
"Om tan!." Panggil Nesy yang datang menyusul.
Merry yang sedang berkecamuk dengan pikirannya ia menoleh. "Mana Nes gak ada Sam sama Naura? yang bener aja kamu."
"Sorry tan salah ucap bukan di halaman belakang tapi halaman samping." Timpal Nesy sengaja dengan ramah tampak meyakinkan.
Arga menjitak dahi Nesy. "Kamu ini, yasudah ayo kita ke sana ma."
Nesy dan Arga berjalan duluan sementara mama Merry di belakang, tatapan Merry masih tertuju pada kamar putrinya namun Merry memilih untuk tidak berpikir aneh-aneh.
Sesampainya di halaman samping terlihat Naura dan Sam bercengkrama dengan laptop di tangan masing-masing, Merry juga menggubris pikiran anehnya saat melihat Sam masih mengenakan jas yang sama.
"Sam ini data yang kamu minta jika ada sesuatu yang kurang hubungi saja om." Arga menyerahkan map itu.
Sam menerimanya. "Baik om terimakasih."
Arga maupun Merry menatap Sam dan Naura bergantian. "Sepertinya kalian menjalin kerjasama?."
"Iya ma memantau kemajuan proyek di Singapura." Balas Naura.
"Yasudah silahkan lanjutkan tampaknya serius." Timpal Merry sambil menggandeng suaminya untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Sam dan Naura menghela nafas lega di sini Nesy yang kelabakan.
"Aku sudah selesai mau istirahat, kalian lanjutkan." Ucap Nesy seraya pergi masuk ke dalam.
"Sampai kapan?." Tanya Sam yang tak tahan harus sembunyi-sembunyi. "Kamu pemberani apa yang ditakutkan aku bersamamu Ra."
Naura tak tahu harus menjawab apa. "Entah sampai kapan aku juga tak tahu."
"Berarti kamu tidak punya tujuan akan hubungan ini?."
"Enggak Sam, aku hanya belum punya waktu untuk bicara baik-baik dengan mereka berdua." Balas Naura agar tak membuat Sam overthinking.
"Aku sudah sangat ingin memilikimu seutuhnya dan kita bebas melakukan apapun bersama-sama."
Mata Sam terbuka lebar seolah tak percaya melihat wanitanya yang tegas ini menurunkan gengsi. "Yash girl mau dilanjut?." Timpal Sam sengaja ia gemas melihat Naura yang suka akan ulah liarnya.
Naura menggeleng menolak mentah-mentah. "No, aku akan memintanya sendiri jika mau merasakannya lagi. Bukankah aku sudah gila?."
"Aku lebih gila karena dirimu." Timpal Sam.
"Ah kau telah merubah diriku sampai sejauh ini." Ujar Naura yang merasakan perubahan pada dirinya.
__ADS_1
Sam tersenyum. "Aku berhasil mengejarmu dan jangan harap kamu bisa lepas Ra."
"Ck." Decak Naura namun pipinya merona.
Bukan memeriksa data proyek keduanya malah saling tatap menikmati keindahan masing-masing dengan rasa cinta yang sudah menyelimuti diri. Tak peduli rintangan ke depan bagaimana sepertinya keduanya siap untuk itu.
25 menit berlalu
Sam dan Naura masuk ke dalam rumah duduk kembali di kursi ruang tamu. Setelah selesai mengobrol dengan Merry juga Arga, Sam memilih pamit karena sudah malam.
Arga memberi kode kepada putrinya untuk mengantarkan Sam sampai halaman, Naura tak keberatan akan itu ia pun mengantarnya.
Sebelum masuk mobil Sam menatap wajah cantik Naura. "Bukan orang lain yang harus kamu percaya Ra, kita yang menjalin hubungan. Apa kau dengar? atau aku harus menghukum mu lagi?."
"Mau dihukum lagi, bagaimana dengan itu?." Sengaja Naura memancing.
Sam menggigit bibir bawahnya. "Jangan membangunkan hasratku nanti saja ya jangan menyiksa."
Naura terkekeh. "Iya-iya, pulanglah."
Sam mencium pipi Naura sekilas karena takut ketahuan, setelahnya ia masuk mobil dan berlalu pergi dari sana. Dengan perasaan yang sudah lega Naura kembali masuk ke dalam ia berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar Naura dikejutkan dengan sang mama yang sudah ada di sana berdiri menatap ke arahnya. "Mam?."
Merry menunjukkan jas hitam. "Kenapa jas Samuel bisa ada di kamar kamu!? dan kenapa jas yang tadi ia kenakan bisa sama persis dengan yang ini Naura!."