
“Ratih!!!!” Fatir bangun dari pingsannya.
Ia pun celingak-celinguk melihat kesekitarnya.
“Kau sudah bangun?” ucap si kakek yang tak asing di mata Fatir.
“Kakek! Bagaimana aku bisa ada disini?” tanya Fatir seraya memegang kedua lengan si kakek.
“Jin Korin ibu mu memberitahu ku kalau kau dalam bahaya, dia meminta agar aku menyelamatkan mu,” terang si kakek.
“Ratih! Dia ada dimana?” Fatir sangat mengkhawatirkan kekasihnya.
Si kakek pun menyeruput kopi tanpa gulanya. Ia merasa berat untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada Fatir.
“Kek! Beritahu aku! Ratih ada dimana, kek!” mata Fatir memerah, ia yang telah menyaksikan kematian keluarganya tak dapat menerima apabila sang kekasih harus tiada karenanya juga.
“Jiwanya telah di bawa oleh Asrita ke alam lain, aku tidak bisa menyelamatkannya.” wajah si kakek nampak menyesal karena gagal membawa Asrita pulang.
“Kek, ayo selamatkan Ratih! Aku tak bisa menghadapi keluarganya kalau bertanya pada ku!” Fatir yang panik menjadi hilang kontrol.
“Fatir!!” Suara si kakek yang melengking membuat Fatir diam.
“Bukannya aku sudah bilang, batu itu butuh getih! Jangan sampai berpindah tangan, apa kau mendengar apa yang ku katakan?!” si kakek marah pada Fatir yang ceroboh.
“Aku tidak lupa kek, tapi siapa yang tahu kalau Ratih akan mengambil batu itu diam-diam!” Fatir meremas wajahnya dengan tangannya.
“Berarti dia yang mengundang petaka itu sendiri, jangan salahkan aku Fatir, karena aku niatnya hanya untuk membantu mu.” sikap si kakek yang tegas membuat Fatir diam.
“Kek, apa tidak bisa kau menyelamatkannya? Berapapun akan ku bayar.” Fatir tak ikhlas jika kehilangan Ratih.
“Fatir, relakan saja, harusnya kau bersyukur masih bisa melihat dunia yang terang benderang ini.” si kakek pun menyuguhkan Fatir kopi.
“Aku enggak haus kek.” namun Fatir menolak pemberian si kakek.
“Fatir, keberuntungan mu sudah habis, jadi kalau kau masih cari perkara, mungkin nyawa mu akan melayang.” si kakek memperingati Fatir agar tak berbuat yang aneh-aneh.
“Biarkan Ratih menggantikan mu menjadi budak nyai Putri Candra Wati, kau pasti enggak tahu betapa menderitanya jadi seorang budak disana.” si kakek yang telah selesai minum kopi bangkit dari duduknya.
“Pulanglah, jangan sampai kau kemalaman, setelah dari sini kau harus mandi wajib!” wajah si kakek yang selalu serius membuat Fatir tak nyaman.
“Baiklah, aku mengerti kek.” si kakek yang tak mau membantu membuat Fatir paham, kalau masalah yang mereka hadapi kali ini bukan perihal mudah.
Fatir pun pulang dengan keadaan hampa, air matanya terus mengalir.
Maafkan aku Ratih, batin Fatir.
🏵️
Ratih yang baru membuka mata merasa heran. Karena kedua kakinya telah di ikat dengan rantai.
“A-aku ada dimana?!” Ratih yang kebingungan menoleh ke sekitarnya.
__ADS_1
Ia pun melihat banyak orang yang sama sepertinya.
“Cepat bekerja!” teriak seorang penjaga bertubuh ular berkepala manusia.
Ratih yang baru pertama kali melihat para siluman secara langusung tak bisa berdiri dengan benar.
Bruk!!
Ratih terjatuh ke tanah, kakinya lemah tak berdaya, apa lagi sosok ular besar itu begitu mengerikan dimatanya.
Buk!!
“Sakit!!” Ratih meringis, karena ada yang menendang punggungnya.
Saat Ratih menoleh ke belakangnya, ia pun melihat manusia berkepala banteng.
“Sedang apa kau! Cepat bekerja!” siluman banteng itu menunjuk ke arah tumbukan batu yang menggunung.
“Aku harus apa?” tanya Ratih dengan suara yang bergetar.
“Angkat, lalu bawa kesana.” titah sang siluman banteng.
“Aku enggak bisa.” Ratih yang tak biasa kerja berat tak sanggup melakukan pekerjaan itu.
“Pasti bisa!” siluman banteng yang kesal mencambuk punggung Ratih.
“Akkh!! Hentikan!!” Ratih yang kesakitan mau tak mau melakukan pekerjaan paksa itu.
Ia yang berulang kali menjatuhkan batu yang ia angkat harus mendapat cambukan dari para pengawal yang mengawasi para bekerja ditempat itu.
Makan malam saat itu adalah belatung hidup dan bangkai ayam hutan.
Ratih yang datang dari alam manusia tentu tak suka dengan menu yang di sajikan.
“Makan saja, karena hanya itu yang tersedia,” ucap seorang gadis yang duduk di sebelah Ra.
“Aku tak biasa memakan ini,” ucap Ratih.
“Kita yang ada disini sebagian besar adalah bangsa manusia.” pernyataan si gadis
membuat Ratih penasaran akan gadis itu.
“Kau juga?” tanya Ratih.
“Iya, nama ku Rita.” Rita pun mengulurkan tangannya pada Ratih.
“Aku Ratih, kenapa kau bisa ada disini?” tanya Ratih lebih lanjut.
”Ceritanya panjang, intinya aku serakah, mengambil barang yang bukan milik ku.” kejujuran Rita membuat Ratih merasa tersindir. Karena ia juga melakukan hal yang sama.
“Sudah berapa lama kau disini?” ucap Ratih.
__ADS_1
“Entahlah, aku tidak tahu tanggal dan waktu sejak berada disini.” wajah dan tubuh Rita yang kurus kering menggambarkan penderitaannya selama ini.
Ya Allah, apa nasib ku akan berakhir disini selamanya?” mata Ratih tak hentinya mengeluarkan buliran air mata.
Ia yang belum menyatu dengan tempat itu tak menyentuh sama sekali makanan yang di sajikan.
“Pangeran dan nyai Ratu datang!!” pemberitahuan besar itu membuat para budak berdiri.
Mereka yang belum selesai mengisi perut harus menyaksikan kedatangan penguasa tempat itu.
Saat Ratih melihat ke wajah pangeran yang semua orang hormati, Ratih tersentak.
“Ali...” gumamnya.
“Kau tahu dia?” Rita tidak menyangka kalau ada yang mengenal Ali selain dirinya.
“Diakan cowok populer di kampus,” ujar Ratih.
Rita pun menatap kembali Ali yang berada di atas kereta kuda bersama nyai Putri.
“Istana ini harus selesai sebelum bulan purnama datang, karena aku akan membuat perayaan besar, semua tamu ku harus melihat betapa megahnya kerjaan milik ku!” permintaan dari nyai Putri membuat semua budak menderita.
Ketika nyai Putri akan melanjutkan permintaannya, tiba-tiba Rahman datang bersama dua sahabat seperguruannya.
Rahman yang terus berzikir membuat para setan yang ada di tempat tak nyaman.
“Untuk apa kau kesini manusia laknat?!” pekik nyai Putri.
“Untuk menjemput seorang gadis yang kau culik,” ucap Rahman.
“Tidak ada yang boleh pergi setelah menginjakkan kakinya disini!” nyai Putri marah akan niat yang akan Rahman.
“Jangan buat aku meluluh lantakan tempat ini, aku hanya ingin menjemputnya, dan hentikan penculikan jiwa manusia yang kalian sesatkan, kalau tidak!”
Prak!
Rahman melempar tongkat yang ada di tangan kirinya ke kereta kuda nyai Ratu.
Brubuk!
“Terkutuk!” Nyai Putri marah karena Rahman menjatuhkan keretanya ke tanah.
“Itu baru awal, karena kalau kau tak mau bekerja sama, maka istana yang kau bangun akan ku hancurkan, kau juga akan ku musnahkan!” pekik Rahman.
“Coba saja kalau kau berani!” nyai Putri yang merasa paling kuat menantang Rahman.
Rahman pun melafalkan beberapa do'a, tak lama istana dari bagian depan nai Putri runtuh.
Brrruuukkk!!!
Sontak nyai Putri menjadi gentar. Sementara Ali yang menyaksikan peristiwa itu merasa senang, karena ia sendiri berharap kalau semua jiwa manusia yang ada di sana terbebas.
__ADS_1
“Sialan! Manusia tak tahu diri.” nyai yang marah langsung berubah jadi ular king kobra raksasa.
...Bersambung......