
.
Melihat mamanya ada di rumah Sam langsung mencium tangannya. "Dari kapan mam?."
"Belum lama, mama sengaja mampir ke rumah kamu habis dari perusahaan papa." Balas Renata. "Tapi karena ada urusan, papa langsung pulang terlebih dahulu."
Sam manggut-manggut. "Tunggu sebentar ma."
Renata mengerutkan kening saat melihat putranya membawa bunga dan juga beberapa kotak hadiah branded, dan Sam memberikan itu kepada bibi pembantunya. Tentunya Renata mengerutkan kening, apa dia tidak melihat keberadaannya di sini?."
"Apa itu?." Tanya Renata heran. "Sam kamu sengaja beli hadiah buat bibi? pakai bunga itu maksudnya apa? hadiah buat mama mana gak disisain?."
Sam sadar ia terkekeh sekilas. "Mama kalo mau hadiah akan ku belikan yang lebih bagus, itu yang kubawa bukan aku yang beli."
"Maksudnya?."
"Ada seorang pria lancang yang berani memberikan hadiah itu kepada kekasihku, aku tak terima dengan itu ma mending kasih aja sama si bibi." Lanjut Sam dengan raut wajah masih kesal.
Renata tersenyum. "Putra mama posesif sekali, kapan donk kamu bawa Naura ke rumah? mama nunggu banget nih."
"Ada sesuatu yang harus ku lakukan dulu ma sebelum semua orang tahu jika wanita itu milikku."
"Bagaimana dengan orang tuanya Arga dan Merry? apa mereka akan menerima jika calon mantu mereka seorang duda?." Lanjut Renata.
__ADS_1
Sam tak langsung menjawab. "Aku berharap semuanya akan berjalan lancar ma, tapi kurasa tidak ada yang bisa menolakku."
"Haish." Timpal Renata sambil menyunggingkan senyum tipis. "Anakku ini memang ya."
.
.
Ruang keluarga
"Jadi itu benar!?." Ucap Arga.
Naura mengangguk. "Sebelum Sam yang bicara langsung, aku ingin memberi tahu papa terlebih dulu."
"Mama kenapa gak bilang sama papa jika sudah mengetahuinya?." Balik tanya Arga kepada Merry.
Arga diam, di ruangan itu seketika hening tidak ada yang bersuara pikirannya bercabang. Hubungannya dengan Maria adik kandung sudah tak sedekat dulu, dan sekarang Naura menjalin hubungan dengan Sam? Arga frustasi juga takut jika anak bungsunya dicap pelakor. "Bagaimana jika papa tak setuju?."
Naura terkejut apalagi Merry.
"Seumur hidup aku mungkin tidak akan pernah menikah." Timpal Naura yang sudah sejauh ini mulai menerima hadirnya Sam. "Sulit bagi diriku untuk jatuh cinta pah, mungkin jika bukan karena Sam aku masih berpegang teguh pada prinsip gila itu."
"Pah apa yang kau bicarakan!?." Bisik Merry memberi kode.
__ADS_1
"Papa suka sangat suka dengan Sam tidak masalah jika dia juga menjadi kekasih dari putri papa, tapi untuk menikah papa tidak merestui Naura. Banyak pertimbangan yang membuat papa mengambil keputusan ini."
"Pah!???." Timpal Merry lagi yang tak setuju dengan suaminya.
Naura terdiam ia tak pernah menyangka jika akan mendapat reaksi seperti ini. "Bagaimana aku akan memberikan cucu untuk kalian? jika menikah saja sekarang dilarang."
"Bukan melarang Naura, kamu boleh menikah asal jangan dengan Sam." Timpal Arga.
"Hanya karena Sam pernah menjadi istri dari anak adik papa? sehingga takut semua orang tahu dan reputasi ku hancur?." Potong Naura.
"Itu salah satunya papa takut kam...
"Gak! mungkin aku akan memegang prinsip gila itu kembali." Ujar Naura tegas.
"Bagaimana dengan cucu yang kami harapkan lahir dari kamu sayang?." Timpal Merry.
"Jika tidak bisa menikah aku akan membuatnya di luar nikah, itu sangat gampang jika aku sudah berkehendak."
"Naura!." Bentak Arga. "Itu lebih memalukan ingat posisi kamu saat ini! tidak mudah untuk mencapainya apa kau akan melupakan itu?."
"Papa juga di sini egois, aku heran sama papa!." Lantang Naura. "Papa yang menginginkan aku untuk membuka hati, papa juga sangat menyukai Sam, dan kini papa juga melarang aku untuk menikah. Dengan lancarnya menginginkan sosok cucu? apa itu masuk akal?."
"Aku ingin istirahat." Lanjut Naura seraya pergi ia benar-benar frustasi.
__ADS_1
"Naura dengarkan papa dulu!.." Panggil Arga yang tak digubris, ia beralih menatap istrinya yang dimana Merry sendiri mendelik menatap tajam kepada suaminya itu.
"Pilih saja adik kesayanganmu itu dari pada anak sendiri!." Kecam Merry seraya bergegas pergi.