
Sesampainya Delima di rumah, ia pun teringat akan Sarah yang ada dalam brangkas.
“Apa raja Garaga sudah memakan jasadnya, Sarah?” Delima yakin jika sang raja telah datang.
Karena 5 jam setelah si korban meninggal Garaga akan memakan korban tersebut.
Meski Delima sangat penasaran dengan keadaan Sarah, namun ia tak ingin membuka brangkasnya saat itu.
Kemudian Delima yang lapar memutuskan untuk ke dapur untuk makan.
Ia pun mengambil nasi dan lauknya, selanjutnya Delima menyantap makanan yang ada di piringnya.
Saat ia sedang asyik mengunyah makanannya, ia pun teringat akan Angga, senyumnya kian melebar, karena Angga yang ia cari kini telah ketemu.
“Mana mungkin kau menolak aku yang telah cantik, bahkan aku lebih cantik dari gadis-gadis yang ada di negara ini, hehehe...” Wajah Delima yang bersahaja tiada dua membuatnya makin percaya diri.
Ia pun berencana berkunjung ke rumah Angga setelah matahari terbenam.
🏵️
Di istana raja Garaga, banyak petinggi kerajaan yang ingin bertemu dengannya, namun Garaga yang belum bisa berubah jadi ular tak dapat menemui orang-orang besarnya itu.
“Dewi! Temui mereka, katakan aku lagi tak ada di istana,” titah Garaga.
“Baik paduka,” Dewi menundukkan kepalanya.
“Oh ya, bagaimana kabar paman mu? Apa dia sudah berangkat kesini?” tanya Garaga.
“Paman Bima masih ada urusan yang lain paduka, kata paman paduka harus bersabar, karena setelah ia menyelesaikan pekerjaannya, dia akan datang kemari.” Dewi menyampaikan pesan pamannya.
“Baiklah kalau begitu, dan untuk saat ini tolong gantikan aku di singgah sana ku.” Garaga yang lemah tak dapat menampakkan diri.
“Baik paduka, saya akan kesana sekarang.” Dewi pun beranjak menuju singgah sana suaminya.
Setelah Dewi pergi ia pun teringat akan tumbal yang harus ia makan hari itu juga.
“Astaga, kenapa aku jadi lupa?” Garaga yang butuh energi baru segera berangkat dengan para pengawalnya.
Ia yang biasa pergi sendiri kini harus di kawal, ia pun berangkat dengan menaiki kereta kuda.
🏵️
Malam harinya, Delima yang telah bersolek melihat dirinya di depan kaca.
“Cantik.” gumamnya, ia sangat mengagumi dirinya yang sekarang.
Puas dengan hasil make up di wajahnya, Delima pun mengambil tas bermerek serta sepatu dengan harga fantastis, itu semua ia beri untuk orang tua Angga.
Setelah itu Delima menuju mobil yang terparkir di depan rumahnya.
“Semoga saja orang tua Angga mau menerima ku.” Delima yang bersemangat segera menginjak gas mobilnya.
__ADS_1
Bremm!!!
Ia pun melaju membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.
Sesampainya di depan rumah Angga, Delima turun dengan membawa oleh-oleh di tangan kiri dan kanannya.
Pintu yang terbuka memudahkan Delima untuk mengucap salam.
“Assalamu'alaikum, permisi!” Delima mengucap salam.
Alia yang ada di ruang tamu mendengar suara Delima.
“Siapa ya?” Alia pun bangkit dari duduknya, kemudian menuju pintu.
Melihat wajah Delima yang tak ia kenali membuat Alia mengernyitkan dahinya.
“Anak ini siapa ya?” tanya Alia dengan penasaran penuh, karena seorang gadis cantik datang bertamu malam-malam ke rumahnya.
“Saya Delima tante, teman akrabnya Angga sewaktu SMA.” Delima pun menjabat tangan Alia.
“Oh...” Alia menganggukkan kepalanya, matanya tak berhenti menatap Delima, karena kecantikan Delima seolah menyihir siapapun yang melihatnya.
“Angga ada enggak tan?” tanya Delima.
“Ada, silahkan masuk.” Alia mempersilahkan Delima untuk masuk ke dalam rumahnya.
Delima yang baru menginjakan kakinya ke dalam rumah Angga tiba-tiba merasakan panas yang luar biasa, kulitnya pun terasa perih, meski merasa kesakitan, tapi tekat untuk memiliki Angga begitu kuat.
Hingga Delima menahan segala apa yang ia rasakan.
“Terimaksih banyak tante.” Alia pun mendaratkan bokongnya di sofa yang di tunjuk oleh Alia.
“Tunggu sebentar, tante panggil Angga dulu ya.” Alia pun meninggalkan Delima menuju kamar Angga.
Dia yang baru pulang kerja melihat sepatu hak tinggi di tangga teras.
“Punya siapa?” hatinya bertanya-tanya karena baru pertama kali melihat sepatu indah tersebut.
Lalu Dia masuk ke dalam rumah, ia pun terkejut saat melihat Delima telah duduk di ruang tamu.
“Kau membuntuti kami ya kemarin?” Dia tahu jika Delima mengikuti mereka kemarin.
“Iya, karena kebetulan rumah ku sejurus dengan rumah Angga.” Delima tertawa lepas pada Dia. Hingga membuat Dia marah dan juga emosi.
“Perempuan gatal!” Dia yang bicara asal tanpa penyaring membuat Delima naik pitam.
“Hei! Kau sendiri ngapain disini?” tanya Delima dengan wajah sinis.
“Akukan tinggal disini!” pekik Dia.
“Oh... ternyata cuma numpang.” Delima menyunggingkan bibirnya.
__ADS_1
“Tapi aku calon istri Angga, jadi jangan macan-macam!” Dia memelototi Delima.
Delima yang ingin membalas perkataan Dia harus terhenti, karena Angga dan Alia datang ke ruang tamu.
“Delima?” Angga mengernyitkan dahinya karena Delima tahu alamat rumahnya.
“Hai Angga, apa kabar?” Delima bangkit dari duduknya dan menjabat tangan Angga.
“Aku baik.” Angga pun menerima jabatan tangan Delima dengan perasaan takut, karena Dia memberi tatapan mata tajam padanya.
“Dia, kau sedang apa? Ganti baju dulu sana, terus makan,” ucap Alia.
“Iya tante.” Dia pun beranjak menuju kamarnya.
Kemudian Alia dan Angga pun duduk di sofa begitu pula dengan Delima.
“Tahu dari mana alamat ku?” tanya Angga penuh selidik.
“Aku mengikuti mu kemarin, habis adik mu galak banget, maklumlah Ngga, kitakan dulu solid banget, masa sekali ketemu enggak bertegur sapa.” Delima yang ceria membuat suasana rumah berwarna.
“Iya, kau benar juga sih.” Angga setuju dengan yang Delima katakan.
“Oh ya, ini ada sedikit oleh-oleh tante.” Delima memberikan 2 tas belanjaan pada Alia.
“Apa ini?” tanya Alia dengan senyum sumringah.
“Hanya hadiah kecil tante,” sahut Delima.
“Harusnya kau enggak perlu repot-repot Delima.” Angga tidak enak dengan sahabatnya yang datang membawa hadiah.
“Tidak apa-apa, lagi pula aku senang membawakan ini untuk om dan tante,” ucap Delima.
Saat Alia membuka tas pemberian Delima matanya langsung berbinar, karena hadiah pemberian Delima adalah barang-barang yang di sukai kaum wanita.
“Delima, inikan harganya mahal.” Alia senang dengan hadiah yang di berikan Delima.
“Bukan seberapa tante.” Delima merasa dapat lampu hijau dari senyum dan ekspresi Alia saat membuka hadiah darinya.
“Memang itu harganya berapa bu?” tanya Angga.
“Paling murah 80 juta, yang ini sepertinya 200 juta,” ujar Alia.
“Apa?” Angga menatap tak percaya pada Delima, karena ia tahu sendiri, dulu Delima adalah anak orang tak mampu. Delima juga sering menunggak uang sekolah di jaman mereka masih sekolah.
“Jangan ambil bu.” Angga tidak mengizinkan ibunya untuk menerima hadiah itu. Menurutnya itu terlalu mahal.
“Iya, kau benar juga nak.” meski merasa sayang harus mengembalikan, tapi Alia setuju dengan pendapat putranya.
“Enggak apa-apa tante, aku ikhlas kok memberikannya.” Delima merasa jengkel karena Angga dan ibunya menolak pemberiannya.
“Terlalu mahal, lebih baik kau beri pada ibu mu.” Angga tetap tak mau menerima hadiah dari Delima.
__ADS_1
Wajah Delima menjadi merah padam. Sedang Dia yang melihat hal itu merasa senang, karena kekasihnya bukanlah lelaki yang gila harta.
...Bersambung......