
.......
Pagi pukul 06:35
Naura bangun dari tidurnya dengan pegal di sekujur tubuh, tangan kekar yang melingkar pada perutnya Naura angkat perlahan berharap Sam tak bangun.
"Oh ya tuhan." Lirihnya saat tubuh indah itu bak remuk akan adegan panas semalam.
Dengan tubuh yang masih telanjang Naura melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ia berendam di dalam bathtub dengan aroma terapi sehingga membuat tubuhnya rileks.
Sam meraba-raba bantal dan kasur di sampingnya namun nihil ia tidak menemukan sesuatu, Sam pun membuka mata dengan muka bantal yang tidak menutupi ketampanannya ia celingak-celinguk mencari keberadaan sang istri. "Kemana dia?."
"Sudah bangun?."
Sam menoleh pada sumber suara, pria itu terdiam melihat Naura yang hanya mengenakan handuk sepaha berjalan ke arahnya.
"Cepat bersihkan diri bukankah kita akan jalan-jalan?." Tampak antusias Naura.
Tidak ada jawaban dari Sam ia hanya menatap lekat Naura dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Handuk itu sangat berbahaya."
Naura menatap ke arah tubuhnya. "Berbahaya?."
Sam menyenderkan tubuhnya pada headboard kasur, tangan kekarnya menarik Naura hingga berbaring di bawah kungkungan-nya. Manik keduanya saling tatap, Sam tersenyum melihat bekas merah yang ia tinggalkan pada leher juga sekitar dada Naura.
"Kenapa mandi duluan?."
"Kau masih tidur aku tak mungkin mengganggu."
Cup..
Sam tak tahan untuk tak mencium bibir ranum Naura.
__ADS_1
"Sayang aku menginginkannya lagi bagaimana dengan itu?." Bisik Sam dengan tangannya yang sudah menyelundup masuk ke dalam handuk. "Aku berdiri lagi kau bisa memeriksanya."
Naura terkekeh sekilas. "Apa semalam tak cukup?."
"Kau juga suka bukan sayang? aku benar-benar tak bisa mengendalikan diri saat bersamamu." Timpal Sam seraya menyingkirkan selimutnya sehingga tampak jelas miliknya yang sudah berdiri tegak.
Naura tersipu malu ditambah tubuhnya yang mulai tegang akan sentuhan Sam pada area terlarang. Ciuman panas tak bisa dihindari lagi keduanya bertukar saliva penuh agresif, dengan satu tarikan Naura kembali telanjang bulat saat handuknya disingkirkan Sam.
D*sahan lembut kembali mengisi seluruh ruangan, tubuh Naura terguncang mereka kembali melakukan penyatuan panas di pagi hari penuh gairah.
"Aaaa... Aaaaaakkkh!." Erang keduanya saat mencapai puncak.
"Pelan Sam." Lirih Naura.
"Kamu yang meminta cepat sayang." Sam tersenyum seraya mengontrol ritme gerakan.
"Maksudnya jangan sampai terguncang seperti ini." Tersipu Naura.
"Iya." Sam tersenyum menghujani tubuh indah itu dengan ciuman dimana-mana.
.
Jakarta
Setelah selesai mewakili pekerjaan Naura di perusahaan, Nesy akhirnya bisa pulang untuk istirahat. "Kurasa mereka berdua sedang menggoyangkan ranjang."
Beberapa menit di perjalanan akhirnya Nesy sampai di rumahnya tidak jauh dari mansion Naura. "Selena mama pulang sayang." Ucapnya ketika masuk rumah.
Si bibi menghampiri. "Eh non sudah pulang?."
"Iya bi, Selena mana?."
__ADS_1
"Non Selena sama papanya."
"Apa!?." Nesy terkejut tanpa pikir panjang ia langsung melangkah mencari keberadaan putrinya.
"Aduh gimana ini?." Panik si bibi merasa bersalah. "Ah biarkan saja tuan juga kasihan ingin ketemu non Selen."
Nesy menaiki anak tangga berjalan menuju kamar putrinya lalu masuk ke dalam.
Terlihat di sana Andre sedang asyik menggendong Selena, melihat ada yang masuk Andre menoleh. "Hai."
Nesy tak menjawab ia menghampiri mereka berdua mengambil Selena dari Andre. "Ini putriku."
Andre mengembangkan senyum manisnya. "Ya, dia juga putriku."
"Papapapapapapap?." Oceh Selena yang ingin kembali pada pangkuan Andre.
Nesy menghela nafas ia pun kembali memberikan Selena pada Andre. Saat Nesy ingin berlalu dari sana Andre menahannya. "Mau kemana ha?."
"Mau mandi, ikut?."
"Boleh." Sengaja Andre dengan senyum penuh arti.
"Ayolah." Kesal Nesy.
"Bisakah kita seperti dulu lagi?." Mulai Andre dengan tatapan dalamnya.
Nesy tak menjawab. "Kalo ketemu anak pakek baju jangan kayak gitu." Nesy sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Tadi pakek karena Selena ngompol jadinya begini."
__ADS_1
Tanpa berucap lagi Nesy memilih pergi meninggalkan anak dan papa itu berduaan.
"Selen sama bibi dulu ya papa mau nyusul mama." Ucap Andre mengecup putrinya itu setelahnya ia serahkan pada si bibi.