
Sementara di kamar pengantin, jasad Sarah di hias agar terlihat cantik.
“Mau kau apakan ratu mu paduka?” tanya Dewi dengan penasaran penuh.
“Akan ku persembahkan untuk anak-anak ku, bagaimana pun ini adalah ibu mereka.” Garaga berencana membuat Sarah sebagai sajian makan malam anak-anaknya.
“Baiklah, aku mengerti.” Dewi yang biasa menyaksikan peristiwa itu merasa biasa saja.
Setelah Sarah selesai di rias, jasadnya pun di bawa menuju meja makan keluarga.
Di sana telah ada anak-anak Sarah dengan penuh isak tangis.
“Jangan bersedih, kini kalian akan selalu bersama dengan ibu kalian selamanya, semangat anak-anak ku, karena kalian adalah penerus kerjaan ayah dan ibu kalian.” Garaga menggenggan tangan Dewi.
“Iya, ayah kalian benar, untuk itu kalian harus menghabiskan daging ibu kalian.” Dewi tersenyum pada sembilan anak Sarah yang kini telah jadi remaja.
Kemudian anak-anak Sarah yang mendapat perintah langsung menyantap Sarah dengan lahap.
🏵️
Angga yang baru selesai makan malam kembali ke kamarnya.
Ia pun duduk di atas ranjang untuk menunggu nasi yang ada di perutnya turun.
Angga yang tak tahu melakukan apa mengambil handphonenya yang ada di saku bajunya.
“Besok minggu, enaknya kemana ya?” Angga yang ingin jalan-jalan dengan Dia esok hari memutuskan untuk melihat tempat makan yang cocok di internet.
“Oh iya, apa kabar Delima ya?” ia pun tiba-tiba kepikiran dengan teman lamanya.
”Ku harap dia cepat sadar dan tak mengikuti iblis laknat itu lagi.” Angga yang ngantuk pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Ia pun memejamkan matanya karena kantuk yang tidak tertahankan.
“Hei, bangun!”
Suara seorang laki-laki yang terdengar berwibawa membuat Angga membuka matanya.
“Kau siapa?” tanya Angga pada laki-laki tampan lengkap dengan sorban dan pakaian putihnya.
“Aku kakek buyut mu, Rahman.” Rahman kali itu datang dengan wajah masa mudanya.
“Kakek ku?” Angga menatap tak percaya karena lelaki yang ada di hadapannya sangat tampan dan terlihat seperti lelaki usia 20 tahun.
“Jangan banyak berpikir, ayo ikut kakek, nak.” Rahman mengulurkan tangannya pada cucunya.
“Kemana kek?” tanya Angga penasaran.
“Ke gunung keramat itu,” ujar Rahman.
“Untuk apa kek? Aku tak mau kesana lagi!” Angga menolak, karena ia masih ingat betul kemalangan yang ia alami selama disana.
“Bukan hanya kau, tapi ada mereka juga.” Rahman menunjuk ke arah pintu masuk kamar Angga.
__ADS_1
Angga pun melihat sudah ada Dia, Reza dan Fatir.
“Katakan dulu kek, tujuan kita kesana untuk apa.” Angga terus mengulur waktu agar tak jadi kesana.
“Menjemput barang-barang kalian yang masih tertinggal,” ucap Rahman.
“Apa?” Angga mengernyitkan dahinya.
“Iya, bukankah kalian turun tanpa membawa apapun? Harusnya gunung itu sudah tak bisa mencari korban, namun kalian sendirilah yang menjembatani mereka untuk datang kesini,” terang Rahman.
Angga pun baru menyadari, jika orang-orang terdekatnya lah yang selalu jadi korban gunung itu.
“Baiklah, kita pergi sekarang!” Angga setuju ikut karena ia takut jika ayah ibunya yang akan jadi target selanjutnya.
“Ayo berangkat.” Rahman pun mengarahkan ke empat anak muda yang ada di hadapannya untuk saling berpegangan tangan.
“Jangan lupa zikir yang khusuk!” titah Rahman.
Kemudian Rahman mengucapkan beberapa ayat yang tak di mengerti Angga dan kawan-kawan, dalam sekedip mata mereka semua telah sampai di gunung keramat itu.
Perasaan khawatir, cemas, dan takut bercampur jadi satu.
Mereka semua tak suka melihat kuburan keramat nisannya tak di tutupi kain hijau lagi.
“Kita akan bagi tugas, kalian semua cari barang-barang kalian yang tertinggal, sementara kakek dan Fatir akan menutup nisan-nisan ini kembali, ingat ana-anak, kalian harus kembali sebelum fajar, karena jika tidak, yang terlambat datang kemari akan menetap disini selamanya!” mendengar rentang waktu yang begitu singkat membuat Angga, Dia dan Reza jadi panik.
“Berapa jam lagi sebelum Fajar?” tanya Reza.
Mereka semua menelan salivanya masing-masing.
“Ayo kita cari sekarang!” Dia pun menggenggan tangan Angga.
Karena seingatnya mereka terakhir pakai tas waktu di Sabanah.
“Ayo ke Sabanah itu lagi!” ucap Dia.
“Bagaimana caranya?” tanya Angga, karena ia sendiri tak tahu jalan kesana.
“Ini!” Dia menunjukkan bulu burung jalak yang sempat menolong mereka.
“Kau menyimpannya?” ucap Angga.
“Enggak sengaja.” ungkap Dia dengan penuh ragu.
“Ya sudahlah, terus gimana caranya kita bertemu dengan burung itu?” tanya Angga.
“Aku juga enggak tahu, semoga saja dia datang sekarang juga.” Dia berharap kalau burung jalak baik hati itu kembali lagi.
Saat Dia dan Angga masih memikirkan cara bertemu dengan burung itu, tiba-tiba si burung jalak datang dengan sendirinya ke hadapan mereka.
“Angga, itu Dia burungnya!” Dia menunjuk ke arah si burung.
“Oh iya! Kau benar!” Angga dan Dia pun mendekat.
__ADS_1
“Hei, burung baik hati, tolong tunjukkan kami jalan ke Sabanah.” pinta Angga dengan tulus.
“Baiklah,” sahut si burung jalak.
Dia dan Angga melihat satu sama lain, karena burung itu bicara pada mereka.
“Terimakasih banyak burung, kami harus cepat, bisakah kau terbang agak cepat?” pinta Dia.
“Tentu saja, Dia.” sahut si burung seraya mulai terbang menunjukkan jalan.
“Dari mana kau tahu namanya ku?” tanya Dia dengan berlari mengikuti si burung jalak.
“Aku Rita, aku di kutuk menjadi burung jalak setelah istana nyai Putri Candra Wati runtuh, yang kemarin menemani perjalanan kalian adalah ibu ku,” ujar Rita.
“Kau serius?” Dia tak percaya jika jalak itu adalah sahabat lamanya.
“Iya, maafkan aku dan buyut ku karena telah mencelakai kalian, aku menyesal sudah terpengaruh olehnya.” Rita mewakili Asrita untuk memohon maaf pada teman-temannya.
“Tidak mungkin di maafkan, apa lagi nenek mu masih beraksi!” ujar Angga.
“Tidak, dia sudah di musnahkan bersama nyai Putri,” terang Rita.
“Benarkah?” Angga ragu dengan pernyataan Rita
“Iya, benar! Oh ya, kita sudah sampai.” Rita berhenti di sebuah perbatasan antara hutan dan sabanah.
“Disini?” Dia merasa mereka belum terlalu jauh lari.
“Iya, cepatlah! Karena para tuyul sedang menuju kesana untuk mengambil tas mu.” ujar Rita.
“Baiklah, kami akan berangkat sekarang,” ucap Dia.
“Bukan kalian, tapi kau sendiri.” Rita menyuruh Dia sendiri yang ke tempat itu.
“Apa? Kok sendiri?” Dia takut jika harus kesana seorang diri.
“Karena Angga meninggalkan tasnya di rumah calon istrinya Purwati,” ungkap Rita.
Deg!
Jantung Angga berdetak dengan kencang, karena ia tak dapat membayangkan kalau harus bertemu Purwati dan neneknya kembali.
“Bergegaslah, karena kalian sudah banyak membuang waktu.” Rita mendesak Dia dan Angga untuk segera ke tujuannya masing-masing.
“Dia, hati-hati di jalan.” Angga memeluk Dia, Setelah itu Angga dan Rita pun menuju rumah Purwati.
Dia yang di tinggal sendiri di malam terang bulan merasa deg degan.
Deg deg deg!
Kakinya pun terus melangkah dengan mata mengawasi kesana kemari.
...Bersambung......
__ADS_1