
“Pada hal ini ranjang keluaran terbaru, tapi kok enggak enak gini ya buat di tidur?” meski tak suka namun Dia tak punya ranjang lain untuk di tiduri malam itu.
🏵️
Reza yang sedang sarapan menatap lekat ibunya.
Karena ibunya tak pernah memasak selama ini, kini malah sibuk mengolah dapur.
Apa mungkin ini karena aku menghilang selama 3 minggu, makanya ibu rajin memasak untuk ku? batin Reza.
Ia sangat senang dengan perubahan sang ibu yang kini perhatian padanya.
“Makan yang banyak ya nak, kau perlu banyak nutrisi untuk mengembalikan berat badan mu,” ujar Wika.
“Iya bu, terimakasih banyak.” Reza pun memakan nasi goreng buatan ibunya.
“Hum... enak bu.” Reza tak menyangka kalau ibunya pandai memasak.
“Benarkah? Kalau begitu kau harus menghabiskan semuanya.” Wika mengelus puncak kepala putranya.
Reza begitu bahagia dengan perhatian yang ia dapat dari ibunya.
Setelah selesai sarapan Reza pun pamit pada ibunya.
“Bu, aku mau ke kamar dulu,” ucap Reza.
“Iya nak, jangan lupa untuk tidur.” ucap Wika pada putra sulungnya.
“Iya bu.” Reza pun beranjak menuju kamarnya.
Sesampainya dalam kamar, Reza mengambil handphonenya yang terletak di atas meja.
“Kok enggak ada jaringan sih?” Reza merasa heran, sebab selama ini nomor seluler yang ia gunakan jaringannya selalu banyak, apa lagi di rumahnya.
Reza menggaruk kepalanya, “Kalau gini sih, aku enggak bisa teleponan sama yang lain.” Reza yang ingin membahas soal Ali dengan teman-temannya terpaksa menundanya.
“Besok saja deh di kampus,” gumam Reza.
Ia pun kembali istirahat karena masih merasa lelah.
🏵️
Angga yang sedang tidur lelap dalam kamarnya bermimpi pada Meli.
“Tolong aku! Angga, tolong aku, jangan tinggalkan aku! Hiks!!” Angga melihat Meli terikat di pohon dengan rantai yang sangat besar.
Air mata Meli menyiratkan ketakutan yang luar biasa.
“Meli! Apa yang terjadi!” Angga ingin melepas rantai yang melilit di tubuh Meli, namun sayang, tubuh Angga malah tembus, tak dapat memegang rantai yang menjadi penghalang Meli pergi dari tempat gelap gulita itu.
__ADS_1
“Meli! Apa yang harus ku lakukan?” Angga terus bicara pada Meli, tapi Meli seperti tak mendengar dan melihatnya, sebab Meli hanya terus menerus minta tolong.
“Siapa saja! Tolong aku!!! Aku enggak mau disini!? Hiks!!!” Meli menangis sesungukan.
Tak berapa lama, Asrita keluar dari batang pohon yang mengikat Meli.
“Ih hihihihi... tidak akan ada yang bisa menolong kalian, hahaha!!! Kualat!” ucap Asrita.
Asrita yang yang memiliki rambut panjang sampai ke tanah, serta memakai baju serba hitam, menambah kesan seram di hati Angga yang baru pertama kali melihatnya.
“Ih hihihihi!! Kau pikir sudah aman? Hum???!” Asrita menoleh ke arah Angga.
Angga yang mendapat tatapan menyeramkan dari Asrita langsung bangun dari tidurnya.
“Ada apa ini? Kenapa aku bermimpi buruk seperti itu? Bukannya kami semua sudah sama-sama pulang?” Angga memijat pelipisnya yang terasa sakit.
Otaknya tak henti-hentinya berpikir mengenai arti mimpi yang baru saja ia alami.
Kemudian Angga menyeka keringat dingin yang ada di dahinya.
“Ya Tuhan, tolong beri hamba petunjuk, agar menemukan jalan yang benar.” Angga berdo'a pada sang pencipta.
Karena bagaimana pun juga, ia merasa mimpi yang baru ia alami bukan mimpi biasa.
Ketika Angga ingin memejamkan matanya kembali.
Ia pun mendengar seseorang dari balik jendela kamarnya menangis sesungukan seraya memanggil-manggil namanya.
Meski penasaran dengan sosok yang memanggil namanya namun Angga tak berani untuk memeriksa siapa gerangan yang ada di balik jendela kamarnya.
“Angga!! Angga! Jawablah, ibu sangat merindukan mu!” wanita tua dari balik jendela kamarnya berkata rindu padanya.
Sedang hati Angga tersentak saat mendengar kata ibu.
“Ibu?” ia yang makin penasaran bangkit dari tidurnya.
Meski takut, tapi Angga yang ingin tahu siapa seseorang yang mencarinya itu pun akhirnya memberanikan diri untuk memeriksanya.
Saat Angga telah ada di depan jendela, tiba-tiba Alia membuka pintu kamar Angga.
“Nak, makan malam sudah siap, ayo kita makan dulu,” ujar Alia.
Angga yang ingin membuka jendela mengurungkan niatnya.
Ia pun mengikuti ibunya ke dapur untuk makan malam bersama ayahnya.
Angga yang duduk di bangku meja makan tiba-tiba teringat akan pintu kamarnya .
Bukannya tadi aku mengunci kamar ku? batin Angga.
__ADS_1
Ia pun menatap lekat wajah ibunya yang selalu tersenyum pada ibu dan ayahnya.
Ibu sudah berubah, biasanya lebih sering cemberut dari pada tersenyum, batin Angga.
Angga tak hentinya melihat ibunya yang terlihat lebih cantik setelah sebulan tak bertemu dengannya.
Keesokan harinya, Angga yang bangun subuh berniat untuk sholat.
Ia pun bangun dari tidurnya, dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah 15 menit dalam kamar mandi, Angga pun keluar, kemudian Angga memakai pakaian sholatnya.
Ia yang ingin beribadah pada Ilahi menuju mushollah kecil yang ada di dalam rumahnya.
Saat ia akan sholat, ibunya datang dengan tatapan marah.
“Kau sedang apa?” tanya Alia.
“Sholat, apa ibu mau berjamaah dengan ku?” Angga mengajak ibunya sholat bersama.
“Tidak!” setelah itu Alia beranjak pergi.
Setelah Alia luput dari mata Angga, tiba-tiba lampu di dalam rumah itu mati total, suasana gelap gulita menyulitkan Angga untuk mencapai mushollah yang tak jauh darinya.
Angga pun berusaha untuk tetap berjalan, namun matanya yang tak bisa melihat apapun malah menabrak sesuatu, hingga ia terduduk
“Aduh!” Angga pun memijat ringan bokongnya yang terasa sakit. Lalu ia meraba apa yang ada di hadapannya.
“Tanah?” Angga terus meraba, maju mundur, lalu dari sisi kanan ke kiri.
Deg!
“Bukankah ini makam?” jantung Angga berdetak dengan sangat kencang.
Ia pun mundur perlahan dari tempat ia duduk. Ia merasa tempat ia sekarang berada bukanlah rumahnya.
Angga yang ingin mendapat petunjuk serta pertolongan dari sang pencipta, berdiri dan melakukan sholat subuh dengan sangat khusuk.
Pada rakaat pertama tidak terjadi apapun, setelah rakaat kedua.nAngga pun mulai mendapat gangguan, di belakang Angga muncul sosok yang mengikuti bacaan sholatnya.
Siapa itu? batin Angga.
Meski takut menyelimuti dirinya, tapi Angga terus melanjutkan sholatnya.
Angga yang ingin rukuk tiba-tiba mencium bau busuk yang membuat siapapun yang menciumnya ingin muntah.
“Berhentilah! Karena Tuhan mu tidak akan mampu untuk menyelamatkan mu!!” sosok yang tak di ketahui wujudnya seperti apa bicara tepat di hadapan wajah Angga.
Nafas sosok itu begitu amis, Angga yang mual dan mau muntah ingin berhenti sholat.
__ADS_1
Tapi kalau aku melakukannya, aku tidak akan bisa dapat petunjuk, tolong aku ya Allah, aku ingin lepas dari hal-hal yang akan menyesatkan dan juga mencelakai ku, batin Angga.
...Bersambung......