
Tania terbangun dari tidurnya, rasanya ia tidur dengan sangat nyenyak hingga tidak terasa matahari sudah terbit. Tania berusaha menyesuaikan pandangan matanya yang menangkap cahaya sinar mentari. Dia menoleh ke sebelahnya dan melihat Kania masih tertidur pulas. Dengan langkah malas, Tania beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat melihat tubuhnya di depan cermin, Tania dibuat keheranan dengan kedua matanya yang bengkak.
"Mataku bengkak sekali." ucap Tania masih dengan wajahnya yang sayu.
Tania segera keluar dari kamar mandi dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Dia melihat banyak panggilan tak terjawab dari Mamanya.
"Tumben sekali Mama telepon. Ada apa ya?" gumam Tania.
Tania segera menelepon kembali Mamanya namun ternyata panggilan telepon itu tidak bisa tersambung.
"Kenapa tidak aktif ya?" tutur Tania keheranan. "Lebih baik aku mengirimkan pesan whatsapp saja, nanti Mama pasti akan membalasnya." imbuh Tania lagi, sambil mencari kontak whatsapp milik Mamanya.
"Tania, kamu sudah bangun?" ucap Kania yang saat ini sedang mengerjapkan kedua matanya berusaha menyesuaikan cahaya sinar matahari yang masu ke kamar.
"Iya." saut Tania sambil tersenyum.
"Kamu sudah lebih baik, Tan?" ucap Kania lagi, sambil beranjak berdiri dan menghampiri Tania yang berada di sofa kamar itu.
Bila dikatakan baik, mungkin Tania sudah lebih baik dari keadaan semalam. Namun, kejadian malam itu membuat Tania berpikir lagi untuk melanjutkan hubungannya dengan Kaleb. Mungkin Kaleb bukan jodohnya, atau memang untuk mencapai kebahagiaan harus ada banyak masalah yang dihadapi. Sepertinya tidak berhenti masalah yang dihadapi oleh Kaleb dan Tania dan menjalani kisah cintanya.
__ADS_1
"Sudah, tidak apa-apa kok Kania. Mungkin sudah jalannya seperti ini. Aku dan Kaleb akan berusaha menjalani dan berusaha meyakinkan Nenek." tutur Tania dengan tegar.
"Terimakasih Tania, sudah mau sabar dan tetap mendampingi Kakakku." tutur Kania lembut.
Tanpa disadari, percakapan mereka terlihat oleh Kaleb yang sedang mengintip dibalik pintu.
"Aku akan berusaha mencari cara untuk meyakinkan Nenek, bagaimanapun caranya. Bianca, aku tidak akan pernah menikahimu." gumam Kaleb dalam hatinya.
Kaleb mulai masuk ke dalam kamar yang memecah obrolan hangat antara Kania dan Tania.
"Tania, Kania kita sarapan yuk!" ajak Kaleb.
Kaleb segera menggantikan posisi tempat Kania duduk di sofa.
"Tania, sudah lebih baik? Jangan sedih lagi ya. Aku akan selalu ada disampingmu." ucap Kaleb dengan lembut dan sentuhan lembut di kepala Tania.
"Terimakasih Kaleb." ucap Tania sambil menoleh ke arah Kaleb.
Keheningan diantara keduanya terhenti setelah ponsel Tania berdering.
__ADS_1
"Mama." ucap Tania pada Kaleb. "Aku angkat dulu ya." pinta Tania dan segera memencet tombol berwarna hijau di ponselnya.
"Halo Mama?" sapa Tania.
"Sayang, kamu kemana aja sih? Mama ada di rumah sekarang." seru Mamanya kesal.
Deg.
Tania langsung membulatkan matanya dan seketika itu juga rahangnya tiba-tiba kaku tidak dapat berkata apa-apa.
"Maaf Ma, aku segera pulang deh." tutur Tania dan langsung mematikan teleponnya.
"Kenapa?" tanya Kaleb.
"Mama di rumah, aku belum izin Mama kalau mau pergi sama kamu apalagi sampai menginap. kita pulang sekarang ya." tutur Tania cemas.
"Iya, tapi kita sarapan dulu ya habis itu berkemas." pinta Kaleb. Tania pun mengiyakan dan segera bersiap untuk sarapan.
__ADS_1
Bersambung....