Kopiku, Kopimu

Kopiku, Kopimu
Episode 13 - Rahasia


__ADS_3

"Tania, aku lapar apa aku boleh makan disini?" Kaleb tersenyum.


"Ya ampun, ternyata kau hanya ingin makan gratis saja!" seru Tania.


Kaleb menikmati makanan yang sudah disajikan di atas meja makan. Tania juga menemai Kaleb makan malam karena tadi dirinya juga belum sempat menyuap apapun dari piringnya akibat tindakan Joshua tadi.


"Tania, terimakasih ya aku sudah kenyang." Kaleb memegang perutnya.


"Iya, sama-sama!" jawab Tania ketus.


"Kenapa jawabanmu terdengar tidak enak? Kau tidak suka?" ucap Kaleb dengan kesal.


"Tidak." Tania tertawa


"Dasar kau!" Kaleb mencubit pipi Tania.


"Suka sekali kau mencubit pipiku!" seru Tania sambil memegang pipinya.


"Tania sepertinya aku harus pulang." Kaleb melihat jam tangan yang melingkar di lengannya.


"Baiklah, selamat bersenang-senang besok." Tania melambaikan tangannya


"Berarti kau mau ikut besok?" Kaleb melengkungkan senyumannya.


"Tidak! Siapa yang bilang begitu." seru Tania.


"Tadi kau bilang selamat bersenang-senang, bila bersenang-senang berarti kau ikut!" seru Kaleb.


"Tidak, aku mau kerja besok! Sudah-sudah lekaslah pulang." ucap Tania ketus sambil melipat tangannya di atas perut.


"Baiklah, bye cantik." Kaleb mencolek pipi Tania dibalas dengan juluran lidah oleh Tania.


***


Keesokan harinya.


"Hai Kaleb, maaf ya sudah menunggu." sapa Lita, mengejutkan Kaleb yang sedang asik bermain dengan ponselnya untuk mengusir kebosanan akibat terlalu lama menunggu Lita.


"Hai, tidak kok." Kaleb tersenyum.


"Kaleb, kamu tidak mengajak Tania?" Lita mengernyitkan dahinya.


"Tidak, dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya." jawab Kaleb, Lita mengganggukan kepalanya.


"Baiklah, Kaleb aku ingin ke tempat ini." Lita menunjukkan sebuah foto di telepon genggamnya.


"Kamu ingin ke taman rekreasi ini?" tanya Kaleb, Lita kembali mengganggukan kepalanya. "Baiklah, ayo kita berangkat." ajak Kaleb.


Lita dan Kaleb sudah berada di dalam mobil, sepanjang perjalanan mereka berbincang. Tapi Kaleb merasa suasananya terasa lebih menyenangkan bila bersama Tania. Rasanya Kaleb mulai merindukannya.


"Kaleb, Tania tidak marah aku pergi bersamamu?" tanya Lita.


"Tidak, aku sudah bilang padanya dan sudah kuajak dia tapi dia tidak mau. Payah sekali." ucap Kaleb ketus.


Lita tertawa mendengar ucapan Kaleb.


"Kaleb, setelah pernikahan Kania minggu depan, aku harus kembali ke Singapura. Kau mau tidak menemaniku?" Lita melengkungkan senyumannya.


"Bukankah kuliahmu sudah selesai? Kau mau liburan?" tanya Kaleb, Lita menggelengkan kepalanya.


"Aku mau berobat." jawab Lita lirih.


"Maksudmu?" Kaleb mengernyitkan dahinya. "Kamu sakit apa Lita?" imbuh Kaleb.


"Kaleb, sebenarnya selama ini aku menyimpan sebuah rahasia. Aku menderita sakit kanker rahim stadium 4. Aku mengetahui ini saat kuliah S1 ku mendekati semester akhir waktu itu masih stadium awal." jelas Lita lirih.


"Mendekati semester akhir, berarti saat aku menyatakan perasaanku padanya dia sudah menderita penyakit ini" batin Kaleb.


"Maaf kan aku ya Kaleb, dulu aku tidak menerimamu dengan alasan kamu sangat baik pada semua orang. Itu memang benar, itu membuatku cemburu. Tapi hal lain lagi, aku takut tidak bisa menemanimu sampai selamanya." Lita berusaha menahan kesedihannya. "Kaleb, aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan. Kumohon jangan ceritakan hal ini pada siapapun, termasuk pada Tania." Lita berusaha tersenyum, Kaleb mengganggukan kepalanya dan mengelus kepala Lita dengan lembut.


"Lita, boleh aku tanya satu hal?" tanya Kaleb, Lita mengganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak memberitahukanku sejak awal? Kita bisa mencari dokter terbaik diseluruh dunia ini untuk mengobati penyakitmu." ucap Kaleb lembut.


"Aku tidak mau merepotkanmu atau orang terdekatku. Cukup orangtuaku saja Kaleb." Lita kembali tersenyum. "Kaleb, sekarang aku hanya ingin menikmatiku hidupku. Aku sudah ikhlas bila penyakit ini harus merenggut hidupku." imbuh Lita.


"Baiklah Lita, aku juga akan berusaha menemanimu." ucap Kaleb.


Mendengar hal ini membuat Kaleb merasa sedih. Seketika itu Kaleb tidak mengingat tentang Tania. Tidak berapa lama, Kaleb dan Lita sudah tiba di taman rekreasi itu. Mereka langsung menuju ke berbagai wahana permainan yang ringan, karena kondisi Lita juga tidak memungkinkan untuk naik semua permainan disana.


***


"Mereka sedang pergi kemana ya?" gumam Tania. "Kenapa aku kepikiran Kaleb ya? Apa ini namanya rasa cemburu?" imbuh Tania.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." jawab Tania


"Mbak Tania, ada Kak Joshua datang." ucap Tasya.


"Duh mau apa lagi sih dia." jawab Tania malas.


"Dia mau ketemu Mbak, katanya penting." Tasya melengkungkan senyumnya.


Tania keluar dari ruangan kantornya dan menemui Joshua yang sedang duduk di salah satu sofa di coffee shop itu.


"Hai Tania." Joshua melambaikan tangannya.


"Sudah tidak perlu basa-basi, mau apa kamu kesini?" ucap Tania ketus.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin bertemu denganmu saja." ucap Joshua.


"Ya sudah aku akan kembali ke ruanganku, karena tidak ada yang penting." Tania beranjak dari tempat duduknya, tetapi Joshua menarik tangannya.


"Tania tunggu! Ada hal yang ingin kujelaskan." pinta Joshua yang masih memegangi tangan Tania, mendengar perkataan Joshua itu Tania kembali duduk.


"Kenapa? Siapa yang menyuruhmu?" tanya Tania.


"Orangtuaku." ucap Joshua lirih.


Jawaban Joshua membuat Tania merasakan sesak di dadanya. Bagaimana mungkin? Orangtuanya sangat baik padanya.


"Om dan Tante?" Tania mengatakan itu serasa ada yang menyangkut di tenggorokannya, Joshua menganggukan kepalanya.


"Sebenarnya Papa dan Mama juga tidak tega padaku. Tapi mereka memikirkan perusahaan Papa yang saat itu sedang di ambang kebangkrutan." ucap Joshua. "Jessica itu adalah anak teman Papaku, Papanya pemilik beberapa Perusahaan kontraktor." imbuh Joshua. "Jessica dan aku memang sudah berteman sejak kecil. Papa Jessica menawarkan pada Papaku untuk menjodohkan kami dan Papa Jessica akan membantu perusahaan Papa."


"Joshua kenapa kamu tidak bilang dari awal?" Tania menatap Joshua, berusaha menahan air matanya yang ingin segera keluar.


"Aku tidak bisa, aku harus membuatmu membenciku." Joshua menundukan kepalanya. "Kupikir kita tidak akan pernah bertemu lagi, tapi ternyata."


"Joshua sudahlah, kita harus ikhlas. Mungkin memang seperti ini takdirnya." ucap Tania.


"Tania aku tahu, tapi aku ingin mencoba kembali menjalin hubungan denganmu. Aku akan berusaha mengembalikan bantuan yang sudah diberikan oleh Papa Jessica pada perusahaan Papaku." jelas Joshua.


"Joshua aku tidak bisa, sekarang aku sudah punya ...."


"Kekasih?" tukas Joshua. "Tania aku tahu kalau kamu dan Kaleb hanya pura-pura." imbuh Joshua, Tania membulatkan matanya. "Aku mendengar semua percakapan kalian kemarin sebelum aku pulang."


"Joshua kau ini." ucap Tania kesal.


"Maafkan aku Tania, aku lancang." ucap Joshua. "Tania, apakah kamu mau mencoba lagi denganku?" tanya Joshua, Tania hanya terdiam.


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang." jawab Tania.


***


"Kaleb, tadi sangat menyenangkan sekali." ucap Lita "aku ingin sekali duduk di kafe, apa kamu ada rekomendasi?" tanya Lita.


"Ada, kita ke coffee shop Tania yuk?" ajak Kaleb, Lita menganggukan kepalanya dengan senang. Kaleb juga merindukan Tania, kebetulan sekali bila Lita ingin ke coffee shop.

__ADS_1


Kaleb melajukan mobilnya menuju ke coffee shop Tania, saat mereka ingin masuk, Kaleb melihat Joshua yang baru saja keluar dari sana. Mereka saling bertatapan.


"Tania." sapa Kaleb.


"Kaleb, Lita?" Tania melengkungkan senyumnya. "Wah kalian habis darimana? Sepertinya sangat lelah." tanya Tania.


"Kita habis dari taman rekreasi." jawab Lita.


"Silahkan duduk dulu mau pesan apa sampaikan saja pada Angel. Aku permisi kembali ke ruanganku dulu ya sebentar, nanti aku kembali." Tania berjalan diikuti oleh Kaleb. Lita duduk sendiri di sofa customer.


"Tania tunggu!" Kaleb menahan pintu kantor ruang Tania. "Kamu kenapa? Joshua tadi berbuat apa?" tanya Kaleb, Tania hanya menggelengkan kepalanya tertunduk.


Kaleb menyentuh dagu Tania sehingga terlihat jelas mata Tania yang basah. Kaleb langsung memeluknya.


"Kaleb." Tania berkata lirih.


"Tenang ya." Kaleb semakin mengeratkan pelukannya.


"Kaleb, aku ingin masuk dulu ke ruanganku. Membersihkan wajahku dan bermake up. Aku malu." Tania berkata dengan sekuat hati.


"Baiklah, masuklah. Aku akan menunggu disini." ucap Kaleb, Tania mengganggukan kepalanya.


Sekitar 15 menit Tania berada di dalam, masih melanjutkan tangisannya dan setelah bisa berhenti Tania mencoba menghapus air matanya dan memberikan make up tipis di wajahnya. Tania segera keluar dari ruangan dan Kaleb masih setia menunggu di luar ruangan itu. Kaleb menggandeng tangan Tania, rasanya hati Tania menjadi sedikit tenang.


"Lita, maaf ya lama tadi ada beberapa laporan yang harus kuselesaikan. Kaleb tadi membantuku." ucap Tania dijawab dengan senyuman oleh Lita.


"Tidak apa-apa Tania, aku maklum kok. Aku juga makasih ya sudah dipinjamkan Kaleb." Lita tersenyum.


"Pinjam? Memang aku uang?" ucap Kaleb kesal, Tania dan Lita tertawa mendengar ucapan Kaleb.


Tania, Kaleb dan Lita kembali melanjutkan obrolan dan menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan.


Tak terasa hari sudah sore, Kaleb dan Lita berpamitan. Tania kembali keruangan kantornya.


"Aku harus apa, Tuhan?" ucap Tania lirih. "Kalau boleh jujur, aku mulai menyukai Kaleb. Tapi apa dia menyukaiku? Aku sudah menyingkirkan perasaanku pada Joshua." Tania kembali termenung. Sedih sekali rasanya, tidak ada teman untuk bercerita. Tiba-tiba Tania teringat sahabatnya saat kuliah dulu, Debby.


"Aku ingin ke Jogja dan bertemu Debby. Aku rindu sekali padanya, sepertinya sehabis pernikahan Kania saja aku kesana." gumam Tania.


Tania mencari kontak sahabatnya itu dan menghubunginya.


"Halo Debby." sapa Tania.


"Halo Tania, apa kabar kamu?"


"Baik, Debby aku minggu depan ingin ke Jogja mau bertemu denganmu. Rasanya aku butuh liburan, dan aku butuh teman cerita." ucap Tania.


"Waaah Tania, aku senang sekali. Sudah lama kita tidak berbincang. Aku nggak sabar." Tania menutup panggilan teleponnya dan bersiap-siap untuk pulang.


Bersambung...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


^Mohon like dan komentarnya ya. Biar aku semangat upnya. Terimakasih.^


__ADS_2