
.
Sore hari
Kediaman Naura
Mama Merry yang sedang menyiram bunga-bunga melihat putri bungsunya baru pulang turun dari mobil, ia langsung berjalan menuju Naura. "Baru pulang? jika ada urusan biasanya suka ditemani Nesy kenapa sekarang enggak?."
Naura tersenyum kikuk saat diberi beberapa pertanyaan oleh sang mama. "Nesy juga ada kesibukannya mam aku tidak mungkin harus segalanya didampingi dia."
Merry menatap putrinya dengan tatapan penuh intimidasi. "Oke-oke terserah saja, tapi ini apa ini? kenapa sore-sore pakai syal segala? ini panas sayang gak gerah kamu?." Merry menarik-narik syal yang melingkar pada leher Naura.
Naura sedikit panik ia menahan tangan mamanya. "Aku kurang enak badan ma jadi bawaannya dingin."
"Oh yaudah kalau begitu cepat istirahat nanti mama bawakan obat."
"Gak usah mam aku sudah beli." Bohong Naura, menurutnya bekas ciuman Sam pada lehernya tidak akan hilang dengan obat sakit kepala atau pun sejenisnya melainkan butuh waktu sekitar satu sampai dua minggu.
"Oke baiklah."
Naura pun masuk ke dalam rumah besar itu ia langsung menuju kamarnya. "Sorry ma aku bukan bermaksud untuk berbohong." Lirih Naura seraya melepas syal juga jaket tebalnya, ia langsung menyalakan AC karena begitu gerah.
Setelah membersihkan diri Naura merebahkan tubuh ia saat ini hanya ingin rileks tanpa memikirkan pekerjaan atau apa pun itu, Naura seketika teringat Sam ia sadar pria itu semakin hari semakin memasuki hatinya. "Sam sialan aku ternyata takut kehilangan dirimu." Lirih Naura sambil menutup wajahnya yang merona karena kembali mengingat cumbuan panas semalam.
__ADS_1
Saat malam tiba...
Di meja makan
Naura turun dengan pakaian santai seperti biasanya, ia ikut bergabung duduk berhadapan dengan Merry juga papanya Arga.
"Sudah enakan badannya?." Tanya Merry melihat kondisi Naura.
"Hmm." Naura mengangguk, untungnya ia menutupi bekas merah itu dengan foundition. Naura tak tahan jika menutupinya dengan syal itu sangat gerah dan terlihat aneh.
"Are you okey?." Timpal Arga menatap lekat Naura seolah mencari tahu apa yang terjadi.
Ditanya dan ditatap seperti itu Naura terdiam seolah papanya tahu apa yang Naura alami terhadap pikirannya. "I am oke pah." Balasnya sambil tersenyum.
"Oke." Ucap Arga. "Kamu sudah tahu jika Rey kembali dari Jepang ke Indonesia?."
"Papa tahu kamu juga harus bersikap seperti apa sekarang, ditambah kamu juga sudah memiliki kekasih bukan?." Lanjut Arga.
"Iya pah karena kekasihku juga aku sampai bisa keluar dari prinsip gila itu." Timpal Naura. "Sudahlah aku tak mau membahas soal Rey."
Merry dan Arga tersenyum. "Oke-oke."
"Siapa sih? cepat speak up kekasih kamu itu mama sama papa penasaran." Ujar Merry membujuk. "Kenapa harus disembunyikan? apa jangan-jangan orang yang kita kenal lagi Naura?."
__ADS_1
Dalam hati Naura mengiyakan. "Masih butuh waktu ma pah."
"Yasudah kalau begitu, kita lanjutkan makan malam."
"Iya."
.
Tok tok tok!
Sam menoleh saat pintu kamarnya diketuk.
Tok tok tok!
"Masuk!."
Pintu dibuka dan masuklah Andre membawa sesuatu yang dibungkus di tangan, raut wajah pria itu tanpa ekspresi seperti memendam sesuatu.
Sam yang sedang duduk di kursi ruang kerjanya berdiri. "What?."
Andre menyodorkan bungkusan itu. "Ini, lain kali jika membuka sesuatu jangan lupa untuk beres-beres jangan sampai ada yang tertinggal!."
Sam heran maksud Andre apa, ia pun membuka bungkusan itu. Tampak Sam terkejut matanya terlihat berbinar. "Oh Tuhan jimat keberuntunganku, dari mana kau menemukannya?."
__ADS_1
Andre menghela nafas berat ia sedikit kesal dengan sahabatnya. "Tante Renata yang pertama melihat, selebihnya jika ia bertanya jawab jujur saja jangan sampai aku yang dikira main."
"Ya ya sekarang pergilah!." Timpal Sam seraya balik badan meninggalkan Andre yang memijit pusing akan ulahnya.