Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 7 - Pembalasan


__ADS_3

"Biasa saja, yang paling aku suka wanita cantik. Seperti yang ada di depanku ini." rayu Kaleb sambil tersenyum kecil.


Tania dan Kaleb larut dalam obrolan mereka membuat Tania lupa akan rasa sedihnya saat Joshua memperkenalkan Jessica padanya.


"Kaleb, aku mau cerita dan tanya pendapatmu, boleh?" tanya Tania.


"Kenapa?" Kaleb mengernyitkan dahi, meletakkan tangannya di atasnya meja sambil menahan dagunya memperhatikan Tania dengan serius.


"Tadi aku ketemu Joshua dan calon istrinya, dia bilang kalau dia mau berhenti dari pekerjaan dan melanjutkan Perusahaan Papanya." Tania menjelaskan sambil meneguk ice cappucinonya. "Calon istrinya sangat sombong sekali." gerutu Tania.


"Memang apa yang dikatakan calon istrinya?" Kaleb menyelidik.


"Saat Joshua sedang memperkenalkan dirinya, wanita itu langsung berteriak dan memperkenalkan dirinya sebagai Calon Isteri Joshua." Tania memperagakan gaya Jessica berbicara membuat Kaleb tertawa. "Kenapa kau tertawa? Aku sedang kesal." Tania mengerucutkan bibirnya.


"Kau lucu sekali saat menirukan gaya bicara Jessica." Kaleb kembali tertawa puas.


"Tertawa terus saja. Puas!" seru Tania. "Sudahlah, aku tidak mau cerita padamu lagi." Tania memasang wajah cemberut sambil bersedekap dada.


"Aku bercanda Tania. Tania sudah lupakan Joshua, aku yakin suatu saat nanti akan ada laki-laki yang lebih baik darinya menjadi pendampingmu kelak." Kaleb memegang tangan Tania, membuat Tania kaget dan melepaskannya.


"Kaleb, aku jadi berpikir. Bila suatu saat nanti kita bertemu dengan calon pasangan kita, bagaimana cara menjelaskan pada Papa dan Mamaku kalau aku putus denganmu." Tania menaruh kembali tangannya di meja dan meminum ice cappucinonya.


"Kita pikirkan hal itu nanti Tania. Aku juga tidak tahu harus berkata apa pada Tante Lidya nanti. Bila memang Tuhan mengizinkan, mungkin kita berjodoh?" ujar Kaleb sambil tertawa. Tania tersenyum malu mendengar jawaban Kaleb.


Mereka kembali melanjutkan obrolan hingga tak terasa hari sudah sore dan mereka memutuskan untuk pulang dan mencari makan malam.


***


KEESOKAN HARINYA


"Kau tahu kan apa yang harus dilakukan?" Jessica menaruh kedua tangannya diatas perut. "Celakai dia, tapi jangan sampai mati! Ini DP nya bila berhasil akan kuberikan sisanya." seru Jessica sambil memberikan amplop berisi uang pada 2 pria berbadan besar seperti bodyguard.


"Baik Nona, akan kami laksanakan. Serahkan saja semua pada kami." jawab salah satu pria.


DI RUMAH TANIA


Tania sedang bersiap-siap berangkat menuju ke coffe shop nya, karena hari ini akan diadakan meeting bulanan dengan orang kantor maka Tania harus datang lebih awal untuk menyiapkan berbagai file dan laporan keuangan kantor. Saat Tania keluar rumah hendak membuka pagar, ada 2 orang pengendara sepeda motor berhenti dan satu orang penumpang motor tersebut mendekati Tania secara tiba-tiba mengambil tas serta melukai tangan Tania membuat darah menetes deras.


"Aargh! Toloong!" teriak Tania, namun motor itu berlalu dengan cepat. Perumahan tempat Tania tinggal adalah tempat yang sepi, sehingga tidak ada orang yang berlalu lalang saat pagi ini. "Bi Dini tolong!" Tania berusaha masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Bi Dini.


"Mbak Tania ada apa? Ya Tuhan." Bibi Dini dengan wajah panik segera berlari mencari kotak P3K.


"Bi, tolong Tania darahnya menetes terus." ucap Tania panik.

__ADS_1


Bibi Dini segera kembali membawa kotak P3K dan mengobati luka Tania. Bibi Dini membersihkan luka, memberikan obat dan membalut perban. Setelah itu mereka segera menuju ke Klinik terdekat dari perumahan itu.


"Jadi bagaimana Dok, apakah luka saya ini berbahaya?" Tania bertanya sambil memegang tangannya.


"Tidak apa-apa kok, untung saja sayatannya tidak sampai mengenai nadi." Dokter menjelaskan sambil menuliskan resep. "Ini saya berikan obat penghilang rasa sakit juga, diminum teratur obatnya ya. Lekas sembuh." ucap Dokter tersebut dengan tersenyum.


Tania dan Bibi Dini segera meninggalkan Klinik dan pulang. Sebelumnya Tania meminta Bibi Dini agar tidak menghubungi Mamanya, karena takut Mamanya yang sedang dalam perjalanan kembali ke Jepang akan khawatir. Tania juga sudah mengabarkan kantor dan memberitahu bila hari ini rapat diundur karena mendadak ada kecelakaan kecil.


"Aku ingin sekali mengabarkan Kaleb, tapi bagaimana caranya? Nomor teleponnya aku tidak hafal, sebal sekali dengan copet itu!" seru Tania yang saat ini sedang berbaring di kamarnya.


Tiba-tiba Bibi Dini datang, mengetuk pintu kamar Tania.


Tok


Tok


Tok


"Mbak Tania, ada yang datang cariin Mbak." Bibi Dini berteriak dari balik pintu.


"Siapa Bi?" Tania bertanya sembari berjalan menuju pintu dan membukakan pintu. "Siapa Bi?" tanya Tanya kembali.


"Bibi ga kenal Mbak, tapi ganteng Mbak kaya artis-artis." Bibi Dini tersenyum.


"Kaleb!" seru Tania.


"Tania, kenapa nomormu tidak bisa dihubungi? Dan kenapa itu tanganmu?" Kaleb cemas melihat perban yang melilit di tangan Tania.


"Kita duduk dulu yuk, aku ceritakan. Kamu mau minum apa?" Tania berusaha menenangkan Kaleb.


"Apa saja, cepat ceritakan!" seru Kaleb.


"Bi tolong buatkan minum untuk Mas ini ya." Tania tersenyum dan dijawab dengan anggukan kepala.


Kaleb dan Tania sudah duduk di sofa ruang tamu. Kaleb masih memperhatikan tangan kiri Tania yang dibalut perban dan sedari tadi tak lepas dipegang Tania.


"Kau kenapa!" seru Kaleb lagi.


"Ya ampun, sabar. Jadi tadi pagi aku dicopet di depan rumah. Tasku diambil. Tas itu padahal aku beli saat liburan ke Paris sama Papa dan Mama." Tania mengerucutkan bibirnya.


"Kondisi seperti ini masih memikirkan barang!" seru Kaleb, "Lalu kenapa dengan tanganmu ini?" Kaleb kembali bertanya.


"Pencopet itu melukai tanganku dengan sayatan pisau." Tania tersenyum. "Sudah tidak apa-apa kok, sudah aman. Aku sudah kedokter tadi."

__ADS_1


"Kenapa tidak menghubungiku?" Kaleb beralih memegang tangan Tania yang terluka.


"Kau bagaimana sih? Ponselku kan hilang, aku tidak ingat nomormu!" seru Tania kesal.


"Oh iya maafkan aku, baiklah aku akan membelikanmu ponsel baru. Bersiap-siaplah." Kaleb tersenyum.


Bibi Dini datang membawakan dua gelas es jeruk.


"Silakan diminum Mas." ucap Bibi Dini.


"Iya Bi." Kaleb tersenyum.


"Terimakasih Bi." jawab Tania, pandangannya kali ini berpindah pada Kaleb. "Aku tidak mau dibelikan ponsel, aku mau tas ku saja kembali." Tania melanjutkan pertanyaan Kaleb.


"Padahal aku ingin membelikanmu ponsel model terbaru, baru launching minggu lalu." Kaleb tersenyum tipis.


"Baiklah, tapi jangan hari ini. Aku lelah dan ingin beristirahat. Boleh kan?" Tania melanjutkan dengan meminum es jeruknya dan memakan cemilan yang dibawa Bibi Dini.


"Okay, besok ya?"


"Boleh, tapi setelah jam makan siang saja. Aku harus meeting dulu dengan karyawanku besok. Seharusnya hari ini aku meeting. Besok temani aku juga untuk urus KTP, ATM, SIM ku ya" Tania tersenyum dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Kaleb.


"Iya, tuan puteri." Kaleb tersenyum disambut tawa Tania.


Ketika mereka sedang asyik mengobrol terdengar suara motor yang sangat keras seperti berhenti di depan rumah Tania.


"Ada apa itu?" Tania beranjak meninggalkan sofa untuk keluar, namun dihalangi Kaleb.


"Biar aku saja yang melihatnya, kau tunggu disini saja." Kaleb beranjak meninggalkan sofa dan menuju ke pagar rumah, melihat tidak ada siapa-siapa namun ada tas wanita yang ditinggalkan. Kaleb mengambil tas itu dengan hati-hati dan membawanya ke dalam.


"Tania apakah ini tasmu?" Kaleb menyodorkan tas itu pada Tania.


"Benar, kenapa bisa ada didepan?" tangan kanan Tania mengambil tas yang diberikan dan mencoba membukanya dengan hati-hati.


"Semuanya aman, tapi ada apa ini." Tania mengernyitkan dahinya memegang selembar kertas yang berisikan tempelan-tempelan huruf. "Ini seperti surat ancaman!" seru Tania.


Kaleb menarik surat itu dan membacanya.


"Jangan coba menggangu hubungan orang lagi, atau kau akan mati. Hari ini hanya tanganmu yang terluka, besok kakimu, kepalamu, perutmu dan seluruh anggota tubuhmu." mata Kaleb membulat setelah membaca surat ini.


"Tania apa kau pelakor?" Kaleb menatap Tania sinis.


"Tentu saja tidak! Apa-apaan kau ini. Aku saja dekat dengan pria hanya denganmu!" seru Tania. "Jangan-jangan surat itu dari Jessica? Atau Ana?" Tania mengeryitkan dahinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2