
Kania dan Danesh sudah terbangun dari istirahat siang, mereka bergegas turun menuju ruang keluarga karena waktu sudah menunjukkan sore hari. Kania melihat Kaleb yang sedang terbaring dengan begitu nyenyaknya di atas sofa.
“Kakak.” panggil Kania sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kaleb.
“Hem.” saut Kaleb dengan nada malas.
“Tania mana?” tanya Kania sambil mengernyitkan dahinya, sementara Danesh sedang bersantai di sofa sambil menonton televisi.
Kania yang kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Kaleb, melampiaskan kemarahannya pada Danesh dengan mengambil remote yang berada di tangannya dan mematikan televise itu.
“Yah kok dimatiin?” ucap Danesh dengan nada kecewa.
“Bantuin bangunin Kakak, aku mau cari Tania.” pinta Kania dengan nada suara kesal.
“Marah-marah terus, kirain habis bangun tidur marah-marahnya agak kurang.” gumam Danesh.
Kania yang sedang berjalan, mendengar perkataannya suaminya itu dan segera berbalik dan menghampiri suaminya.
“Tadi kamu bilang apa?” tanya Kania ketus.
Danesh yang sedang berusaha membangunkan Kaleb seketika itu juga langsung membulatkan matanya dan menoleh perlahan ke arah sumber suara itu.
“Kania?” ucap Danesh dengan wajah pias.
“Hem?” saut Kania.
__ADS_1
“Aku nggak bilang apa-apa, cuma bilang sepertinya kamu lagi cape.” ucap Danesh.
“Aku tadi dengarnya nggak seperti itu kok.” ucap Kania kembali sambil bersedekap dada.
“Iya, aku bilang seperti itu. Kamu pasti salah tadi, sayang.” ucap Danesh berusaha melunakkan kemarahan isterinya.
“Hem, sudahlah. Aku mau cari Tania.” ucap Kania sambil mendengus kesal.
“Huft.” Danesh mengelus dadanya.
Tiba-tiba Kaleb tertawa,membuat Danesh melihat ke arah Kakak iparnya itu.
“Kakak? Kamu nggak tidur?” tanya Danesh sambil mengernyitkan dahinya.
“Nggak, aku tadi cuma mau dengar pertengkaran kalian saja. Lucu.” ucap Kaleb sambil terkekeh.
“Sabar ya Danesh, namanya juga bumil.” ucap Kaleb sambil mengelus punggung Danesh.
“Kita berangkat jam berapa?” suara Kania membuyarkan percakapan antara Kaleb dan Danesh.
“Satu jam lagi ya, siap-siap dulu. Aku belum mandi.” tutur Kaleb.
***
Kaleb, Danesh, Kania dan Tania sudah berada dalam mobil Kaleb. Kaleb melajukan mobilnya menuju Villa milik Neneknya. Nenek Kaleb adalah perintis yang menemani suaminya membuat PT. Tirtania Jaya menjadi besar.
__ADS_1
Mereka sudah tiba di rumah Nenek Kaleb, perjalanan yang ditempuh tidak terlalu lama karena jarak antara Villa Kaleb dan Villa milik Neneknya dekat.
“Halo Kaleb.” sapa seorang wanita yang sudah lanjut usia namun masih terlihat cantik.
“Halo Nek.” balas Kaleb sambil mengecup pipi kiri dan kanan Neneknya.
“Halo Nenek.” sapa Kania yang juga memberikan kecupan di pipi Neneknya, begitu pula dengan Danesh.
“Ini siapa?” tanya Nenek sambil memandang Tania dari atas ke bawah memberikan tatapan seolah tidak suka.
“Tania Nek.” ucap Tania sambil menyodorkan tangannya bermaksud ingin bersalaman, namun tidak dibalas oleh Nenek.
“Temanmu Kania?” tanya Nenek sambil menoleh ke arah Tania dan dijawab dengan anggukkan kepala. Tania langsung menoleh kea rah Kaleb namun hanya dibalas dengan senyuman.
“Kenapa Kaleb tidak menjawab kalau aku calon isterinya?” batin Tania.
Nenek Kaleb dan Kania mengajak mereka semua untuk makan malam. Makan malam diawal sangat hening, hanya ada suara garpu, sendok dan piring yang saling beradu. Saat menunggu hidangan penutup, Kaleb memberanikan diri untuk berbicara.
“Nenek, sebenarnya ada yang ingin Kaleb sampaikan.” tutur Kaleb.
Nenek langsung menoleh ke arah Kaleb. Dia tahu bila cucunya itu akan berbicara serius.
“Nenek, sebenarnya Kaleb ingin-“ perkataan Kaleb tiba-tiba terputus.
__ADS_1
Bersambung…