
Naura mengerutkan kening mendengar pengakuan Giselle yang tengah hamil anak dari kekasihnya Sam. "Mengandung?."
Giselle tersenyum puas melihat raut wajah Naura. "Ya! aku sengaja memberitahu dirimu terlebih dahulu karena di sini kau harus sadar diri, hanya orang ketiga yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah rumah tangga orang!."
Naura menatap tajam wajah Giselle. "Kau sebelumnya sangat tidak mau hamil, dan sekarang mengakui hamil lalu mengklaim itu anak Sam setelah kalian bercerai hampir 2 bulan? apa pendengaran ku salah?."
"Kau menuduhku hamil anak orang lain!?." Potong Giselle tak terima.
Dengan tenang Naura hanya mengangkat bahu menandakan ketidak tahuan. "Aku hanya berucap, selebihnya kamu sendiri yang tahu siapa ayah biologisnya bukan?."
Giselle mengepal tangannya kuat wanita di hadapannya ini sangat mengintimidasi dan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya menjebak.
"Kau pikir sendiri saja jika anak ini anak orang lain buat apa Naura? saat diriku masih bersama Sam saja orang yang ku cintai aku berpikir dua kali untuk hamil apalagi bersama orang lain." Potong Giselle tegas.
Naura tak langsung menjawab. "Logikanya begini saat bersama Sam kamu sama sekali tidak mau hamil dan sekarang setelah cerai kau tak terima lalu hamil, ini aneh untukku tapi selebihnya i don't care itu mungkin urusan kalian berdua jadi jangan bicara kepadaku Giselle!."
"Maka dari itu pergilah dari kehidupan Sam Naura aku tegaskan! mau jadi apa kamu jika masih ingin bersama Sam sedangkan Sam sendiri kembali padaku membangun rumah tangga!." Ujarnya.
"Ini hidupku hanya aku yang dapat mengendalikan." Dingin Naura, dirinya menahan emosi untuk tak percaya dulu dengan perkataan Giselle. "Apa masih ada lagi yang harus dibicarakan? aku banyak urusan."
__ADS_1
Giselle menatap tajam Naura. "Sudah ku bilang aku hanya ingin kau pergi dari kehidupan Sam dan jangan ikut campur dalam hubungan kita!."
"Aku tak bisa apa-apa saat Sam sendiri yang datang kepadaku, bagaimana?. Di sini kamu yang seharusnya sudah mengerti." Tegas Naura seraya berdiri. "Terimakasih, permisi."
Tanpa menunggu jawaban dari Giselle, Naura memilih pergi dengan perasaannya yang tak menentu meninggalkan keponakannya sendirian.
"Aaarrrgh!!." Pekik Giselle sambil menendang kursi restoran, semua orang yang ada di sana menoleh. "Apa lihat-lihat!?."
Para pengunjung restoran di sana bisik-bisik melihat kejadian itu, Giselle acuh tak peduli ia memijit pusing keningnya.
Ia rasa memengaruhi Naura akan sangat mudah, namun ternyata ia yang kewalahan tersulut emosi. Tujuan Giselle adalah jika Naura terpengaruh dan memilih pergi dari Sam, Sam sendiri tak bisa memaksa jika Naura yang menyerah karena ia masih belum selesai dengan masa lalunya.
"Bagaimana pun juga anak ini anak Sam dia yang harus jadi bapaknya bukan dia!." Tegas Giselle setelah itu ia berlalu pergi dari sana.
"Ini wajah pria yang bernama Rey itu." Andre menunjukkan sebuah foto pada Sam.
Sam menatapnya.
"Dan ini foto saat Naura dan Rey pacaran dulu." Andre memberikan hasil selidik berikutnya.
__ADS_1
"Jangan tunjukkan lagi itu di hadapanku!."
"Oke." Patuh Andre.
Sam mondar-mandir di ruangannya, sudah mau malam Naura tak menerima panggilan dari Sam bahkan handphone wanita itu tak aktif. "Ck! apa jadwalnya begitu padat? biasanya dia tidak seperti ini, ayolah aku merindukanmu.."
Andre kembali menghampiri Sam saat mendapat informasi. "Jadwal kekasihmu hari ini tidak terlalu padat dia bahkan sudah pulang sejak pukul 16:00 sore."
"Ini pukul 18:55 yang benar saja." Sergah Sam tak bisa menahan diri, ia meraih jas.
"Mau kemana?." Tanya Andre.
"Mendatangi langsung ke rumahnya."
"Bukankah Naura belum mengizinkan?."
"Aku tak peduli dan akan menghukumnya di sana!."
"Menghukumnya?."
__ADS_1
"Ini khusus area dewasa." Dingin Sam seraya pergi menghilang dari pandangan.
"Ya Tuhan."