Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Panggilan Dari Alam Lain (Di Sesatkan)


__ADS_3

“Baiklah,” sahut Ratih.


Ia pun masuk ke dalam kolong untuk memberi asi pada tuyul nakal itu.


Fatir yang melihat kekasihnya masuk ke bawah ranjang berpikir jika batu itu ada di bawah sana.


“Ratih, biar aku yang ambil!” ucap Fatir.


“Tidak, biar aku saja sayang.” Ratih tetap memaksakan diri.


Fatir yang buru-buru pun menggeser ranjang Ratih dari arah berlawanan.


Setelah itu Fatir mengarahkan cahaya Senternya ke arah lantai.


Sontak mata Fatir melihat sosok Tuyul yang tertawa jahat padanya.


Fatir yang sedari awal sudah emosi langsung naik pitam.


“Setan sialan!” Fatir yang telah bosan di ganggu menendang Tuyul itu sebanyak dua kali.


Buk buk!


Ratih yang melihat itu terkejut, sebab kekasihnya dapat menghajar hantu.


“Apa kau yang menyembunyikan batu ku?!” Fatir yang tak ada takutnya lagi mengambil secara paksa batu hijaunya dari genggaman si Tuyul.


“Hiks... dasar manusia kejam!” Tuyul yang memiliki sifat seperti anak kecil itu menangis sesungukan.


“Bicara lagi ku bunuh kau!” pekik Fatir.


Si Tuyul iseng itu pun menghilang dengan karena tak ingin di aniaya Fatir lagi.


Saat batu hijau itu telah ada di genggaman Fatir, secara ajaib lampu di rumah itu pun menyala. Kemudian Fatir dan Ratih melihat satu sama lain.


“Ayo pergi!” Fatir mengajak kekasihnya untuk keluar dari kontrakan angker kekasihnya.


“Cepat naik, Ratih.” Fatir merasa jika ada yang mengejar mereka.


“Iya sayang!” setelah Ratih sudah dalam posisi nyaman. Fatir pun melajukan motornya.


Bremmm!!!


Awal mula perjalanan mereka masih melihat kendaraan lalu lalang di sebelah mereka.


Namun mendekati jalan bekas PT yang sudah terbengkalai, Fatir dan Ratna tak bertemu dengan kendaraan apapun lagi.


Bahkan tak ada suara yang terdengar kecuali bunyi kenalpot motor Fatir.


“Sayang.” Ratih memeluk Fatir dengan erat.


“Iya, kenapa sayang?” sahut Fatir.


“Sepertiya dari tadi kita enggak ketemu mobil atau motor sayang,” ujar Ratih.


“Mungkin karena masih menjelang subuh,” ucap Fatir.


Ia belum tahu kalau mereka sedang dalam masalah baru.


“Sekarang kita mau kemana sayang?” Ratih bingung, karena ia tak mengenali area jalan yang sedang di tuju Fatir.


“Ke rumah kakek yang memberi batu itu pada ku,” ucap Fatir.

__ADS_1


“Baiklah.” Ratih setuju dengan apa yang di katakan kekasihnya.


Namun mereka yang telah lama ada di atas motor tak kunjung sampai ke rumah kakek tua itu.


“Apa rumahnya masih jauh sayang?” tanya Ratih yang tak tahu letak rumah sang kakek tua.


“Enggak, tapi anehnya kita enggak sampai-sampai dari tadi.” Fatir curiga jika mereka di sesatkan oleh para lelembut yang sedang hobi menggangu mereka.


“Jalan ini benar apa enggak yang? Setahu ku di daerah kita enggak ada hutan selebat ini, dan sepanjang perjalanan enggak ada habis-habisnya sayang.” Ratih menjadi resah akan keselamatan mereka.


Saat keduanya masih dalam ketegangan, tiba-tiba sebuah mobil Avanza melintas dengan sangat cepat di sebelah mereka.


Melihat mobil pribadi tersebut hati Fatir dan Ratih pun merasa tenang.


“Ternyata kita hanya salah sangka,” ucap Ratih.


“Iya, kau benar,” ujar Fatir.


“Apa masih jauh sayang?” tanya Ratih, karena ia sudah terlalu pegal duduk di atas


motor.


“Aku juga kurang tahu pasti, karena waktu itu aku ke rumah si kakek tanpa di sengaja, dan saat itu aku sedang melamun,” terang Fatir.


“Benarkah?” hati Ratih tambah tak tenang, karena Fatir sendiri tak tahu jalan ke rumah kakek tua itu.


“Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Fatir menyakinkan kekasihnya, meski ia sendiri ragu.


Kemudian Fatir terus mengemudi motornya mengikuti jalan yang terbentang lurus di hadapan mereka.


Hingga satu jam berlalu, keduanya tak kunjung sampai ke tujuan, bahkan mereka tak pernah bertemu dengan rumah warga selama menyusuri jalan yang gelap gulita tanpa penerangan itu.


Fatir yang kelelahan melihat ke arah indikator bensin motornya.


“Ada apa sayang?” tanya Ratih.


“Bensin sisa satu garis lagi.” Fatir pun memberhentikan motornya di pinggir jalan.


“Apa yang harus kita lakukan sayang?” Ratih takut jika mereka dapat gangguan di jalan sunyi itu.


“Ayo minta petunjuk pada Allah.” Fatir mengajak kekasihnya untuk berdo'a.


“Oke sayang.” Ratih dan Fatir pun menadahkan tangan mereka, kemudian Fatir memimpin do'a.


“Ya Allah, saat ini kami sedang kesulitan, tak tahu jalan pulang, tolonglah ya Allah, lindungi kami dari segala marabahaya, dan tunjukkan kami jalan yang benar, bantu kami ya Rahman, aamiin.” baru saja mereka selesai memanjatkan do'a.


Tiba-tiba cahaya mobil menyinari jalan tanpa listrik itu.


Ratih dan Fatir pun menoleh ke arah mobil yang akan melintas dari hadapan mereka.


Sung....!!!


Mobil Avanza hitam melintas dengan sangat cepat. Ratih pun melihat mobil itu dengan seksama.


Enggak mungkin mobil yang tadi kan? batin Ratih.


“Ayo sayang, kita ikuti mobil itu,” ucap Ratih.


“Iya sayang.” Fatir pun menyalakan mesin motornya, selanjutnya melaju dengan kecepatan penuh mengejar mobil yang telah jauh di hadapan mereka.


“Itu dia sayang mobilnya!” seru Ratih.

__ADS_1


Mereka yang memiliki sedikit harapan untuk menemukan jalan keluar merasa bersemangat.


Namun saat motor mereka berjalan tepat di belakang mobil tersebut.


Fatir dan Dia sama-sama melihat dari cahaya lampu motor, kalau mobil pribadi yang ada di hadapan mereka melaju tanpa menginjak jalan aspal.


Deg!


Jantung keduanya berdetak dengan sangat kencang. Belum lagi saat mobil itu berjalan dengan sangat pelan.


“Cepat salib sayang!” desak Ratih. Karena ia tahu itu mobil jadi-jadian.


Saat Fatir akan melakukannya, mobil Avanza itu justru melaju lebih kencang.


Sung....


“Ya Allah, kita harus bagaimana?!” Ratih makin panik.


“Tenang Ratih, yang penting baca do'a.” Fatir terpaksa tegar, agar kekasihnya tak khawatir berlebihan.


“Baik sayang.” Ratih terus berdo'a dalam hatinya, semoga yang kuasa menyelamatkan mereka dari segala marabahaya.


Saat keduanya masih di selimuti rasa takut, tiba-tiba mobil Avanza horor yang membuat mereka ketakutan sudsh ada di sebelah mereka.


“Akh!!!” Fatir yang terkejut tanpa sengaja membawa motornya keluar dari jalur.


Brubuk!


Fatir dan Ratih terlempar dari motor. Kegelapan malam yang membutakan mata membuat Ratih yang masih sadar diam mematung.


Karena ia mendengar ada seorang wanita memanggil namanya dengan suara yang lirih.


“Ratih... Ratih... apa kau disitu?” suara itu berhasil membuat Ratih berlinang air mata tanpa suara.


Fatir, kau dimana? batin Ratih.


Suara Fatir yang tak terdengar membuat Ratih sadar, kalau ia dan sang kekasih berada di tempat yang berbeda.


“Ratih... kenapa diam saja? Pada hal aku melihat mu loh, hihihihi...” wanita misterius itu tertawa melengking.


Deg deg deg!


Jantung Ratih berdetak dengan sangat kencang.


Ia yang ingin bangkit dari tanah harus terhalang, sebab kakinya terkilir.


Srak... srak... srak..


Kedua telinga Ratih pun mendengar seseorang berjalan di antara rerumputan yang ada di sebelahnya.


Tubuh Ratih pun bergetar dengan hebat, saat rerumputan yang berisik tadi tiba-tiba hening.


Ia yang tak dapat melihat apapun menyulitkannya untuk mengetahui apakah wanita misterius itu ada di hadapannya atau tidak.


Ratih yang takut memejamkan matanya, berharap semua hanya mimpi.


“Ratih, ikut aku yuk! Tempat mu bukan disini...” ucap si wanita seraya menyentuh ujung kaki sampai puncak kepala Ratih.


“Akkkhhhh!!!!” Ratih berteriak sekencang-kencangnya.


“Berisik!” si wanita misterius mencabut lidah Ratih dengan secepat kilat.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2