
Merry menunjukkan jas hitam. "Kenapa jas Samuel bisa ada di kamar kamu!? dan kenapa jas yang tadi ia kenakan bisa sama persis dengan yang ini Naura."
Naura menelan saliva ia menggigit bibir bawahnya. "Mam..."
"Jawab mama Ra!." Tegas Merry yang merasa jika ada sesuatu yang disembunyikan anak bungsunya itu. "Jika hanya rekan kerja ini jas kenapa sampai nyasar ke sini ini?."
Naura menghela nafas panjang sebelum berucap, mungkin ini waktunya walaupun ia sedikit tegang. "Sebenarnya aku dan Sam sudah menjalin hubungan hampir dua bulan."
Mata Merry terbelalak seolah tak percaya. "Menjalin hubungan!?."
"Iya, kita sepasang kekasih dan jas ini sama karena Sam pernah meminjamkannya."
Merry terduduk di atas kasur ia diam beberapa saat, melihat itu Naura merasa tak nyaman.
"Mama mau kan punya cucu dan aku cepat menikah?." Timpal Naura. "Reaksi seperti ini yang membuatku bungkam untuk mengatakannya."
"Naura..."
Naura duduk di samping sang mama, Merry menatap lekat wajah putrinya. "Jadi kekasih rahasia yang sering kamu bilang mencintainya itu Sam?."
"Iya."
"Ya Tuhan mama tidak pernah menyangka ini akan terjadi."
__ADS_1
"Mama tak setuju?." Tanya Naura memberanikan diri.
"Bukan tak setuju sayang mama hanya tak menyangka saja, tapi yang mama takutkan reaksi keluarga besar nanti mama takut mereka menganggap kamu aneh-aneh itu saja secara kan Sam mantan suami Giselle dan sekarang yang menjalin hubungan sama Sam kamu."
Naura peka pasti ujungnya akan mengarah ke sana. "Untuk sekarang hanya mama saja yang tahu hubungan ini, untuk ke depannya itu bagaimana nanti saja. Aku mohon ya ma gak tahu juga nanti bilangnya sama papa gimana."
"Itu biar jadi urusan mama." Balasnya. "Dengar Naura apa kamu benar-benar mencintai Sam?."
"Aku tidak mungkin buang-buang waktu hanya untuk hubungan palsu, tentu saja aku mencintainya ma." Balas Naura to the point.
"Ternyata benar firasat mama gelagat kalian terlihat mencurigakan, dan pria yang waktu itu di taman saat sore juga Sam?."
Naura mengangguk ia tersenyum kikuk.
"Aw mam!.."
"Oke silahkan lanjutkan mama sangat senang mendapati kamu membuka hati lagi sayang apalagi ini Samuel. Dan kemungkinan mama juga pasti secepatnya akan memiliki cucu."
"Bikin cucunya sekarang gimana ma?." Iseng Naura membuat mata mamanya mendelik.
"Nikah dulu eh!."
"Becanda mam."
__ADS_1
Setelah selesai puas bicara Merry keluar kamar membiarkan putrinya itu untuk istirahat, Naura sendiri tak henti-hentinya tersenyum ia senang mendapat restu dari Merry.
"Jantungku tadi hampir copot."
.
Rey mengacak-acak rambut basahnya seraya menghampiri seseorang di ruang tamu. "Aku sibuk mengurus pekerjaan tak sempat menjawab telepon mu."
"Tak masalah." Jawab Giselle yang sehabis pemotretan langsung menemui Rey di rumahnya.
"Ada apa?."
"Rey aku hamil." Langsung saja Giselle sambil menunjukkan tespack kepada pria itu.
Rey menatap tak percaya ia melihat tespack dengan seksama dan benar saja terdapat garis dua di sana. "Anak Sam?."
"Anak kamu lah!." Potong Giselle.
"What???."
"Ya, hal yang paling aku takutkan terjadi karena kamu saat itu mengeluarkannya di dalam. Namun aku tidak mungkin menggugurkannya karena anak ini akan ku jadikan alasan, jika kau tak mau tanggung jawab tak apa aku setuju biarkan nanti Sam yang menggantikan posisi ayah biologisnya." Ucap Giselle.
Rey tak langsung menjawab ia sendiri bimbang. "Itu tetap anakku, tapi tujuanku datang ke sini ingin mengejar kembali wanita yang ku cintai."
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan menutupinya, coba katakan siapa wanita itu? aku penasaran."