pacaran, biar dia segera menyusul kita." Danesh dan Tania tertawa.
"Awas saja ya kau Kania dirumah nanti!" seru Kaleb.
"Kenapa? Danesh, kakak galak sekali." Kania berlindung dibalik tubuh Danesh.
"Sudah mau menikah masih seperti anak kecil saja!" Kaleb mengacak-acak rambut Kania.
"Aaargh Kakak, rambutku berantakan." Kania mengerucutkan bibirnya.
"Kaleb sudah." Tania memegang pundak Kaleb.
"Bye Tania, hati-hati dengan Kakakku. Kalau nakal beri saja cabai ke mulutnya!" seru Kania seraya berlalu menaiki mobil Danesh.
Kania dan Danesh sudah pulang, Kaleb dan Tania kembali ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu.
"Kaleb, kamu seharusnya mengalah pada adikmu." ucap Tania.
"Biarkan saja, memang dari kecil kami suka bertengkar seperti itu." saut Kaleb. "Tania, apakah benar besok kamu tidak mau ikut menemaniku dan Lita?" Kaleb memandang wajah Tania yang terlihat bingung.
"Ti-tidak." saut Tania.
"Kenapa?" Kaleb mengeryitkan dahinya.
"Kan aku sudah bilang tidak mau mengganggu orang yang sedang kasmaran!" seru Tania.
__ADS_1
"Aku dan Lita hanya teman dekat, tidak ada perasaan cinta." saut Kaleb. "Ya sudahlah kalau kamu tidak mau ikut, bersiap-siaplah kita akan pulang." Kaleb beranjak dari sofa dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tania masih duduk di sofa itu dengan wajah termenung.
Saat Kaleb berjalan ke kamar mandi, telepon Tania berdering. Notifikasi menunjukan kalau itu dari Joshua. Tania baru ingat kalau dia berjanji akan makan malam di rumah bersama Joshua sedangkan Tania belum sempat memasak.
"Ya ampun, aku lupa punya janji dengannya." batin Tania.
"Halo Josh?"
"Tania, satu jam lagi aku ke rumah ya." jawab Joshua.
"Jangan! Dua jam lagi. Aku belum sampai rumah." jawab Tania.
"Baiklah. Bye." Joshua mengakhiri panggilan teleponnya.
Tiba-tiba Kaleb datang dan sedikit mendengar pembicaraanTania walaupun samar.
"Telepon dari siapa Tan?" tanya Kaleb.
"Bukan siapa-siapa, biasa nawarin pinjaman." Tania tersenyum tipis. "Apa kamu sudah selesai? Kalau sudah kita pulang yuk." ajak Tania.
"Terburu-buru sekali, ada apa memangnya?" tanya Kaleb curiga.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin segera mandi dan beristirahat." jawab Tania.
Tidak berapa lama Kaleb dan Tania sudah berada di dalam mobil. Kaleb memutar lagu yang akan mereka nyanyikan untuk pernikahan Kania dan mereka pun berduet kembali.
"Suaramu lumayan Tania." puji Kaleb.
"Biasa saja, tidak sebagus penyanyi aslinya." Tania tersenyum.
"Tapi kamu pernah ikut les vokal?" tanya Kaleb.
"Iya dulu aku pernah les vokal waktu kelas 4-6 di Ternama Musik." saut Tania.
"Wah dulu aku juga pernah les disana, aku ikut les vokal, gitar, drum dan keyboard." Kaleb menjelaskan. "Kenapa kita tidak bertemu ya?" Kaleb melirik ke arah Tania.
"Tentu saja tidak, dulu aku gemuk. Kau pasti tidak akan mengenaliku." Tania mencoba menunjukkan foto masa kecilnya yang disimpan di ponsel miliknya.
"Wah iya, kau gemuk sekali." Kaleb tertawa.
Keadaan di dalam mobil kembali hening, Tania dengan wajah sedikit gelisah selalu melirik jam tangannya karena takut bila Joshua sudah datang lebih dulu.
"Untung saja tadi aku sudah minta tolong Bibi Dini agar memasak bahan-bahan yang tadi pagi ku belanjakan." batin Tania.
Kaleb sesekali melirik Tania, memperhatikan kalau Tania sepertinya sedang gelisah.
"Tania kamu kenapa? Sepertinya gelisah sekali." tanya Kaleb.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin cepat sampai rumah." jawab Tania.
"Baiklah, aku akan sedikit mengebut." ujar Kaleb.
Kaleb benar-benar melajukan mobilnya dengan kencang, tidak butuh waktu yang lama akhirnya mereka sudah sampai di rumah Tania. Saat mereka sampai, terlihat sebuah mobil terparkir di halaman parkir rumah Tania.
"Sepertinya Joshua sudah sampai. Kenapa dia datang satu jam lebih awal." gumam Tania dalam hatinya.
"Tania, sepertinya itu bukan mobilmu atau mobil keluargamu yang biasa terparkir. Apa ada tamu yang berkunjung?" tanya Kaleb.
"Aku tidak tahu, aku masuk dulu ya Kaleb. Terimakasih untuk hari ini. Semoga besok hari-mu menyenangkan dengan Lita." Tania berpamitan dan masih menunjukkan wajahnya yang gelisah. Kaleb pun menutup jendela pintu mobil tempat duduk Tania.
Tania bergegas masuk, dia segera menuju ruang makan dan mendapati meja makan sudah tertata cantik dengan lilin dan bunga mawar ditengah meja itu.
"Bi Dini, Bibi?" Tania berusaha mencari Bibi Dini.
"Tania." tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang tidak asing baginya.
"Joshua?" Tania menoleh ke arah suara itu.
"Aku sudah menunggumu, lebih baik kita segera makan karena tadi Bibi Dini sudah memasak." ucap Joshua, Tania mengangguk.
Joshua menarikkan kursi untuk Tania duduk, mereka duduk berhadapan.
__ADS_1
"Tania, sebenarnya aku sudah memesan suatu tempat di restoran kesukaan kita dulu." ucap Joshua.
"Tidak perlu repot-repot. Kita sekarang hanya teman Joshua." imbuh Tania.
Keheningan kembali hadir di meja makan itu setelah obrolan tadi.
Tiba-tiba Joshua memegang tangan Tania. Tania berusaha melepaskan genggaman tangan Joshua.
"Selamat Ulang Tahun lagi." Joshua membawa sebuah hadiah berbentuk kotak dibungkus dengan kertas kado berwarna merah muda, warna kesukaan Tania. Joshua memberikan hadiah itu pada Tania. "Terimalah ini, aku tadi belum sempat memberikanmu hadiah." pinta Joshua.
"Joshua, aku tidak bisa menerima ini. Maafkan aku." Tania menolak hadiah dari Joshua.
"Tania, aku mohon. Biar ini jadi hadiah terakhirku." imbuh Joshua.
Dengan berat hati, Tania menerima hadiah itu namun tidak lekas membukanya.
"Bukalah Tania." pinta Joshua.
"Baiklah." Tania membuka hadiah itu, ternyata hadiah yang diberikan sama dengan yang Kaleb berikan sebuah kalung berlian.
"Biarkan aku memasangkannya untukmu." Joshua beranjak menuju kursi Tania.
"Joshua tidak perlu!" seru Tania sehingga menghentikan langkah Joshua.
"Tadi pagi Kaleb sudah memberiku sebuah kalung. Lihatlah." Tania menunjuk ke arah lehernya.
"Wah sepertinya ada pesta makan malam." tiba-tiba terdengar suara Kaleb.
"Tania, kenapa kamu tidak mengajakku?"
"Kaleb?" Tania dan Joshua terdiam memandang kedatangan Kaleb.
"Pak Joshua, kenapa anda mengajak kekasih saya makan malam spesial seperti ini?" Kaleb memasang wajah kesal. "Apa Bapak lupa kalau calon istri Bapak sudah pernah berusaha mencelakai kekasih saya?" seru Kaleb.
Joshua hanya terdiam dan mengepalkan tangannya.
"Maaf Pak, saya hanya ingin memberikan hadiah ulang tahun terbaik untuk mantan kekasih saya." ucap Joshua dengan wajah tertunduk.
"Itu tidak perlu, saya sudah memberikan ulang tahun terbaik untuknya." imbuh Kaleb.
"Sudah, tidak usah bertengkar. Joshua lebih baik kamu pulang sekarang, biar aku berbicara pada Kaleb. Terimakasih untuk hadiahnya." pinta Tania.
Joshua pun berlalu meninggalkan Tania dan Kaleb, sebelumnya Joshua memandang wajah Kaleb dengan tatapan kesal.
"Sial!Kenapa harus ada dia." batin Joshua
Setelah Joshua keluar, Tania segera menghampiri Kaleb.
"Kaleb, kukira kau sudah pulang." ucap Tania.
"Tadi aku sengaja tidak pulang, karena kau terlihat sangat gelisah. Aku juga takut karena ada mobil Joshua di halaman parkir rumahmu. Awalnya aku hanya berpikir pernah melihat mobil itu. Ternyata setelah ku ingat-ingat, itu mobil Joshua." ucap Kaleb.
"Tapi untung saja kau datang, aku sangat malas bila berlama-lama dengan dia." Tania memegang lengan Kaleb.
"Memang bagaimana dia bisa berada disini?" tanya Kaleb.
"Tadi pagi saat dia memberikanku surprise, dia memang mengajakku makan malam di luar. Tapi aku menolaknya, karena tidak tega akhirnya aku mau makan malam bersamanya asalkan di rumah." Tania menghela nafasnya panjang.
"Oh seperti itu." Kaleb mengganggukan kepalanya. "Akting ku tadi bagus tidak sebagai kekasih yang cemburu?" Kaleb melirik bangga ke Tania.
"Jadi tadi kau bercanda?" tanya Tania dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tentu saja, kau mau aku benar-benar cemburu? Kalau begitu kau harus benar-benar jadi kekasihku." goda Kaleb.
"Tidak!" seru Tania.
Kaleb tertawa melihat Tania ngambek, menggemaskan sekali.
"Tania, aku lapar apa aku boleh makan disini?" Kaleb tersenyum.
"Ya ampun, ternyata kau hanya ingin makan gratis saja!" seru Tania.
__ADS_1
Bersambung...
^Dukung author terus ya, jangan lupa like dan komen kalau suka sama novelnya. Terimakasih^