
.
Dengan izin Naura Sam pun berangkat ke Jepang untuk menggantikan posisinya, mengapa Sam dapat mudah mengambil tindakan? karena perusahaan Naura juga sudah ia ambil alih mengingat istrinya tengah mengandung.
Di tempat lain.
Giselle dengan telaten mengurus putrinya yang sudah mandi itu, Rey masuk kamar dan melihat istri juga anaknya dari sofa.
"Tidak ke kantor?." Tanya Giselle.
"Jadwal hari ini kosong."
Giselle hanya manggut-manggut.
Setelah selesai diurus Giselle, Rey mengambil putrinya untuk dijemur di bawah sinar matahari pagi. "Aku ingin menemui keluarga Sam dan memulai perdamaian dengan mereka, sudah saatnya kamu juga memulai hubungan baik dengan Naura bagaimana pun juga kalian masih saudara."
Giselle terdiam tak langsung menjawab. "Aku malu untuk sekedar bertemu dengan Naura." Mengingat tingkahnya di masa lalu Giselle ingin menghilang saja.
"Kapan kalau begitu? di nanti-nanti tidak ada ujungnya, sudah mau 10 bulan kau tak bertegur sapa dengan mereka, sudah saatnya." Lanjut Rey sambil mengecup wajah imut putrinya.
Apa yang diucapkan Rey ada benarnya. "Betapa jengkelnya nanti Naura menatap wajahku ini." Giselle pasrah.
Rey menggenggam tangan Giselle. "Apapun reaksi mereka, tenanglah ada aku kita tidak mungkin selamanya seperti ini lepaskanlah seluruh lara dalam diri."
Giselle mengangguk perlahan. "Baiklah, aku akan belanja sesuatu dulu untuk Naura rasanya sangat tak nyaman datang ke sana dengan tangan kosong."
"Tak usah sendiri aku ikut mengantar." Timpal Rey seraya meraih kunci mobil.
__ADS_1
Giselle mengambil putrinya dari pangkuan Rey, setelah bersiap-siap keduanya masuk mobil untuk membeli sesuatu.
.
.
3 hari berlalu...
Di sebuah ruangan.
"Aaahh... S-Sammh pelan-pelan!..." Erang Naura saat Sam memaju mundurkan miliknya.
"Terlalu cepat sayang?." Balas Sam seraya memperlambat ritme penyatuan. "Sorry papa tak tahan sayang." Lirihnya pada perut bunting Naura.
Naura hanya tersipu malu sambil meremas kuat rambut Sam, dengan gerakan yang lembut Sam menggerayangi tubuh sexy istrinya itu penuh nafsu.
"Ini dapat mempermudah proses lahiran nanti." Bisik Sam yang sudah bertanya-tanya pada dokter.
Sam tersenyum penuh maksud, tanpa menjawab ia melahap rakus bibir Naura mencumbunya dengan penuh kelembutan.
Melihat Naura hendak mencapai puncak Sam mempercepat ritmenya dengan lembut untuk menyusul hingga akhirnya. "Aa-aaaakkkh!..." Erang keduanya bersamaan.
Sam mencabut miliknya setelah puas melakukan hingga ronde ke 4, tubuh Naura ia tutupi dengan selimut. Sam beralih memeluk erat istrinya yang masih ngos-ngosan dari belakang. "Terimakasih sayang." Lirih Sam tak henti mengecup lembut punggung mulus Naura.
"Puas?."
"Sangat puas, mengobati kerinduanku selama di Jepang."
__ADS_1
"Kau benar-benar liar padahal aku sudah hamil besar."
Sam terkekeh. "Kau semakin cantik sayang aku mana tahan."
"Apa hari-hari biasa aku tak cantik?."
"Tentu saja sangat cantik, namun setelah mengandung ada aura tersendiri yang terpancar kau mungkin tak menyadarinya sayang tapi aku tahu itu." Balas Sam.
Naura tersenyum sekilas.
Tangan kekar Sam beralih mengelus perut Naura. "Jangan menyiksa mama ya keluarnya harus lembut nanti papa kasih hadiah mobil."
Perut Naura tampak bergerak membuat keduanya tertawa kecil melihat itu. "Tau aja kamu hadiah menggiurkan nak." Lirih Naura.
Sam tersenyum bahagia ini yang diinginkannya dari dulu, mendekati hari persalinan Sam akan terus menemani dan menjaga istri tercintanya.
"Sayang mau lagi." Bisik Sam.
"Mau ku tendang dari lantai dua!?." Sewot Naura. "Aku lelah."
Samuel terkekeh. "Aku hanya becanda, tidak mungkin menagihnya lagi." Sam puas melihat wajah marah istrinya yang tampak begitu cantik menggemaskan.
"Haish kamu ini."
Sam mengeratkan pelukannya. "Sudah ayo sekarang kita tidur."
"Iya."
__ADS_1
.
Tinggalkan jejaknya ya sebagai dukungan buat othor. Like, rate, serta beri komentar di bawah!..🤗