
Mama dan Papa Tania sesekali tertawa mendengar candaan kekasih anaknya itu. Tania tersenyum simpul melihat pemandangan yang sangat menyenangkan ini.
"Oh iya Kaleb, Tania mumpung Papa belum pensiun nih kapan rencana kalian mau nikah?" tanya Papa Tania.
Seketika itu juga Tania dan Kaleb yang sedang asik mengunyah makanan terbatuk-batuk, mereka segera mengambil gelas air putih yang berada di dekat mereka.
Mama dan Papa Tania masih mengernyitkan dahinya.
"Kalau Tuhan mengizinkan, secepatnya Tante." ucap Kaleb setelah menetralkan tenggorokannya dengan air putih.
"Iya, kalau bisa secepatnya ya." imbuh Mama Tania senang.
"Memang kenapa sih Ma harus cepat-cepat?" tanya Tania kesal.
"Ya lebih cepat lebih baik sayang." saut Mama Tania.
Kania dan Danesh bergeming mendengar percakapan mereka.
"Sabar ya Tania dan Kakak." gumam Kania dalam hatinya.
__ADS_1
Makan siang pun selesai, Kania, Kaleb dan Danesh berpamitan untuk pulang. Tania dan Mamanya mengantarkan mereka hingga ke teras rumah, sedangkan Papa Tania masuk ke ruang kerja karena ada pekerjaan yang diminta oleh atasannya.
"Hati-hati di jalan ya. Terimakasih sudah anterin Tania." ucap Mama Tania sambil melambaikan tangan.
"Bye, nanti kabarin ya." ucap Tania.
Mobil Kaleb dan mobil Danesh sudah melaju, meninggalkan rumah Tania. Tania dan Mamanya bergegas masuk kembali ke dalam rumah.
"Tania, besok-besok mau kemana pun kalau menginap izin sama Mama. Coba kalau Mama sama Papa nggak pulang mendadak, mana kita tahu kamu pergi menginap." ucap Mama Tania menasehati.
"Iya Mama sayang, maaf ya." ucap Tania sambil menangkupkan kedua tangannya. "Janji deh kemana pun selalu lapor." imbuh Tania sambil menaikkan tangannya membentuk gerakan hormat.
"Bibi, sini Tania yang cuciin piring." pinta Tania lalu mengambil alih piring yang sedang dipegang Bibi Dini.
"Nggak usah Non, istirahat aja. Non pasti cape." tutur Bibi Dini.
"Nggak apa-apa Bi, Tania cuci piring aja." ucap Tania memaksa, akhirnya Bibi Dini membiarkan Tania mencuci piring.
Saat sedang membilas piring terakhir, ponsel Tania berdering. Tania bergegas membersihkan tangannya dan bergerak cepat mengambil ponsel yang ada di dalam kantung celananya.
__ADS_1
"Nomor nggak dikenal?" Tania mengernyitkan dahinya. "Angkat nggak ya? Hem, nggak usah aja deh." ucap Tania setelah cukup lama membiarkan panggilan telepon itu berdering.
Tania kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana dan bergegas naik ke atas menuju kamarnya.
Tania membaringkan tubuhnya di kasur dan mendengus nafas kasar karena ponselnya kembali berdering dari nomor panggilan yang sama.
"Siapa sih ini?" Tania berdecak kesal, namun tetap mengabaikan panggilan telepon itu. Tania mematikan ponselnya dan terlarut dalam tidurnya.
***
Keesokan harinya
Tania mengerjapkan matanya dari bangun tidur malam. Setelah tidur siang kemarin, Tania bangun di sore hari hanya untuk membereskan pakaiannya yang masih di dalam koper lalu lanjut makan malam dan tidur. Tania sama sekali tidak ingat untuk mengecek ponselnya, karena tubuhnya terasa sangat lelah setelah kejadian di rumah Nenek dan juga perjalanan panjang saat pulang dari Villa ke rumah Tania. Sangat melelahkan.
"Sudah pagi ya ternyata." tutur Tania. Tania bergegas mengambil ponselnya yang sudah dia abaikan seharian kemarin dan menyalakannya. Sambil menunggu ponsel itu menyala, Tania berjalan dengan langkah kaki yang berat menuju kamar mandi karena rasanya tubuhnya masih sangat lelah.
Setelah itu, Tania kembali mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat banyak panggilan tak terjawab serta pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Siapa ya?" ucap Tania sambil mengernyitkan dahi, namun segera ia abaikan mengingat ia belum bersiap untuk berangkat kerja.
__ADS_1