Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Kawin


__ADS_3

Angga yang tidur nyenyak tidak menyadari kalau ia tidur bersama ular berbisa.


Sulas yang lewat dari kamar putranya tanpa sengaja melihat kulit ular di dekat pintu kamar Angga.


“Mana mungkin ada ular disini?” Sulas tak percaya, sebab pagar rumahnya di lindungi oleh tegangan listrik.


Sulas pun memungut kulit ular tersebut, “Apa ular itu masih ada di dalam rumah?.” Sulas khawatir kalau ada yang tergigit oleh ular itu.


Lalu Sulas membuka handle pintu kamar anaknya, untuk memastikan anaknya baik-baik saja.


Krieett!!!


Saat pintu kamar telah terbuka lebar, Sulas kaget bukan main, karena ia menyaksikan anaknya tidur dengan posisi di lilit ular king kobra dengan ukuran yang sangat besar.


“Astaghfirullah!” Sulas berpikir jika anaknya sudah tiada.


Siluman ular yang melihat kedatangan Sulas langsung memberi peringatan dengan mengangkat lehernya tinggi-tinggi dan mengembangkan kepalanya.


Sssttt!!!


Siluman ular itu menjulurkan lidahnya dan membuka mulutnya.


“A-ayah!!!!” suara Sulas bergetar saat memanggil suaminya.


Angga yang mendengar teriakan ibunya langsung membuka matanya.


“Ibu kenapa?” tanya Angga seraya bangun dari tidurnya.


“I-itu!” mata Sulas membulat sempurna saat ular yang melilit anaknya hilang entah kemana.


“Ada apa bu?” Rahmat datang dengan langkah tergesah-gesah.


“Tadi ibu lihat ada ular king kobra besar melilit Angga yah.” Sulas yang ketakutan mengeluarkan keringat dingin.


“Ibu pasti berhalusinasi, mana mungkin ada ular di rumah kita.” Rahmat tidak percaya dengan apa yang di katakan istrinya


“Ayah! Ibu tidak bohong!!” Sulas marah karena suaminya tidak serius menanggapi perkataannya.


“Ibu... mana mungkin ada ular, kalau ada pasti masih di sekitar sini.” Angga pun turun dari ranjangnya, lalu mencari ular yang di katakan ibunya ke setiap sudut kamarnya.


“Benarkan, enggak ada.” Angga geleng-geleng kepala.


“Masa sih ibu salah lihat, ular itu sempat mau melawan yah sama ibu.” Sulas mengatakan apa yang ia saksikan.


“Mungkin hanya perasaan ibu saja.” Rahmat yang ingin melanjutkan pekerjaannya, kembali ke ruang kerjanya.


Sulas yakin dengan apa yang ia lihat, ia pun masuk ke dalam kamar anaknya.


“Angga, kemarin saat baru sampai rumah, kau mandi apa enggak?” tanya Sulas penuh selidik.


“Enggak bu, aku lupa.” Angga baru ingat akan hal itu.

__ADS_1


“Angga! Masa hal sepenting itu kau bisa lupa, jangan-jangan makhluk gunung sana ada yang ikut dengan mu lagi!” Sulas curiga kalau ada yang menempel pada anaknya.


“Terus aku harus bagaimana bu?” Angga tak ingin ada urusan dengan penghuni gunung keramat itu lagi.


“Kita ke tempat paman Raja. kita minta batuannya untuk membersihkan dirimu!” ucap Sulas.


“Kapan bu?” tanya Angga.


“Sekarang juga.” Sulas ingin segera melindungi anaknya.


“Baiklah, kita sekalian pergi ke rumah Ali, untuk mengembalikan mobil,” ujar Angga.


“Ya sudah, bersiap-siaplah, ibu tunggu di luar.” setelah itu Sulas pun keluar dari kamar anaknya.


Angga yang ingin cuci muka bangkit dari duduknya.


Iya yang akan menuju kamar mandi kembali mendapati rambut di ranjangnya.


Deg!


Seketika jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Terlebih saat Angga menemukan sisik ular berwarna hitam pekat di antara tumpukan rambut itu.


“Ya Tuhan!” Angga yang ingin berobat menuju kamar mandi, setelah itu ia buru-buru keluar dari dalam kamarnya.


Sulas yang telah menunggu di ruang tamu melihat kehadiran anaknya.


“Ayo!” Sulas keluar dari dalam rumah yang di susul oleh Angga.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, lalu Angga menyalakan mesin mobil Ali.


“Akhh!!!” Angga dan Sulas berteriak secara bersamaan.


“Angga, Jalan!! Tancap Gas!!” titah Sulas.


Angga yang telah muak pun menginjak gas, meski ular itu tak mau pergi, Angga tidak perduli.


“Sialan!” umpat Angga.


Ia pun menyetir dengan sangat brutal, namun siluman ular itu seolah lengket di bagian kaca mobil.


Jantung Sulas bergetar tak karuan dengan ular yang selalu memberi sinyal mengancam.


Setelah bersusah payah, akhirnya mereka tiba di rumah Raja, paman dari Sulas.


Mereka yang takut, langsung menelepon Raja, karena kini siluman ular itu bergelantungan di kaca spion yang ada di dekat pintu sebelah Angga.


Assalamu'alaikum paman, tolong bantu kami untuk mengusir ular yang ada di mobil kami. 📲 Sulas.


Walaikumsalam, baiklah! Paman akan keluar sekarang! ✉️ Raja.


Tidak lama Raja keluar dari dalam rumah, melihat siluman ular itu Raja langsung mengucap do'a.

__ADS_1


Siluman ular itu langsung turun dari atas mobil Ali, lalu menuju Raja yang terus melapal kan do'a seraya memegang garam di tangan kanannya.


Ssstt!!


Siluman ular itu berdiri dan mengembangkan kepalanya.


“Kalau kau tidak pergi, maka aku akan membunuh mu, jangan ganggu cucu ku!” pekik Raja.


Lalu si ular pun menjawab dengan bahasa batin.


Aku mencintainya, jangan macam-macam! Karena dia akan ku jadikan ayah untuk anak-anak ku! Kalau kau berani ikut campur, kau akan mati! si siluman ular malah mengancam Raja.


“Laknat! Kau dan cucu berbeda ras dan alam, pergilah!” Raja yang murka kembali komat kamit, garam yang ada di tangannya pun bergetar.


Kemudian Raja melempar tumpukan garam kasar itu ke tubuh si ular.


Sontak siluman ular itu merasa kesakitan. Wujudnya pun berubah-ubah menjadi manusia dan ular.


Angga yang melihat keadaan telah aman keluar dari dalam mobil begitu pula dengan Sulas.


Delima yang datang dari rumah membawa parang.


“Cepat tebas!” ucap Delima.


Lalu Raja tanpa ragu memenggal leher ular tersebut hingga terpisah.


Zaarrr!!!


Darah ular siluman itu merembes kemana-mana.


“Apa tidak apa-apa kalau di bunuh kek?” tanya Angga, ia takut jika keluarga siluman ular itu menuntut balas.


“Kalau di biarkan hidup, maka kau akan menjadi seorang ayah,” ucap Raja.


“Maksudnya bagaimana kek?” Angga tidak mengerti dengan apa yang di katakan kakeknya.


“Kalian telah kawin, dan kalau di biarkan hidup, dia akan mengandung anak-anak mu, memangnya kau mau punya anak ular?” ujar Raja.


Sontak Angga merasa geli, ia juga tak sadar kalau sudah berhubungan dengan ular itu.


“Terimaksih kek, sudah membatu ku bebas dari siluman itu.” Angga merasa lega karena ular siluman itu telah mati.


Setelah ular siluman itu sudah tak bergerak lagi, Raja pun membungkusnya dengan kain hijau dan mengikatnya dengan tali plastik hitam.


“Kalian masuklah ke dalam rumah, aku mau membakar ular ini dulu,” ucap Raja.


“Baiklah kek.” Angga, Sulas dan Delima pun masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.


Angga dan ibunya pun duduk di atas sofa, sedang Delima mengambil minum untuk Angga dan Sulas.


10 menit kemudia, Raja masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Untung kalian datang tepat waktu, siluman itu sangat ganas, tapi ilmunya kurang saat telah meninggalkan area kekuasaannya,” terang Raja.


...Bersambung......


__ADS_2